Blogroll

website hit counter
website hit counters

website traffic stats

3.07.2009

teater delik

Lena Tak Pulang
Karya : Muram Batubara
(JUARA 1)
SATU

LAMPU MENYALA.
DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. PAK LENA DUDUK MEMANDANG TV. BU LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.

Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?
Pak Lena
Belum
Bu Lena
(Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah tiga hari ia tidak pulang.
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Sudah tiga hari
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Ya, tapi belum juga pulang, padahal sudah tiga hari. Dia itu kan perempuan.
Pak Lena
(Tetap memandang tv) Anak kita
Bu Lena
Iya, anak kita, tapi ia perempuan dan belum pulang tiga hari.



Pak Lena
Nanti juga pulang sendiri ketika bekalnya lari telah habis.
Bu Lena
Tidak segampang itu, Pak, ia itu perempuan!
Pak Lena
Jika memang ia perempuan, ia akan pulang.
Bu Lena
Tapi belum…(Menghentikan kalimat, memperhatikan pintu keluar rumah)
Ada yang datang, sepertinya itu Lena, anak kita, pulang juga ia setelah tiga hari tidak pulang.
Pak Lena
Bukan, pasti temannya datang mencari.
Bu Lena
Pasti Lena
Pak Lena
Berani taruhan
Bu Lena
Taruhan apa?
Pak Lena
Jika bukan Lena, lebaran tahun ini kita pulang ke rumah orang tuaku.
Bu Lena
Tapi tahun kemarin sudah
Pak Lena
Itu karena kau kalah taruhan
Bu Lena
Ya tidak bisa, bayangkan dalam lima tahun ini kita tidak pernah pulang ke rumah orang tuaku.
Pak Lena
Berani taruhan tidak?




Bu Lena
(Bingung) Ehm…
Pak Lena
Dengar langkah itu sudah semakin dekat.
Bu Lena
Baik

TERDENGAR KETUKAN PINTU. BU LENA MEMBUKA PINTU. KECEWA.

Tamu I
Permisi Tante, Lenanya ada?
Bu Lena
Oh tidak ada, dia belum pulang.
Tamu I
Belum pulang? Pergi ke mana ya Tante?
Bu Lena
Tante juga tidak tahu tuh, kamu tahu tidak?
Tamu I
Ya, kalau tahu saya tidak datang Tante.
Bu Lena
Iya juga ya. Hm, kamu teman sekolahnya ya?
Tamu I
Bukan Tante, saya teman…
Pak Lena
(Memotong) Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.
Tamu I
Terima kasih Om, saya harus kembali pulang.
Pak Lena
Kenapa buru-buru?




Tamu I
Ada yang harus buru-buru saya lakukan
Bu Lena
Jika buru-buru, kenapa mencari Lena?
Tamu I
Ya itu dia, Tante. Karena Lenalah saya harus buru-buru?
Pak Lena
Masuk dulu jangan buru-buru
Bu Lena
Iya masuk dulu
Tamu I
Maaf tidak bisa, saya permisi dulu.

BU LENA MENUTUP PINTU. DUDUK DI RUANG TV.

Pak Lena
Siapa namanya?
Bu Lena
Siapa?
Pak Lena
Yang tadi?
Bu Lena
Teman Lena
Pak Lena
Iya, teman Lena tadi namanya siapa?
Bu Lena
Berarti tahun ini kita pulang ke rumah orang tuamu lagi?
Pak Lena
Jelas! Siapa nama teman Lena tadi!


Bu Lena
Sudahlah ke rumah orang tuaku saja. Kasihan ibu sudah semakin tua, dia ingin melihat kita sekeluarga kan?
Pak Lena
Tidak bisa! Kesepakatan telah tercipta, tidak bisa dirubah. Jika terus dirubah, bagaimana menjalankan kesepakatan itu dan untuk apa membuat kesepakatan jika tidak ada kepastian untuk dilakukan. Siapa nama teman Lena tadi?
Bu Lena
Nggak tahu.
Pak Lena
Loh
Bu Lena
Kok loh
Pak Lena
Ya, loh, bagaimana mungkin kamu tidak menanyakannya?
Bu Lena
Kenapa bukan kamu?
Pak Lena
Aku kan sedang nonton tv dan aku tidak sedang berhadapan langsung dengannya.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Pak Lena
Ada yang ketuk pintu, bukahlah.
Bu Lena
Bagaimana jika Lena?
Pak Lena
Ya tetap dibuka pintu kan?




TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Bu Lena
Bukan itu, jika bukan Lena, perjanjian tadi batal.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Pak Lena
Bukalah pintu itu, kasihan tamunya.
Bu Lena
Buat satu kesepakatan baru dulu.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Bu Lena
(Teriak ke arah pintu) sebentar ya, lagi menunggu kesepakan nih, sabar ya.
Pak Lena
Ya sudah, buka sana.
Bu Lena
Kesepakatan?
Pak Lena
Yah!

PINTU TERBUKA. BU LENA PUAS. PERBINCANGAN DI DEPAN PINTU MASUK RUMAH.

Tamu II
Kesepakatan apa Tante?





Bu Lena
Ah, tidak. Kamu siapa dan ada apa?
Tamu II
Saya temannya Lena, Tante, kebetulan saya sedang main di daerah sini.
Bu Lena
Terus
Tamu II
Ya, terus saya mampir. Karena kebetulan saya sedang main di daerah sini, jadi saya mampir ke sini, Tante.
Bu Lena
Terus
Tamu II
Ya, karena itu Tante, hm, Lenanya ada?
Bu Lena
Jadi karena kebetulan main di daerah sini, kamu mampir dan mencari Lena?
Tamu II
Benar itu Tante.
Bu Lena
Karena kebetulan?
Tamu II
Sebenarnya tidak Tante.
Bu Lena
Yang benar yang mana?
Tamu II
Saya memang mencari Lena, Tante.
Bu Lena
Karena main di daerah sini?
Tamu II
Tidak Tante, saya memang sengaja kemari untuk mencari Lena. Sumpah, Tante.
Pak Lena
(Memotong) Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.


TAMU II MASUK DAN DUDUK DI RUANG TV. BU LENA MASUK DAPUR.

Tamu II
Nonton berita ya, Om?
Pak Lena
Tidak, cuma sedang melihat tanggapan wakil rakyat tentang bencana yang tidak berkesudahan.
Tamu II
Itukan berita namanya, Om.
Pak Lena
Itu bukan berita, itu opini. Opini itu pendapat, kebenarannya masih belum bisa diandalkan. Namanya berita harus mengutamakan kebenaran, kenyataan.
Tamu II
Tapi itukan acara berita, Om.
Pak Lena
Memang, beritanya, wakil rakyat sedang memberikan opini.
Tamu II
Berarti sedang nonton berita, Om.
Pak Lena
Tidak, saya sedang melihat opini. Ingat, opini!
Tamu II
Bedanya apa, Om?
Pak Lena
Opini itu tidak murni kenyataan, namanya juga pendapat, sedang berita itu nyata, kenyataan tadi. Begini, kucing ditabrak mobil, itu berita.
Tamu II
Kalau opini?
Pak Lena
Mengapa kucing itu mau ditabrak?




Tamu II
Mungkin saja ia tidak melihat mobil yang laju, tiba-tiba saja ia sudah bersimbah darah.
Pak Lena
Itu dia opini.
Tamu II
Opini?
Pak Lena
Ya, opini kamu. Lihat omongan wakil rakyat itu, semuanya serba mungkin kan?
Tamu II
Jadi yang serba mungkin itu bukan berita?
Pak Lena
Mungkin kok berita. Mungkin itu kan belum jelas sedang berita adalah yang jelas dan pasti.
Tamu II
Tapi apa yang pasti di jaman sekarang, Om?
Pak Lena
Ya, opini.

BU LENA KELUAR DAPUR MEMBAWA TEH DALAM GELAS MENUJU KULKAS. MEMBUKANYA.

Tamu II
Tidak usah yang dingin, Tante, lagi batuk.
Bu Lena
Mau puding?
Tamu II
Boleh, Tante.
Bu Lena
Tapi dingin?



Tamu II
Tidak apa-apa, Tante, kan cuma puding.

BU LENA KE RUANG TV DAN MELETAKKAN SAJIAN KEMUDIAN KEMBALI MENUJU DAPUR.
Pak Lena
Kamu temannya Lena?
Tamu II
Benar itu, Om.
Pak Lena
Teman dari mana?
Tamu II
Ya teman saja, Om, tidak dari mana-mana.
Pak Lena
Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, atau malah dari kelas mengaji?
Tamu II
Untuk yang terakhir tampaknya bukan, Om.
Pak Lena
Mengapa? Apa karena sudah pintar mengaji?
Tamu II
Tidak Om, saya non muslim.
Pak Lena
Oh begitu, terus dari mana?
Tamu II
Saya teman Lena dari tempat nongkrong, Om.
Pak Lena
Seingat saya Lena tidak mengambil les nongkrong.
Tamu II
Om, lucu juga. Tempat nongkrong itu tempat kita kumpul-kumpul, ya, istilah kerennya berbincang atau berdiskusi.



Pak Lena
Oh begitu, tapi yang nongkrong itu kan tentunya berasal dari tempat tertentu. Nah, kamu itu selain teman nongkrong Lena, teman di mana?
Tamu II
Ya tidak ada, Om. Saya cuma teman Lena di tempat nongkrong.
Pak Lena
Terlalu tipis, pertemanan itu belum begitu kuat. Hm, lalu maksud kamu mencari Lena?
Tamu II
Ya itu dia Om, saya ingin tahu tentang apa yang terjadi dengan Lena. Sudah tiga hari ia tidak muncul, Om.
Pak Lena
Memangnya kenapa kalau ia tidak muncul dalam tiga hari?
Tamu II
Ya itu dia, Om.
Pak Lena
Apa?
Tamu II
Ehm, dia bawa sesuatu yang penting, Om. Sesuatu yang sangat saya banggakan.
Pak Lena
Oh begitu. Penting sekali?
Tamu II
Sangat penting malah, Om.
Pak Lena
Lena mengambilnya dari kamu?
Tamu II
Begitulah Om, saya malah tidak tahu bagaimana bersikap jika tidak ada kabar dari Lena.



Pak Lena
Banyakkah?
Tamu II
Ya kalau besar itu dianggap banyak, ya, banyak Om.
Pak Lena
Begini saja, kamu pulang dulu, besok kamu kembali lagi. Yang kamu punya itu pasti akan kembali.
Tamu II
Tapi Lenanya bagaimana Om?
Pak Lena
Itu urusan saya.
Tamu II
Kalau memang begitu, tentunya dengan ada kepastian dari Om, saya menjadi yakin untuk datang besok.
Pak Lena
Ya, ya, pulanglah.

TAMU II PERGI, BU LENA MASUK.

Pak Lena
Anakmu membawa lari uang temannya?
Bu Lena
Bagaimana bisa?
Pak Lena
Temannya yang datang tadi, yang terlalu banyak bicara itu, melaporkan apa yang telah dilakukan anakmu.
Bu Lena
Anak kita




Pak Lena
Ya, anak kita. Pencuri.
Bu Lena
Belum tentu benar, jangan terlalu banyak percaya dengan orang yang terlalu banyak bicara.
Pak Lena
Tapi bagaimana bisa kita percaya dengan orang yang sedikit bicara, dari mana kita tahu isi kepalanya jika tidak dikeluarkannya.
Bu Lena
Terlalu banyak bicara malah menghilangkan kata-kata kunci, kata yang seharusnya bisa menjadi andalan.
Pak Lena
Tanpa bicara, kata kunci itu malah tidak keluar, bagaimana bisa ia tampak?
Bu Lena
Tetapi mengapa kau begitu percaya dengan anak ingusan yang terlalu banyak bicara itu?
Pak Lena
Karena tampaknya benar, sudah tiga hari Lena pun tidak muncul di tempat biasa mereka bertemu.
Bu Lena
Bagaimana jika benar?
Pak Lena
Kita harus menggantinya, tidak bisa tidak, Lena kan anak kita.
Bu Lena
Jika tidak benar?
Pak Lena
Mau taruhan?

LAMPU PADAM




DUA

LAMPU MENYALA. DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. PAK LENA DUDUK MEMANDANG TV. BU LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.

Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?
Pak Lena
Belum
Bu Lena
(Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah empat hari ia tidak pulang.
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Kemarin kau jawab seperti itu juga, tidak kemarin saja, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi juga.
Pak Lena
Terus harus bagaimana? Berteriak, mengabarkan pada semua orang bahwa anak kita yang perempuan tidak pulang dalam empat hari ini. Bagaimana kata dunia? Apa kata mereka pada kita? Orang tua yang tidak bertanggung jawab?
Bu Lena
Tampaknya kita memang tidak bertanggung jawab.
Pak Lena
Kok bisa?
Bu Lena
Lihatlah sendiri! Apa yang kita lakukan pada anak kita? Empat hari, bayangkan empat hari anak kita tidak pulang, tidak ada usaha kita untuk mencarinya.
Pak Lena
Menunggu juga mencari.


Bu Lena
Menunggu itu pasrah
Pak Lena
Tidak sama, pasrah itu tanpa berbuat. Mununggu itu kan berbuat, sama seperti berdoa.
Bu Lena
Apa yang dilakukan dalam menunggu? Diam memandang tv atau sibuk berbincang tanpa tujuan?
Pak Lena
Jika kita ke kantor polisi dan melaporkan kehilangan anak, terus apa yang kita lakukan? Menunggu kan? Menunggu kabar dari pak polisi itu. Dan dalam menunggu kabar dari pak polisi, kita juga menonton tv atau berbincang kemana suka kan? Sama saja.
Bu Lena
Beda
Pak Lena
Apanya yang beda? Jika kita memasang iklan tentang kehilangan, sama juga seperti melapor ke polisi. Jika kita mencari sendiri, sama juga dengan menunggu kabar kan? Kita mencari itu tanpa tujuan, kita tidak tahu di mana anak kita berada, jadi sama juga dengan nol. Kita tetap juga menunggu. Daripada kita memutari kota, tentunya habis energi, toh lebih baik kita di rumah. Semuanya itu berarti menunggu, mencari itu juga menunggu. Menunggu juga mencari. Jelas!
Bu Lena
Pusing aku. Jika kita tahu di mana Lena berada kan gampang, bisa kita jemput.
Pak Lena
Itu dia kata yang tepat. Menjemput. Menjemput itu jelas beda dengan mencari atau juga menunggu.
Bu Lena
Tapi kita tidak tahu di mana Lena berada?



Pak Lena
Yah harus dicari
Bu Lena
Dengan?
Pak Lena
Ya menunggu.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Pak Lena
Bagaimana ini, ini pasti teman Lena yang banyak bicara kemarin itu.
Bu Lena
Yang uangnya Lena curi itu?
Pak Lena
Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan.
Bu Lena
Kita bayar saja
Pak Lena
Tapi kita belum ketemu Lena, bisa saja berita ini tidak benar.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Bu Lena
Jika belum benar, jangan dibayar dulu
Pak Lena
Tapi kita belum tahu mana yang benar. Kenapa Lena belum pulang juga.





TERDENGAR KETUKAN PINTU
Bu Lena
Bagaimana jika dia datang dengan polisi.

TERDENGAR KETUKAN PINTU
Pak Lena
Bukahlah pintu
Bu Lena
Kau saja
Pak Lena
Kau kan perempuan
Bu Lena
Kau kan laki-laki
Pak Lena
Perempuan duluan, atas nama kesopanan.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Bu Lena
(Teriak ke arah pintu masuk) Sebentar ya.
Pak Lena
Bukalah pintunya (Berlari kecil menuju depan tv, seakan-akan tak terjadi sesuatu)

PINTU TERBUKA. BU LENA BINGUNG.

Tamu I
Maaf Tante, Lenanya sudah pulang? Belum ya? Ya sudahlah, nanti saya datang lagi. Terima kasih Tante. Tolong nanti kalau Lena pulang, katakan saja saya mencari dan akan kembali lagi. Permisi Tante. (Pergi menghilang)



Pak Lena
Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.
Bu Lena
Sudah pulang (menutup pintu dan berjalan menuju ruang tv) tamunya sudah pulang.
Pak Lena
Tukang pos?
Bu Lena
Bukan, temannya Lena?
Pak Lena
Yang kemarin?
Bu Lena
Ya
Pak Lena
Terus dia menagih uangnya? Apa yang kau bilang hingga dia langsung pulang.
Bu Lena
Aku tidak bilang apa-apa dan dia bukan yang uangnya dicuri Lena.
Pak Lena
Jadi teman yang mana?
Bu Lena
Yang pertama datang, yang lupa kutanyakan namanya.
Pak Lena
Sudah tahu kau namanya?
Bu Lena
Belum, dia terlalu buru-buru. Belum sempat aku bicara dia sudah pergi.
Pak Lena
Tampaknya dia memang selalu buru-buru. Tunggu dulu, siapa nama teman Lena yang banyak bicara itu?





Bu Lena
Kenapa kau tanyakan aku, bukankah kau yang banyak bicara dengannya? Seharusnya kau tanyakan namanya.
Pak Lena
Itu dia, dia terlalu berlama-lama sampai aku lupa menanyakan, padahal aku sudah berhadapan langsung dengannya.
Bu Lena
Sudahlah. Setidaknya bukan dia yang datang jadi kita tidak perlu risau lagi.
Pak Lena
Untuk sementara
Bu Lena
Walau sementara, setidaknya tidak risau.





LAMPU PADAM

























TIGA

LAMPU MENYALA. DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. BU LENA DUDUK MEMANDANG TV. PAK LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.

Pak Lena
Sudah hampir sore, hari keempat sejak tidak pulang, apakah Lena tidak akan pulang lagi?
Bu Lena
Belum lima hari
Pak Lena
Hampir lima hari, lihatlah sudah mendekati senja. Jika matahari terbenam dan terbit lagi, tepat lima hari Lena tidak pulang. Apakah bekal larinya masih cukup?
Bu Lena
Mengapa kau kuatir?
Pak Lena
(Menuju pintu keluar masuk rumah, membukanya, menegok keluar dan menutupnya kembali) Belum pulang juga.

TERDENGAR KETUKAN PINTU. PAK LENA LANGSUNG MEMBUKA. TERSENYUM SENANG.

Pak Lena
Pulang juga rupanya kau Lena
Lena
Lapar (Berjalan menuju dapur, keluar lagi sambil membawa piring makanan, makan di meja makan.)



Bu Lena
(Mendekat dan langsung duduk di samping Lena) Makanlah yang banyak, tentunya kau lapar.
Pak Lena
(Mendekat dan langsung duduk di samping Lena) Dari mana saja?
Bu Lena
Jangan ditanyakan dulu, biarkan dia makan dengan tenang. Sudah hampir lima hari dia berada di luar, rindu dengan rumah ini tentunya.
Pak Lena
Banyak temanmu yang datang.
Bu Lena
Jangan dikatakan dulu, biar dia makan dengan nyaman, sudah lima hari dia di luar, banyak bertemu orang tentunya, lebih banyak dari kawannya yang datang. (Berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan botol air dingin, menuangkan ke gelas Lena) Dari mana saja kau Lena?
Pak Lena
Kenapa kau tanyakan?
Lena
Dari rumah teman (Terus makan)
Pak Lena
Temanmu yang mana? Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, kelas mengaji, atau malah teman nongkrong?
Bu Lena
Ya, yang mana?
Lena
Teman lain
Pak Lena
Masih ada temanmu yang lain rupanya.
Bu Lena
Teman yang mana?



Lena
Kenapa terlalu mengurusi sih? Bukannya selama ini aku bebas, seperti yang kalian inginkan. Mengapa kalian bertanya ketika aku menghilang, mengapa tidak mencari? Lalu, apakah kalian pernah menanyakan aku sekolah apa tidak? Dan, untuk apa les yang mahal-mahal itu, bukan untukku kan? Untuk kalian yang gila gengsi tanpa memikirkan kebutuhanku kan? (Berdiri, membawa makanan, duduk di depan tv sambil terus makan.)
Pak Lena
(Berbisik) Bagaimana ini?
Bu Lena
(Berbisik pula) Bagaimana apanya?
Pak Lena
Dia terlalu tertutup, kita harus bisa membukanya. Mengapa kita yang disalahkan? Kita kan hanya menanyakan temannya saja.(Mendekati Lena) Enak makannya?
Lena
Biasa saja
Bu Lena
(Mendekati Lena) Tentunya enak, Ibu sengaja masak untuk kamu.
Lena
Sejak kapan masak khusus? (Berjalan menuju dapur, masuk ke dalamnya)
Bu Lena
(Berbisik) Tidak berhasil. Tampaknya dia memang marah pada kita.
Pak Lena
(Berbisik pula) Kita harus lebih berusaha lagi.

LENA KELUAR DARI DAPUR TANPA MEMBAWA SEBARANG PUN. BU LENA DAN PAK LENA MENDEKAT, PERSISI MENGHALANGI JALAN LENA YANG MASIH BERADA DI DEPAN PINTU.




Pak Lena
Sudah selesai makannya?
Bu Lena
Enak kan? Pasti kenyang.
Lena
(Menghindar dan berjalan menuju kamar tidur) Mau tidur
Pak Lena
(Mengejar hingga depan pintu kamar tidur) Belum malam
Bu Lena
(Ikut mengejar) Iya, belum malam, mari kita berbincang dulu.

LENA MASUK KAMAR. PINTU TERTUTUP. BU LENA DAN PAK LENA DUDUK DI KURSI MEJA MAKAN.

Bu Lena
Apa sebab dia begitu dingin
Pak Lena
Mungkin kita terlalu kaku
Bu Lena
Kau yang kaku
Pak Lena
Mungkin kau juga.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Pak Lena
Pasti temannya yang banyak bicara itu, yang uangnya dicuri Lena, bagaimana ini? Kita belum bicara tentang itu dengan Lena.
Bu Lena
Mungkin temannya yang lain.



TERDENGAR KETUKAN PINTU
Bu Lena
Kau saja yang buka, terserah itu melangkahi kesopanan.
Pak Lena
(Malas membuka pintu, hingga sampai depan pintu, menoleh ke Bu Lena dengan bingung) Sebaiknya kau saja.

TERDENGAR KETUKAN PINTU. PAK LENA TERKEJUT DAN LANGSUNG MEMBUKA PINTU. TAMBAH TERKEJUT MELIHAT TAMU YANG DATANG.

Tamu II
Terkejut, Om.
Pak Lena
(Gagap) Tidak, tidak. Ayo masuklah.

BU LENA MENYINGKIR KE DAPUR. PAK LENA DAN TAMU II DUDUK MENGHADAP TV.

Tamu II
Saya tidak kebetulan main ke daerah sini, Om. Saya khusus datang seperti permintaan, Om, kemarin itu. Jadi rasanya tidak perlu basa-basi lagi…
Pak Lena
(Memotong) Basa-basi itu terkadang perlu. Ayolah berbasa- basi.
Bu Lena
(Muncul membawa segelas minuman hangat) Iya, kenapa harus langsung jika kita bisa berbasa-basi terlebih dahulu.
Tamu II
Wah, tampaknya akan ada lampu hijau nih.
Pak Lena
Tidak hanya boleh langsung jalan, ini jalan tol jadi bisa sekencang apa juga.



Tamu II
Boleh ngebut?
Pak Lena
Oh tentu, asal pakai pengaman biar tidak kecelakaan.
Tamu II
(Tertawa) Ini dia calon mertua yang paling hebat.
Bu Lena
Mertua?
Pak Lena
Ada apa dengan mertua?
Tamu II
(Bingung) Katanya boleh langsung ngebut?
Pak Lena
(Bingung juga) Tunggu dulu. Begini saja, kita buang dulu basa-basi. Apa maksudnya ini? Mertua dan ngebut, hubungannya apa?
Tamu II
Loh, bukankah sudah jelas Om, ini soal sesuatu yang saya miliki itu, yang dibawa Lena.
Bu Lena
Ya terus.
Tamu II
Bukankah hari ini akan saya temukan lagi, seperti janji Om kemarin.
Bu Lena
Uang kan?
Pak Lena
Ya, berapa yang dicuri dari kamu?
Bu Lena
Masalah besarnya tidak perlu risau, kami akan bayarkan semuanya, bagaimanapun Lena itu anak kami, jadi tidak mungkin kami membiarkannya mencuri uang kamu.



Pak Lena
Ya benar itu.
Bu Lena
Tunggu dulu, biar semuanya jelas (Berjalan menuju kamar Lena) Lena! Keluar kamu, Nak.
Tamu II
Tunggu dulu, Tante…
Bu Lena
Tenang, biar jelas saja.
Tamu II
Tapi…
Pak Lena
Tenang saja
Bu Lena
Lena!
Lena
(Keluar dengan muka suntuk, bertambah suntuk begitu melihat Tamu II) Ada apa?
Bu Lena
Ayo, ada yang harus kita selesaikan. (Menggiring Lena ke depan tv)
Tamu II
(Tersenyum manis) Hai Len.
Lena
(Senyum masam) Ada apa?
Pak Lena
Tenang, santai semuanya. Begini, sebaiknya kita cari tahu yang sebenarnya. Bu, kau saja yang bicara.
Bu Lena
Lena, teman kamu ini kemarin sudah datang, tapi karena kamu belum pulang, kami suruh dia datang sekarang. Nah, dia ini datang untuk meminta sesuatu yang kamu bawa, begitulah.


Pak Lena
Ya, dengan kata lain ia datang untuk menagih sesuatu yang telah kau curi. Nah, berapa jumlahnya, Nak, berapa yang kau ambil darinya.
Tamu II
(Panik) Tunggu dulu…
Pak Lena
Sudah kamu jangan bicara dulu. Berapa Lena?
Lena
(Bingung) Lena tidak mencuri apa-apa. Hey (Menunjuk Tamu II) kamu jangan sembarangan menuduh aku pencuri ya! Sampai datang ke rumah lagi!
Bu Lena
Sabar Nak, tenang. Katakan saja jumlahnya, biar kita ganti. Jangan takut kami marah. Sungguh kami tidak akan marah.
Pak Lena
Ya katakan saja, biar semuanya jelas.
Lena
Ahk, bagaimana ini! Lena tidak mencuri, sumpah. Tanyakan saja sama dia. (Duduk dengan sewot)
Tamu II
Waduh, bagaimana ini, kenapa bisa kacau. Begini saja, Om, saya permisi, anggap saja tidak terjadi apa-apa. (Bergerak pergi)
Pak Lena
(Menahan) Bagaimana kamu ini, bukannya kamu ingin mengambil yang telah dicuri Lena?
Tamu II
Sudahlah Om, tidak apa-apa, biarkan saja.
Bu Lena
Tidak bisa begitu. Begini saja, berapa yang dicuri Lena?
Lena
Ya berapa yang kucuri! Cepat bilang!



Tamu II
(Takut) Tidak ada…
Pak Lena
Apa!
Tamu II
Lena tidak mencuri uang, Om. Sejak tadi dan malah kemarin saya sudah ingin jelaskan tapi Om tidak mau mendengar. Saya pikir Om sudah mengerti dengan yang saya maksud.
Pak Lena
Kok malah menyalahkan.
Tamu II
Benar, Om. Saya sudah coba jelaskan. Lena tidak mencuri uang tapi…
Bu Lena
Tapi apa? HP, perhiasan, atau apa?
Tamu II
Bukan itu Tante.
Bu Lena
Jadi apa? Bicara yang jelas!
Tamu II
(Malu) Lena mencuri hati saya, Tante. Dengan kata lain, saya itu senang sama Lena tapi Lenanya belum memberikan jawaban.

TERDENGAR KETUKAN PINTU. SEMUANYA TERKEJUT.

Pak Lena
Siapa lagi itu, bukalah pintunya, Lena kamu yang buka.

PINTU TERBUKA. LENA TERTAWA.
Lena
Aku baru saja pulang, kamu bolak-balik ya mencari aku?



Tamu I
Kurang ajar, kalau utang cepat bayar dong!
Lena
Ala, gitu aja sewot.
Pak Lena
Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.
Bu Lena
Siapa Len?
Lena
Teman
Bu Lena
Bawa temanmu ke dalam, tidak baik terus di depan pintu.
Tamu I
Terima kasih Tante, di sini saja.
Pak Lena
Masuklah, biar saling bertemu semuanya.
Lena
Ayolah masuk
Tamu I
Bayar dulu utangmu, ini urusan kita berdua.
Lena
Iya, nanti di dalam.
Tamu I
Tapi…
Lena
Tidak ada alasan (menggandeng Tamu I)

SEMUANYA BERKUMPUL DI DEPAN TV








Bu Lena
Oh, rupanya kamu. Len, temanmu ini bolak-balik mencari kamu.
Tamu I
Maaf Tante, merepotkan.
Pak Lena
Ah, tidak ada apa-apa. Kenapa terlihat begitu penting, ada apa ini?
Tamu I
Tidak ada apa-apa, Om, cuma sekedar mampir.
Pak Lena
Kalau cuma sekedar berarti tidak berulang, benar tidak?
Tamu II
Kalau begitu saya pulang lebih dulu saja, Om.
Pak Lena
Kamu di sini dulu, masalah yang tadi belum selesai.
Lena
Masalah apa lagi?
Bu Lena
Lena, kamu kan belum mengembalikan uang yang kamu curi dari dia.
Tamu I
Kamu mencuri uang, Len?
Tamu II
Tidak… tidak, wah serba salah semuanya.
Pak Lena
Sudahlah, mari kita selesaikan. Lena, katakan saja berapa yang kau ambil dari dia?
Lena
(Marah) Kenapa nggak ada yang percaya! Lena tidak pernah mencuri uangnya!
Tamu II
Iya, Om. Lena tidak mencuri uang saya.



Lena
Dengar itu! Lena tidak pernah mencuri! Lena cuma meminjam uang.
Tamu II
Kapan?
Lena
Bukan kamu!
Tamu I
Tidak, Om. Tidak, Tante. Lena tidak pernah meminjam uang.
Lena
Hey!
Pak Lena
Tunggu dulu, ada apa ini?
Bu Lena
Ya, yang benar yang mana? Mencuri atau meminjam, lalu uang siapa yang dicuri atau dipinjam?
Tamu I
Bukan uang saya.
Lena
Hey!
Tamu II
Sudah jelas, saya tidak ada hubungan dengan uang. Seperti yang sudah terkatakan tadi, hati saya yang dicuri.
Bu Lena
Berarti uang kamu? Berapa?
Tamu I
Tidak ada, Tante.
Lena
Hey! Jangan bohong kamu. Aku pinjam uang kamu beberapa hari yang lalu sebagai bekal lari dari rumah. Dan, bukankah kamu datang kemari untuk menagihnya?




Bu Lena
Bekal lari?
Pak Lena
Lari dari mana, Nak?
Lena
Lihat, lihatlah orang tuaku ini kawan-kawan. Aku lari dari rumah pun mereka tidak tahu. Yang mereka pikirkan semua baik-baik saja. Aku benci! (marah mendekati menangis)
Tamu I
Aku tidak tahu, aku pinjami kamu uang bukan untuk itu. Kalau aku tahu kamu pinjam uang untuk lari, aku tidak beri tentunya.
Tamu II
Kamu lari dari rumah? Kenapa tidak bilang padaku, Len. Aku, ah…
Tamu I
Kenapa, kamu mau membantunya lari kan!
Lena
Diam kalian! Kalian (memandang orang tua) lihatlah anak kalian ini! Apakah kalian hafal setiap tahi lalatnya? Apa kalian tahu yang diinginkannya? Pandang aku melalui mataku jangan pandang aku dengan mata kalian!
Bu Lena
Kenapa kamu harus lari, Nak. Bukankah hidup di luar itu lebih berbahaya.
Pak Lena
Jika memang ingin lari, kamu kan bisa permisi dulu, tidak perlu kamu pinjam uang kawan.
Lena
Ini bukan piknik…(menangis)

BU LENA DAN PAK LENA LANGSUNG MENDEKATI LENA.



Tamu I
(Menarik Tamu II ke sudut lain) Urusan keluarga, sebaiknya kita menyingkir.
Tamu II
Kita harus permisi dulu
Tamu I
Kalau keadaannya seperti ini, sebaiknya tidak perlu.
Tamu II
Uangmu…
Tamu I
Sudahlah…

TAMU I DAN TAMU II PERGI DENGAN CEPAT. TANGIS LENA SEMAKIN MENJADI.

Pak Lena
Diamlah, jangan menangis. Uang yang kamu pinjam akan kita ganti. (Menyadari Tamu I dan Tamu II telah hilang) Bagaimana ini, mereka telah hilang. Uangnya belum kita ganti.
Lena
(Sambil menangis) Bukan uang…
Pak Lena
Jika begitu mengapa menangis?
Bu Lena
Diamlah, jangan menangis terus. Kami bingung, Len. Ceritalah, Nak.
Lena
Lena tidak pulang selama ini karena Lena merasa tidak punya rumah.
Bu Lena
Tidak punya rumah?



Lena
Ya, rumah ini segalanya dihitung dengan uang, tidak ada pembicaraan yang menyenangkan. Kalian sibuk dan Lena pun sibuk sendiri. Tidak ada yang perhatikan. Lena benci. Lena butuh rumah yang benar-benar rumah!
Bu Lena
(Menangis) Maaf ya, Nak. Mungkin selama ini kami tidak memperhatikan kamu, semuanya selalu dihitung dengan uang. Rumah ini rumah kamu, rumah yang kami bebaskan untukmu, kami tidak ingin mengekang, kami rasa itu yang baik.
Pak Lena
Membebaskan kamu bukan berarti tidak perhatian. Dulu kami dikekang orang tua kami dan kami tidak suka, maka kami ingin kamu tidak seperti kami.
Lena
(Lari masuk kamar) Seharusnya kalian jadi orang tua yang benar-benar orang tua!
MUSIK PERLAHAN, SAHYDU BEGITU TERASA. BU LENA TERUS MENANGIS.
Bu Lena
Kita salah mendidiknya…
Pak Lena
Sebenarnya kita bermaksud baik, tapi salah juga…
Bu Lena
Kita harus bagaimana? Membebaskannya salah, mengekangnya juga bisa salah…
TERDENGAR KETUKAN PINTU
Bu Lena
Siapa lagi?
TERDENGAR KETUKAN PINTU. PAK LENA MENUJU PINTU DAN MEMBUKANYA.
BU LENA
Siapa lagi?

SELESAI
Yogyakarta maret-april 2006








NASKAH TEATER REMAJA
“KONGRES UNGGAS”
KARYA : APRIS

PELAKU :
1. NY. ANGSA
2. NY. BABON
3. NONA BEBEK
4. NY. KUTILANG
5. NY. KASUARI
6. NY. BANGAU
7. NONA ITIK
8. NONA MERPATI
9. NONA ITIK
10. GAGAK
11. KAKAK TUA
12. SAWUNG JAGO
13. SWAN SONG
14. PELIKAN
15. JOKO PERKUTUT
16. NYI CENDRAWASIH
17. NYI KUNTIL








JUARA II
LOMBA PENULISAN NASKAH TEATER REMAJA TAMAN BUDAYA JAWA TIMUR
2006

KONGRES UNGGAS

BABAK I
RUANG TAMU MEWAH SEBUAH BANGUNAN BESAR MILIK NY. BANGAU. DISINI AKAN DILANGSUNGKAN PERTEMUAN RUTIN PARA UNGGAS; ARISAN. YANG SUDAH TERLIHAT DATANG LEBIH DULU NY. KUTILANG, NY. BABON DAN NONA BEBEK. DITEMANI TUAN RUMAH, MEREKA SEDANG ASYIK NGRUMPI NONA ITIK, PUTRI NY. BANGAU, SIBUK MELAYANI PARA TAMU. NYI KUNTIL, PENGAWAL NY. KUTILANG, DUDUK MENYENDIRI DI SALAH SATU SUDUT RUANG ITU DENGAN ANGKERNYA, SAMBIL MELAHAP HIDANGAN YANG DISAJIKAN. TIDAK LAMA KEMUDIAN, MUNCUL NY. ANGSA BERSAMA NONA MERPATI PUTRINYA, DIIRINGI PENGAWAL SETIANYA JAKA PERKUTUT.
1. Angsa : Sedang membicarakan apa, kok kedengarannya meriah banget.
2. Babon : Itu lho Jeng Bebek aneh-aneh saja. Dia bilang jago-jago kita tambah gila saja. (TERTAWA). Padahal, sejak dulu yang namanya jago itu memang gila. Apalagi kalau melihat perempuan-perempuan muda, cantik dan agak menggoda. (TERTAWA)
3. Angsa : O, begitu
4. Babon : Iya, Jeng Bebek juga mengatakan, para jago kita tingkat kegilaannya sudah sangat tinggi. Mana ada gila kok tinggi. Lantas, cara mengukurnya bagaimana. (TERTAWA). Kata Jeng Bebek lagi, penjajahan dan kesewenang-wenangan para pejantan terhadap para betina sudah keterlaluan. (TERTAWA LAGI, SAMBIL TERSEDAK-SEDAK)
5. Kutilang : Lho, benarkan, Tante. Pejantan-pejantan kita tambah brutal dan tidak menghargai para betina sama sekali. Kalau punya pangkat, kedudukan dan uang, mereka akan kawin dimana-mana. Tidak peduli perasaan para betina yang dikawini. (BERHENTI SEJENAK). Kalau tidak punya pangkat, kedudukan atau uang, tapi merasa sedikit tampan, ya mengobral janji di mana-mana. Nah, kalau tidak punya semua itu, ya main perkosa.
6. Babon : Tapi tidak semua pejantan seperti itu. Buktinya suami saya, Mas Sawung Jago, biarpun punya derajat dan uang, tidak pernah ngobral nafsu dimana-mana.
7. Angsa : Saya kok setuju dengan Tante Babon. Tidak semua pejantan kita seperti itu. Masih banyak yang memiliki moral bersih.
8. Bebek : Ah, itu hanya menghibur diri.
9. Babon : Lho, menghibur diri bagaimana. Itu kan kenyataan. Buktinya, masih ada pejantan seperti suami saya, suami Jeng Kutilang, Jeng Bangau, Jeng Kasuari dan Jeng Angsa.
10. Bebek : Jumlah itu belum bisa dijadikan bukti. Nyatanya hampir setiap hari koran-koran, radio dan televisi menyajikan berita kebrutalan para pejantan kita.
11. Babon : Ah, itu kan memang kerjaan wartawan dan lahan penghidupan media massa. Kalau tidak menyajikan hal semacam itu, ya tidak akan ada yang beli koran, dengarkan radio atau nonton televisi.
12. Angsa : Ya, tidak begitu, Mbakyu. Apa yang dimuat koran, diberitakan di radio dan ditayangkan di televisi, pasti berdasarkan sebuah fakta. Mereka tidak mungkin berani menyiarkan berita kalau tidak benar.
13. Bebek : Mungkin saja. Siapa sih yang tidak tahu prinsip media massa. Yang penting kan laku dijual. Nggak peduli benar atau salah, merugikan atau menguntungkan orang lain, pokoknya bisa dijual. Lagi pula, masyarakat kita kan memang paling senang baca berita seperti itu.
14. Bangau : Waduh, ngobrolnya kok jadi serius begitu. Sudah. Ayo, dimakan lagi hidangannya. Kalau terlalu dingin, nanti nggak enak lho. (SEMUA DIAM UNTUK BEBERAPA SAAT. MEREKA ASYIK MENIKMATI HIDANGAN YANG DISODORKAN OLEH TUAN RUMAH. PEMBICARAAN MEREKA DIALIHKAN KE HAL-HAL YANG LAIN. RINGAN YANG PENTING NGRUMPI. DI SUDUT LAIN, JOKO PERKUTUT ASYIK MELADENI NONA MERPATI DAN NONA ITIK BERSENDA GURAU, YANG SESEKALI DILIRIK OLEH NY. ANGSA)
15. Kasuari : Kalau saya pikir-pikir, pendapat Jeng Bebek itu benar. Tapi ucapan Tante Babon juga betul.
16. Babon : Eeee, lha … gimana sih Jeng Kutilang ini. Mana mungkin mendukung saya, kok juga mendukung Jeng Bebek. Itu tidak tegas namanya. Plin-plan. Iya kan, Jeng. (TERTAWA SINIS SAMBIL MEMANDANG BERKELILING, MENCARI DUKUNGAN)
17. Bangau : Benar. Kita tidak boleh mendua. Dalam setiap persoalan, kita seharusnya hanya mendukung salah satu pihak. Tidak bisa keduanya. Bisa runyam nanti.
18. Kasuari : Yang saya maksudkan begini. Jeng Bebek benar karena semua media massa, baik cetak maupun elektronik, selalu menyajikan kebrutalan para pejantan kita. Sementara Tante Babon benar, karena memang tidak semua pejantan bermoral bejat.
19. Angsa : Saya setuju dengan pendapat terakhir. Kita memang tidak boleh seenaknya sendiri. Menyamaratakan, atau istilah ilmiahnya menggeneralisir setiap persoalan. Segala sesuatunya harus kita teliti dan kemudian kita analisis. Dus, kita tidak boleh mengungkapkan statement secara ngawur. Asal bicara.
20. Babon : Lha, benarkan apa yang saya katakan. Kita tidak bisa seenaknya sendiri, mengatakan semua pejantan kita sudah bejat moralnya, padahal yang melakukan hanya seekor pejantan. Wong suami saya tidak begitu, kok.
21. Angsa : Jeng Babon juga tidak bisa menyalahkan Nona Bebek, hanya karena suami Jeng tidak begitu. Berarti yang bejat hanya seekor dan yang baik juga hanya satu ekor. Tidak bisa dijadikan dasar analisis.
22. Babon : Jeng Angsa ini aneh. Saya dinilai salah, tapi juga benar. Jeng Bebek juga dinilai begitu. Lantas, yang terbaik bagaimana. Kan tidak mungkin salah semua atau benar semua. Pasti hanya satu yang salah dan satunya benar.
23. Angsa : Dalam dunia keilmuwan, hal itu bisa saja terjadi. Salah semua atau benar semua.
24. Babon : Wah, ini gimana, to. Saya kok jadi bingung. Malah jadi tidak nyambung. Benar semua atau salah semua. Ah, tidak tahu saya.
25. Bangau : Iya. Saya juga jadi bingung. Mungkin Jeng Angsa bisa menjelaskan, sehingga kami jadi mudheng.
26. Angsa : Begini lho Jeng. Pendapat atau ucapan yang disampaikan, tapi benar berdasar fakta atau penelitian, belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jadi, bisa benar atau salah semua. (SEMUA YANG HADIR MANGGUT-MANGGUT, MESKI ADA BEBERAPA YANG TIDAK MENGERTI SAMA SEKALI). Nah, untuk mengetahui apakah pendapat atau ucapan itu benar atau salah, maka harus diadakan penelitian. Dus, berarti butuh waktu yang cukup panjang dan dana yang agak besar.
27. Babon : Wah, kok jadinya malah ruwet. Masak hanya dari omong-omong harus begitu panjang dan lama penyelesaiannya. Kalau saya, tinggal setuju atau tidak.
28. Bebek : Ya ndak bisa hanya sesederhana itu kalau masalahnya menang luas dan besar. Apalagi menyangkut sekelompok kaum. Cara yang terbaik yang seperti yang dikemukakan Jeng Angsa. Harus lewat penelitian. Paling tidak ya harus lewat forum musyawarah nasional atau bahkan musyawarah internasional.
29. Bangau : Waduh, waduh. Kok jadi tambah ruwet begitu.
30. Babon : Iya. Pembicaraan sederhana kok tiba-tiba jadi ruwet begitu, sampai harus mengadakan penelitian dan musyawarah segala.
31. Angsa : Itu kalau nyonya-nyonya di sini mau menguji kebenaran dari apa yang sudah diperbincangkan tadi secara ilmiah. Kalau tidak, kita hanya bicara dan berdebat terus, tanpa tahu ujung pangkalnya dan tidak mengerti mana yang benar, mana yang salah. Apa kita mau disini seharian hanya untuk memperdebatkan hal yang tak kita ketahui.
32. Babon : Ya jelas tidak mau saya. Kami kan masih punya kegiatan lain. Paling tidak ya sebagai ibu rumah tangga dan istri.
33. Bangau : Kalau saya tidak jadi masalah. Kalau semuanya mau tinggal disini lebih lama dan berbincang-bincang, silahkan. Tapi seperti kata Tante Babon tadi, bagaimana dengan aktivitas kebabonan kita.
34. Kasuari : Saya setuju dengan pendapat Jeng Angsa. Kita harus melakukan penelitian untuk menjernihkan persoalan ini. Kalau Jeng Bebek bagaimana.
35. Kutilang : Melakukan penelitian, akan sia-sia saja. Di samping memakan waktu lama, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara, hasilnya sulit diyakini kebenarannya. Kalau saya lebih setuju mengumpulkan betina dari seluruh dunia dan mengadakan musyawarah untuk membuat resolusi.
36. Bangau : Wow, mengumpulkan betina dari seluruh dunia?
37. Babon : Ck … ck … ck, itu ide gila. Lalu biaya untuk menyelenggarakan acara itu cari di mana?
38. Bebek : Kita bebankan pada negara. Selama ini, kalau para pejantan mengadakan acara pasti membebankan seluruh biaya pada negara. Kalau sekali-kali kegiatan para babon dibiayai negara, kan tidak ada jeleknya.
39. Kasuari : Bagaimana nyonya-nyonya, apakah semuanya setuju dengan gagasan, Jeng Bebek. (TIDAK LANGSUNG TERDENGAR JAWABAN. MEREKA MASING-MASING SIBUK BERBICARA SENDIRI-SENDIRI). Bagaimana nyonya-nyonya setuju?
40. Koor : Setuju …………………………

BABAK II
SEBUAH RUANGAN BESAR ATAU LAPANGAN YANG CUKUP RINDANG. MASIH TAMPAK LENGANG. TAPI RUANGAN ITU SUDAH DITATA SEDEMIKIAN RUPA UNTUK KEPERLUAN MUSYAWARAH ATAU SEMINAR INTERNASIONAL. TAMPAK JOKO PERKUTUT, NYI CENDRAWASIH, NYI KUNTIL. DI BERANDA, TAMPAK TANTE BABON, DENGAN PAKAIAN YANG SERONOK, BERSAMA SAWUNG JAGO SUAMINYA.
41. Babon : Mas, sana ikut nimbrung, kumpul sama jago-jago teras kita. Jangan hanya menyendiri di belakang. Setidak-tidaknya kamu masih trah dalam. Masih dialiri darah biru. Masak kumpul sama jago kampung yang tidak berprestasi.
42. Sawung Jago : Habis, saya kan tidak terdaftar sebagai panitia. Dalam susunan yang kalian buat nama saya kan tidak ada. Lha kok saya disuruh kumpul sama jago-jago teras. Saya kan malu.
43. Babon : Meski kamu tidak tercantum dalam daftar panitia, saya kan termasuk panitia inti. Panitia yang ngurusi konsumsi.
44. Sawung Jago : Orang seksi konsumsi kok panitia inti.
45. Babon : Lho, apa acara ini nanti bisa berlangsung sehari penuh kalau tidak ada konsumsinya. Yang penting konsumsi.
46. Sawung Jago : Sudahlah. Tidak usah macem-macem. Pokoknya saya hadir. Ada dalam acara ini. Soal kumpul dengan siapa, ndak masalah.
(MUNCUL NY. KASUARI, NY. ANGSA, NY. BANGAU, NONA ITIK, NONA MERPATI DAN NONA BEBEK)
47. Kasuari : Jeng Babon sudah datang.
48. Babon : Lho, ya jelas dong.
49. Kasuari : Bagaimana konsumsinya, Jeng?
50. Babon : Pokoknya beres. Hanya saja, pencuci mulutnya belum terbayar.
51. Angsa : Lantas, yang kerja hari ini sudah disiapkan konsumsinya atau belum.
52. Babon : Lha, ya belum. Kan kemarin anggarannya tidak masuk ke anggaran saya. Mereka kan sudah mengajukan anggaran sendiri.
53. Nona Merpati : Saya dan Nona Itik sudah berembug dengan Mas Joko Perkutut. Kami yang ngurus konsumsinya. Untuk jago lainnya, diurusi Nyi Cendrawasih dan Nyi Kunti.
54. Nona Itik : Iya. Mas Joko Perkutut tidak senang kalau dibuatkan konsumsi seperti jago kebanyakan. Maklum, dia kan mahasiswa. Jadi segalanya harus serba spesial. Yang melayani juga harus spesial. Kami menyediakan diri sebagai sukarelawan.
55. Angsa : Kalian berdua ini memang lancang. Sejak dulu, Joko Perkutut kan jadi urusan saya. Ada-ada saja. (PERGI SAMBIL MARAH-MARAH. YANG TINGGAL HANYA SAWUNG JAGO).
56. Sawung Jago : Babon, dari dulu bisanya hanya petok-petok, dan Joko Perkutut, nasibmu baik benar. Waktu aku mengincar Angsa, kamu datang merebut. Kini, ketika aku sedang mengincar Merpati dan Itik, kamu lagi-lagi nimbrung. Masih muda mau seenaknya. Ya yang tua, ya yang muda. (TIBA-TIBA KAKAK TUA DAN GAGAK MASUK SEHINGGA MENGAGETKAN SAWUNG JAGO)
57. Kakak Tua : Kakang Sawung Jago malah sudah sampai disini. Saya yang dipilih jadi penerima tamu malah datang belakangan. Maaf, lho Mas.
58. Sawung Jago : Tidak apa-apa. Tadi sekalian mengantar istri saya, jadi ya agak pagi berangkatnya.
59. Kakak Tua : O, iya. Bagaimana kabarnya, Mas. Lama tidak bertemu, kan sehat-sehat saja?
60. Sawung Jago : Yah, lumayan meski tambah kurus.
61. Kakak Tua : Ah, kakang Sawung Jago ini ada-ada saja. Kok lama ndak kelihatan itu kemana saja, Kang?
62. Sawung Jago : Namanya juga usaha, jadi ya tidak sempat kemana-mana. Apalagi pada era globalisasi seperti sekarang ini, kita harus kerja makin keras.
63. Gagak : Memang benar. Saya juga lihat sendiri cara kerja Kakang Sawung Jago. Pakai kejar-kejaran segala. Apa pengusaha sekarang juga diajari perang-perangan, kok kakang kemarin sepertinya serius mengejar musuh. (SAWUNG JAGO TIDAK MENJAWAB. MATANYA MELOTOT MEMANDANG. MAKSUDNYA MAU MARAH, TAPI TIDAK JADI. SETELAH MENDENGUS KESAL, LANTAS PERGI MENINGGALKAN KAKAK TUA DAN GAGAK YANG TERSENYUM SINIS). Kakang Sawung Jago itu aneh. Sudah punya istri resmi dan beberapa simpanan, kok ya masih senang mengejar ayam-ayam dara. Kemarin Itik dan Merpati yang dapat giliran dikejar-kejar mau diperkosa. Untung keduanya cukup lincah dan gesit, sehingga tidak tertangkap oleh si tua bangka itu.
64. Kakak Tua : Yah, begitulah yang namanya jago. Lebih-lebih kalau masuk klasifikasi pejantan. Bedanya, ada yang bisa lebih menjaga diri. Melihat situasi dan kondisi. Tapi ada juga yang tidak mau menjaga diri. Ujas-ujus, grusa-grusu. Tidak angon situasi. Berbeda dengan kamu. Tidak usaha dikejar-kejar, para betina akan datang sendiri.
ACARA PERTEMUAN DIMULAI
65. Bebek : Saudara-saudara betina. Kita tahu bahwa para jago dimana-mana senang wayuh. Ini berarti mereka tidak menghormati para betina. Kenapa mereka tidak menghargai kita, karena salah kita sendiri. Yaitu mau menerima perlakuan sewenang-wenang mereka. Padahal kita bisa mencari makan sendiri. Bahkan mencarikan makan anak-anak kita. Tapi kenapa kita malah diperlakukan sewenang-wenang oleh para jago, yang tidak pernah mempedulikan anak-anaknya. Ini benar-benar keterlaluan. (TERDENGAR TEPUK TANGAN RIUH). Kita berbeda dengan yang namanya manusia wanita. Mereka kebanyakan tidak bisa cari makan sendiri, sehingga sangat tergantung pada manusia laki-laki. Maka wajar kalau manusia wanita rela disewenang-wenang manusia laki-laki. Apalagi di dunia manusia ada peribahasa: surga dan neraka ikut laki-laki. Tapi di dunia kita, tidak ada peribahasa semacam itu. (TERDENGAR TEPUK TANGAN LAGI). Agar mengetahui wewenang, dan para jago tahu yang namanya keadilan, maka para betina di seluruh dunia harus bersatu dalam sebuah wadah, yang nantinya akan menetapkan aturan main bersama penguasa, dan menyampaikan resolusi. (TEPUK TANGAN MERIAH LAGI. TIBA-TIBA NY. ANGSA TAMPIL BERBICARA)
66. Angsa : Saudara-saudara. Menyambung langsung apa yang baru saja disampaikan Nona Bebek, saya sampaikan beberapa catatan penting. Pertama, kita harus menyusun sebuah resolusi yang isinya antara lain: jago satu hanya boleh memiliki atau mengawini seekor betina, jago dan betina punya hak sama dalam perceriaan. Kedua, kita harus secara aktif mengadakan pendidikan, melakukan penyuluhan dan pelatihan tentang hak, tanggungjawab, wewenang, serta tugas para betina maupun jago dalam pergaulan hidup sehari-hari. Ketiga, kita harus selalu mengkampanyekan bahwa betina bukan hanya sekedar pabrik telur yang bisa diperlakukan sewenang-wenang. Para betina punya harga diri yang patut diakui para jago. Dengan demikian, masing-masing bisa saling menghargai satu sama lain. Tidak perlu menang-menangan. (TEPUK RIUH)
67. Swan Song : Kami memahami betul apa yang disampaikan kedua betina terdahulu. Kami pun dulu tak terhindar dari keadaan dan situasi semacam itu. Tapi itu masa lalu. Kini kami mulai memasuki kehidupan yang sangat bebas. Maklum, kami dari negara yang sudah sangat modern. Perkawinan bukan lagi hal yang penting. Kami bebas melakukan hubungan. Betina bisa melayani selusin jago, begitu pula sebaliknya, tanpa harus memikirkan pernikahan. (TERDENGAR GERUTUAN DAN MAKIAN). Harap jangan berisik. Ingat, kami dari masyarakat modern. Jadi soal tata tertib, unggah-ungguh dan semacamnya adalah nonsens. Terlalu usang dan ketinggalan zaman. Kami justru punya usulan, membuat resolusi buat manusia yang memperlakukan bangsa kami dengan semena-mena. Sama sekali tidak hewani. Masak kaum betina kami selalu dikurung secara bergerombol dalam satu kandang dan tidak pernah diberi seekor pun jago, tapi setiap hari diharuskan bertelur. Hal itu terus berlangsung sampai kematian menjemput mereka. Ini benar-benar tidak adil dan harus dihentikan.
68. Pelikan : Saya setuju dengan Swan Song tadi. Bikin resolusi yang memprotes sistem manusia memelihara ayam. Soal wayuh, memang perlu dipertimbangkan kembali. Seandainya dalam sebuah kelompok ayam ternyata jumlah jagonya lebih banyak dibanding betinanya atau sebaliknya, bagaimana. Kita perlu mencontoh wayang. Drupadi itu suaminya lima, yaitu Pandawa. Karena dinegaranya memang kekurangan wanita dan terlalu banyak pria. Sementara Kresna istrinya tiga, karena di Drawati kekurangan pria dan terlalu banyak wanita. Usulan betina lokal baru bisa dijalankan kalau situasinya seperti di Madura dan Awangga, dimana jumlah wanita dan pria seimbang. Dengan kata lain, wayuh hanya diperbolehkan bukan karena kebutuhan seks semata, seperti yang dianut ayam ras, tapi karena keadaan yang memaksa.
69. Kasuari : Untuk menyatukan para betina di seluruh dunia, disepakati berdirinya perkumpulan betina se dunia yang diberi nama KONGRES UNGGAS SE DUNIA, yang disepakati : 1. Jago tidak boleh wayuh, 2. Betina tidak boleh wayuh, 3. Jago boleh menceraikan betina, 4. Betina bisa menceraikan jago, 5. Manusia dilarang membudidayakan ayam seenaknya sendiri, 6. Betina yang dipelihara oleh manusia untuk tujuan penghasil telur, harus tetap diberi jago yang jumlahnya sama banyak dengan jumlah betina. Begitu pula yang dipelihara untuk diambil keturunannya. Bagaimana pada semua yang hadir, apakah pembentukan wadah dan isi resolusi disetujui. (TERDENGAR JAWABAN KOOR SETUJU).
BLACK OUT

BABAK III
FADE IN
TERAS SEBUAH RUMAH, MALAM BULAN PURNAMA, NY. KUTILANG DUDUK TERMENUNG SEORANG DIRI. TIBA-TIBA DATANG JENG BABON. MEREKA BERDUA NGOBROL. TAMPAK ASYIK. SEMENTARA SUASANA TAMPAK LENGANG DAN SEPI.
70. Babon : Ngalamun, ya Jeng?
71. Kasuari : (AGAK TERKEJUT). Ah, enggak kok. Mari Mbakyu, silahkan duduk. Dari mana, kok jam sekian masih di luar. Malah sampai disini.
72. Babon : Tidak dari mana-mana. Saya memang sengaja kemari untuk ngobrol. Di rumah sepi sekali.
73. Kasuari : Sama, Mbakyu. Rumah saya sekarang juga sering sepi. Apa Sawung Jago sering pergi?
74. Babon : Yah, begitulah, Jeng. Maklum, namanya saja wiraswasta. Jadi ya sering pergi. Katanya untuk meningkatkan usaha.
75. Kasuari : Dan Mbakyu mempercayainya.
76. Babon : Ya jelas, dong. Sejak adanya Perkumpulan Betina Mardika dan resolusi yang dihasilkan beberapa waktu lalu, buat apa tidak mempercayai suami yang terus keluar rumah untuk mengembangkan usaha. Lagi pula, sejak sebelum musyawarah yang baru lalu dilaksanakan, suami saya merupakan tipe jago yang setia. Dia tidak pernah menyeleweng, meski pergi dari rumah sampai berhari-hari.
77. Kasuari : Saya juga dulu punya pandangan yang sama dengan Mbakyu. Kalau suami saya pamit keluar rumah sampai menginap, kadang beberapa hari, saya tidak pernah menaruh curiga. Paling-paling untuk meningkatkan karier. Tapi setelah musyawarah besar beberapa waktu lalu, saya jadi sering mikir. Jangan-jangan suami saya sudah kelurahan penyakitnya manusia. Bilangnya nglembur, ndak tahunya kencan dengan betina lain.
78. Babon : Weh … weh … weh, Jeng Kasuari kok jadi begitu. Jangan-jangan malah sampeyan yang sudah ketularan penyakit manusia perempuan. Curigaan saja kerjanya. Tidak pernah percaya sama manusia lain. Termasuk pada suaminya sendiri. Amit-amit, Jeng. Mbok ya yang semeleh, gitu. Jangan terlalu curiga. Kalau suami kita beri kepercayaan penuh, tidak-tidaknya kalau mereka nyeleweng.
79. Kasuari : E … namanya jago kok diumbar. Ya entek omah, entek ngalas, Mbakyu. Para jago itu ndak bisa dilair-batini. Dikasih kesempatan, ya nglonjak.
80. Babon : Ah, apa seburuk itu namanya jago, Jeng?
81. Kasuari : Ya bukan hanya para jago yang punya watak buruk seperti itu. Para betina juga banyak yang senang bermuka dua.
82. Babon : Walah, istilah apalagi itu. Bermuka dua.
83. Kasuari : Artinya, di muka orang banyak sangat berapi-api membela dan memperjuangkan hak kaumnya. Tapi di belakang, selingkuh.
84. Babon : Masak ada betinayang punya watak seperti itu. Jeng Kasuari ini kok ada-ada saja. Senangnya kok guyon.
85. Kasuari : Tidak, Mbakyu. Saya tidak guyon. Ini serius. Dan betina seperti itulah yang sering ngrusak tatanan. Merekalah yang sering memancang para jago untuk nyleweng.
86. Babon : Jangan-jangan … (AGAK GELISAH, TAPI KEMUDIAN MENGHIBUR DIRI SENDIRI). TAPI SAYA PERCAYA SAMA KESETIAAN SUAMI SAYA, KOK. JAGO LAIN BISA SAJA MUDAH DIGODA, TAPI SUAMI SAYA TIDAK. (NY. KASUARI TERSENYUM KECUT. TIBA-TIBA NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH DATANG DENGAN SIKAP TAK MENENTU. MARAH, GELISAH, KECEWA CAMPUR JADI SATU. SEPERTI TAK MENGETAHUI KEBERADAAN KASUARI DAN BABON).
87. Nyi Kuntil : Wah, gawat. Kacau. Tidak berperi kebinatangan.
88. Nyi Cendrawasih : Ya. Merusak tatanan. Gajah midak rapak.
89. Kasuari : E … e … e, ini ada apa. Datang-datang kok kayak orang ayan. Bengak-bengok ndak karu-karuan. Kalian ini ada apa. (NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH TERKEJUT, WAS-WAS DAN TAKUT).
90. Nyi Kuntil : Eh … oh … ah, nggak ada apa-apa kok Nyonya. Cuma anu … e … anu …
91. Kasuari : Cuma apa. Anu apa. Ayo ngomong yang benar.
92. Babon : Iya. Mbok kalau bicara itu yang jelas, tegas. Tidak plinthat-plinthut seperti itu. Ada apa, ayo.
93. Nyi Cendrawasih : Wong cuma anu, kok. Apa itu, anu dheng … ah, bingung aku. Mbok kamu saja yang menjelaskan.




94. Kasuari : Sudah, ayo. Salah satu dari kalian harus bicara terus terang dan yang sebenarnya.
95. Nyi Kuntil : (SETELAH BERUSAHA SEKUAT TENAGA, AKHIRNYA BISA JUGA BICARA). Begini, Nyonya. Kami berdua kebetulan sedang jalan-jalan. Ketika sampai di taman kota, kami lihat pemandangan yang nganeh-anehi.
96. Babon : Nganeh-anehi bagaimana. Mbok bicara to the point saja, gitu lho.
97. Nyi Kuntil : Kami melihat suami Nyonya berdua bersama Nona Bebek dan Nona Merpati, di tempat remang-remang, di taman kota.
98. Kasuari : Itu kan biasa. Mereka mungkin sedang jalan-jalan sekeluarga. Menikmati malam terang bulan yang indah ini.
99. Babon : Iya. Begitu saja kok didramatisir. Senangnya kok bikin dheg-dhegan.
100. Nyi Cendrawasih : Tapi mereka berkelompok secara terpisah-pisah.
101. Kasuari : Lho, yang namanya keluarga itu kan ya berkelompok-kelompok. Biasakan.
102. Nyi Kuntil : Bukan begitu, Nyonya. Mereka berkelompok dua-dua. Berpasangan!
103. Kasuari : Apa …! Mereka berpasangan di taman kota?
104. Nyi Kuntil + Nyi Cendrawasih : I … I … ya …
105. Kasuari : Wah, gawat. Kita harus menyelidikinya ke sana, Mbakyu.
106. Babon : Iya, benar.
107. Kasuari : Ayo. Nyi Kuntil dan Nyi Cendrawasih, tunjukkan tempatnya.




108. Nyi Kuntil + Nyi Cendrawasih : Baik, Nyonya. (MEREKA BERGEGAS PERGI KE TAMAN KOTA UNTUK MENYELIDIKI KEBENARAN UCAPAN NYI KUNTI DAN NYI CENDRAWASIH).
BLACK OUT – FADE IN LCD

TAMAN KOTA MALAM HARI TERANG BULAN. SUASANANYA REMANG-REMANG. DI ANTARA RERIMBUNAN TANAMAN TAMAN, TAMPAK ENAM PASANG AYAM SECARA SILUET SEDANG BERCUMBU RAYU. SAWUNG JAGO BERPASANGAN DENGAN NONA BEBEK, GAGAK DENGAN NONA ITIK, JOKO PERKETUT DENGAN ANGSA, NAGATUMURUN DENGAN NONA ITIK DAN KAKAK TUA DENGAN BANGAU. DARI KEJAUHAN, TAMPAK
NY. KASUARI, NY. BABON, NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH BERINDAP-INDAP MENDEKATI YANG SEDANG PACARAN. MENELITI TIAP-TIAP PASANGAN DENGAN TELITI DAN CERMAT. SETELAH MENGETAHUI KEBENARAN DARI KATA-KATA NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH,
NY. KASUARI SERTA NY. BABON BERTERIAK HISTERIS LALU JATUH PINGSAN. SEMUA PASANGAN YANG SEDANG PACARAN TERKEJUT, BINGUNG DAN LARI BERSERABUTAN. ADA YANG SAMPAI BERTABRAKAN DENGAN PASANGAN ASLINYA. SITUASI BENAR-BENAR KACAU. SUARA TERKEJUT BERBAUR DENGAN JERIT KESAKITAN. SEKEJAP KEMUDIAN PANGGUNG KOSONG. TINGGAL NY. KASUARI DAN NY. BABON YANG PINGSAN, SERTA NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH YANG BERDIRI BENGONG. KEDUANYA NAMPAK GEDHAG-GEDHEG TIDAK HABIS PIKIR.








109. Nyi Kuntil : Begitulah ayam. Sama persis dengan manusia. Senang main cinta belakang, suka melanggar ketentuan dan kesepakatan yang sudah dicanangkan.
110. Nyi Cendrawasih : Mereka senang bikin resolusi, mengkampanyekan hak azasi dan mempropagandakan disiplin rasional, tapi kemudian mereka langgar.
111. Nyi Kuntil : Memang mengherankan. Beribu peraturan dikeluarkan dan ratusan kesepakatan disetujui, tetap saja terjadi penyelewengan, pelanggaran dan semacamnya. Memang aneh yang namanya ayam dan manusia itu.


 T A M A T 































Juara 3
Lomba Penulisan
Naskah Teater Remaja
Taman Budaya Jawa Timur
2006



Karena kekuasaan tidak gratis didapatkan.
Ia harus direbut dan diperjuangkan………sendiri!
KUDeTA









Sebuah Naskah Teater Remaja


Oleh:
JONED SURYATMOKO



PEMAIN
LINDA, siswi kelas II,
HELEN, siswi kelas II,
BUNGA, siswi kelas II,
RATNA, siswi kelas II,
NUNGKI, siswi kelas III, mantan Jagoan
MEYMEY, siswi kelas III, mantan Jagoan
KANDI, siswi kelas III, mantan Jagoan
BRIAN, siswa kelas III, idola kelas II dan III,
PAK ISWADI, guru pendamping OSIS, masih agak muda
KEPALA SEKOLAH, galak, hampir pensiun
IBU, ibu LINDA
Untuk adegan hiruk-pikuk bisa ditambahkan lebih banyak figuran, para siwa dan siswi yang lain

WAKTU
Sekarang

TEMPAT
SMA di Indonesia, halaman sekolah,
Kamar LINDA, Dalam hati LINDA
(selera lokal disesuaikan)


SINOPSIS KUDETA

Tahun ajaran baru sudah mulai. Murid kelas III yang baru akan segera menghadapi ujian nasional dan terlalu sibuk mengikuti bimbingan belajar. Kinilah saatnya bagi murid-murid kelas II yang baru untuk melakukan kudeta merebut kekuasaan jagoan sekolah mereka.
Empat murid kelas II, yakni LINDA, HELEN, BUNGA dan RATNA menyadari hal itu. Mereka tahu bahwa mereka harus segera menyusun rencana untuk segera menunjukkan bahwa merekalah jagoan murid perempuan di sekolah. Dengan demikian mereka bisa menguasai kantin, halaman sekolah dan juga toilet.
Masalah muncul ketika ternyata aksi kudeta mereka mengalami banyak halangan. Murid kelas III belum rela melepaskan jabatan jagoan mereka, Bunga dan Ratna sudah harus mengikuti bimbingan belajar sejak kelas II. Linda tertinggal sendiri ketika ternyata Helen juga sudah berhasil mendapatkan murid kelas III yang menjadi idola mereka.
Satu kesempatan tersedia ketika Linda ditawari menjadi Ketua OSIS, Namun tawaran itu ditolaknya. Baginya menjadi jagoan dengan jabatan hasil pemberian sekolah tidak akan membanggakan. Ia juga menyadari bahwa ia harus tetap siap mewujudkannya sendiri. Karena itulah kemenangan sebenarnya.

OPENING
Panggung dibiarkan lengang beberapa saat. Hanya ada beberapa kursi. IBU berdiri dengan tegak di ujung kanan panggung! Memandang ke arah entah!! Ingin berkata sesuatu dan selalu ingin berkata sesuatu. Lampu boleh terang boleh temaram. Tidak ada suara apapun! Pelan-pelan selembar demi selembar kertas putih jatuh dari langit-langit panggung. Selembar demi selembar! Penonton dibiarkan menikmati jatuhnya kertas-kertas tersebut dalam diam! Setelah beberapa saat.
OS. LINDA : (seperti bicara pada dirinya sendiri) Setiap kali aku menikmati liburan panjang dan bermalas-malasan, Ibu selalu mengingatkan aku. Dengan sedikit omelan tentu saja!
IBU : (tiba-tiba, melengking dari ujung kanan panggung) Beras sekarang mahal! Minyak semakin mahal. Sekolah juga mahal! Tidak ada yang murah sekarang! Jadi…kamu harus belajar dengan benar!!
OS. LINDA : Katanya, aku harus bersyukur karena masih bisa sekolah. Banyak orang yang ingin sekolah tapi tak bisa sekolah, sementara aku, kata ibu, menyia-nyiakan sekolah.
IBU : (tiba-tiba lagi, melengking dari ujung kanan panggung) Masa..sama anak sendiri ibu tega? Ibu tidak menyalahkanmu. Ibu tidak memaksamu! Kamu bebas berkegiatan apa saja! Tapi jangan lupa belajar!!!


Ketika IBU bicara, LINDA muncul dengan seragam sekolah dan tas, membawa buku hariannya, berjalan perlahan ke arah salah satu kursi. Kemudian duduk. Ia membuka bukunya, dan meneruskan menulis.
OS. LINDA : Ibu tidak tahu, bahwa liburan kali ini aku benar-benar menginginkan masuk sekolah kembali. Bukan karena aku ingin belajar lagi, tapi karena akan ada sesuatu yang berbeda.
IBU : (melengking lagi) Asal kamu tahu, Ibu percaya padamu!!!!
OS LINDA : Selama liburan aku membaca sejarah ini. Lebih dari sepuluh kali kudeta terjadi di Paraguay. Banyak pemimpin di Negara Amerika Selatan ini yang digulingkan dan digantikan dengan paksa. Tahun 1904 Juan Gaona melakukan kudeta dan menjadi presiden. Tahun 1905 Dr. Cecilio Baez melakukan kudeta. Emiliano Gonzales melakukan kudeta tahun 1908 dan Liberato Marcial Rojas melakukan kudeta tahun 1911. Sementara pada tahun 1912 kudeta dilakukan Dr. Pedro Pena. Kemudian, seperti kebiasaan kudeta berikutnya berkali-kali terjadi. Tahun 1921 Dr. Manuel Gondra dipaksa mengundurkan diri.
IBU : (tiba-tiba lagi) Jangan nakal! Jangan nakal!!
OS. LINDA : Pada tahun 1936 Kolonel Rafael Franco juga melakukan kudeta. Tahun 1937 Dr. Felix Paiva kudeta. Jendral Higinio Morinigo kudeta tahun 1940. Tahun 1948 Dr. Juan Natalico Gonzales dikudeta dan……
IBU : (tiba-tiba lagi) Jangan nakal! Jangan nakal!!Jangan!!
OS LINDA : tahun 1989 Jendral Adres Rodriguez melakukan kudeta.
IBU : (lebih pelan, hampir putus asa!!) Jangan!!

PAUSE!
IBU terdiam tertahan!! Mendesis-desis entah apa yang diucapkannya. Seperti ingin melarang seseorang. LINDA berhenti menulis dan melihat kertas-kertas yang masih jatuh. Tidak sesuatupun terjadi. Ia lalu menulis kembali.
OS. LINDA : Tahun ini aku sudah naik kelas II. Aku merasa sudah waktunya melakukan kudeta. Menggulingkan kekuasaan murid kelas III. Akan ada yang membuktikan siapa yang akan menjadi siswi jagoan di sekolah ini. Mereka harus turun!! Kelas III harus segera turun!!! Segera!!
IBU : Jangan nakal!!!!!!!!! Sudah Ibu bilang, Jangan nakal!!!

Lalu IBU berlari EXIT dengan cepat sambil terus berteriak!! Seperti tak ingin terlambat! LINDA melihat lembaran kertas terakhir jatuh.
Musik sepotong, tapi menyentak!!
Panggung menjadi terang!!

BAGIAN I
Halaman sekolah
1.
Sebelum kertas menyentuh lantai, muncul HELEN, BUNGA dan RATNA dengan teriakan-teriakan kegirangan. Suasana menjadi gaduh.
HELEN : (pamer pada LINDA) AKu tahu aku harus minta maaf! Karena aku tidak membawa oleh-oleh. Tapi asal kalian tahu, aku melewatkan liburan terindah kali ini! Tidak terceritakan, tidak terkatakan!
LINDA : Sayangnya, juga tidak ingin ditanyakan!
BUNGA : Memang kamu liburan dimana? Paling ke rumah nenek!

Disambut ketawa yang lainnya.
LINDA : Ini liburan! Kita bebas kemana saja kan!
BUNGA : Iya, nih! Susah kalau liburan! Kerjaanya makan terus! Kita jadi gendut semua nih! Lihat!

BUNGA menunjukkan badannya
RATNA : Itu sih memang sudah gendut sebelum liburan!

Yang lain ketawa. BUNGA juga. Lalu masing-masing saling memeriksa satu yang lainnya. Kulit mereka, pipi mereka, pinggul, kaki..sampai…
LINDA : (pada BUNGA) Wah,..kamu pakai tas baru ya!! He.. he… he… kaya anak SD saja, naik kelas pakai tas baru!!
BUNGA : Ih..ini hadiah!! Aku tidak minta dibelikan kok …!!!
HELEN : Tapi minta hadiah!!! Sama saja!!!
LINDA : kalian merasa berbeda?
HELEN : maksudnya?
BUNGA : ya, tentu saja!
LINDA : Aku merasa lebih.hm……apa ya…!
RATNA : Aku tidak merasa apa-apa!
LINDA : Kita sudah kelas II!
BUNGA : Lantas?
HELEN : aku tahu! Aku tahu! Kita jadi terasa lebih tua!
RATNA : memang kita tambah umur kan?
LINDA : Bukan itu! Kita merasa lebih tua karena di sekolah ini kita sekarang punya….
HELEN : adik kelas!

RATNA dan BUNGA menutup mulutnya!
RATNA : Benar juga!
BUNGA : Kita sekarang bukan yang paling bontot di sekolah ini.
LINDA : sekarang kita punya adik kelas. Kalian perhatiakan murid kelas I. Tahun lalu kita seperti itu! Dan, kalau kalian ingat….pengalamana buruk!
BUNGA : Ehm..aku tidak akan melupakan perlakukan kakak kelas tahun lalu!
Yang lain tertawa. Suasana ribut kembali!!

2.
Lalu tanpa mereka sadari muncul siswi-siswi kelas III. Mereka adalah NUNGKI, MEYMEY dan KANDIi. Masing-masing langsung diam.
NUNGKI : (menyindir LINDA) Wah, kayaknya ada yang tidak jadi dikeluarkan dari sekolah nih!
KANDI : Iya…atau jangan-jangan ibunya merengek-rengek ke Kepala Sekolah supaya dia tidak dikeluarkan….

NUNGKI, KANDI dan MEYMEY terbahak.
LINDA : Heh! Aku tidak mungkin dikeluarkan dari sekolah hanya karena pernah menjambak rambutmu dan memasukkanmu ke dalam bak mandi!!

Teman-teman LINDA tertawa. Juga LINDA. Wajah NUNGKI jadi semakin marah!
MEYMEY : Memang sih! Tapi emang enak jadi junior, jadi pecundang? Heh? Sudah menjadi peraturan tidak tertulis, kalian para adik kelas harus tunduk pada kakak kelas! Tidak ada tawar menawar. Kalian harus cium tangan pada kakak kelas. Ayo…..

MEYMEY mengulurkan punggung telapak tangannya seperti mempersilahkan mencium tangan. LINDA dan kawan-kawan tampak geram.
HELEN : Kalian memang kelewatan!! Kalian sudah tua! Sudah bau tanah!! Sebentar lagi juga keluar dari sekolah ini.

Teman-teman HELEN menyoraki!!!
KANDI : Sebentar lagi? Tidak salah tuh? Kami masih setahun di sini! Itu artinya, kami masih punya setahun untuk menindas kalian!! Tahu?
BUNGA : Ya..! tapi kalian harus menghadapi jam tambahan setiap hari. Kalian harus menghadapi ujian akhir!!
NUNGKI : Jangan salah! Kami masih cukup pintar untuk menghadapi ujian dan tetap menjadi jagoan!! Kalian? Hm…sepertinya masih harus banyak belajar?
BUNGA : Mungkin! Tapi bagaimana dengan ….?
NUNGKI : Pacar? Hm….murid-murid kelas III terlalu malas buat pacaran dengan adik kelas! Kalian kan manja! Anak kecil! Kolokan! Mereka lebih senang pacaran dengan kami!!

Pada saat berbicara seperti itu NUNGKI sudah yakin benar pada omongannya. Lalu BRIAN, idola anak-anak kelas III dan II muncul dengan langkahnya yang mantap. Ia menghampiri NUNGKI ingin mengucapkan sesuatu. Tapi NUNGKI menempelkan jari temunjukkanya di bibir BRIAN. Meminta pacaranya itu menahan pembicaraan.
BRIAN : Hm…….
NUNGKI : Brian, nanti saja ya!! Aku baru sibuk mengajari adik-adik kelas ini sopan-santun dan kepribadian. Nanti aku temui kamu! Ya?

BRIAN semula agak ragu-ragu, namun kemudian dia meninggalkan NUNGKI. BRIAN masih sempat melirik murid-murid kelas II, seperti ingin mengucapkan sesuatau tapi tak jadi. BRIAN lalu EXIT.
LINDA dan teman-temannya nampak geram dengan kecentilan musuhnya itu. Teman-teman NUNGKI nampak puas.
MEYMEY : Bagaimana? Kalian masih belum percaya kalau murid kelas III lebih suka pada kami?
RATNA : Tunggu saja saatnya!! Tapi bagaimanapun kalian sudah kelas III. Sudah saatnya kalian………….

Belum selesai RATNA mengucapkan kalimatnya, muncul KEPALA SEKOLAH yang berdiri dengan garang membawa pengeras suara! Pak ISWADI berdiri sampingnya seperti ajudan.
KEP. SEK : PERHATIANNNNN!!! Perhatian semuanya!! Sebagai Kepala Sekolah saya mengingatkan pada kalian semua, khususnya murid-murid kelas III. Kalian semua harus belajar lebih giat lagi, karena pada tahun ajaran ini kalian harus menghadapi ujian akhir. Persiapkan dengan sungguh-sungguh, supaya kelak kalian bisa diterima di perguruan tinggi yang bergengsi!! Saya sebagai Kepala Sekolah, sekali lagi mengingatkan: UJIAN!!!!!!!!!

MUSIK menghentak.
Murid-murid kelas III yakni NUNGKI, MEYMEY dan KANDI langsung panik. Mereka berlarian. KEPALA SEKOLAH masih juga mengulangi kata-kata ujian.

3.
LINDA dan kawan-kawan lebih lega setelah melihat murid-murid kelas III pergi. KEPALA SEKOLAH dan PAK ISWADI mendekati LINDA dkk.
KEP.SEK : Kalian jangan senang dulu! Tahun depan giliran kalian!!

LINDA dkk mengangguk hormat. KEPALA SEKOLAH melangkah pergi dengan membawa pengeras suara dan terus meneriakkan ujian. PAK ISWADI mengikuti dari belakang. Namun ia kembali lagi, sementara KEPALA SEKOLAH keluar.
P. ISWADI : Ehm…..LINDA?
LINDA : Ya, Pak? Ada apa?
P. ISWADI : Bapak berharap tahun ini sekolah kita lebih banyak mendapatkan prestasi. Kelas III sudah akan mulai menyiapkan diri untuk Ujian Nasional. Jadi, tanggung jawab kalian kelas II untuk mewakili sekolah kita di banyak acara. Kamu paham?
LINDA : Paham Pak!
BUNGA : Apa sudah ada undangan untuk acara-acara dengan sekolah lain, Pak?
P. ISWADI : Belum! Tapi kita bisa memperkirakan kalau acara-acara rutin tahunan tetap akan berjalan. Untuk itu kalian juga harus membuat banyak persiapan.
LINDA : Tapi, tentu tidak hanya kami yang menyiapkan semua ini kan, Pak?
HELEN : Ya, Pak! Biasanya kami hanya terlbat di acara olah raga saja! Sesekali membantu anak-anak musik dan teater memeriahkan suasana! Kami hanya penggembira.
P. ISWADI : Benar begitu Linda?
LINDA : Ya, Pak!
P. ISWADI : Bapak tahu itu! Tapi saya mengatakan hal ini karena akan ada perubahan dengan itu. Saya mencalonkan Linda untuk menjadi Ketua OSIS periode mendatang. Dengan begitu, Linda akan banyak mengurusi hal-hal lain juga.
LINDA : Itu kalau saya terpilih.
P.ISWADI : Saya yakin kamu yang akan terpilih.
LINDA : Kalau begitu saya mengundurkan diri saja sebelum dicalonkan. Saya tidak bersedia.

PAUSE
PAK ISWADI membuang nafas panjang seperti tahu seperti apa jawaban LINDA. Ia hanya melihat LINDA dan teman-temannya. Lalu
P.ISWADI : Baiklah, saya tidak memaksa. Tapi kamu pikirkan lagi Linda! Kalau kamu berubah pikiran hubungi saya. Dan saya yakin, kamu akan berubah pikiran!
LINDA : Baik, Pak! Kita lihat nanti perkembangannya!

PAK ISWADI lalu hendak EXIT. Tapi ia teringat sesuatu lalu kembali lagi.
P. ISWADI : Kamu tidak ada masalah dengan kelas III kan?
LINDA : (kaget) Tidak Pak!
P. ISWADI : Baik!

PAK ISWADI lalu EXIT.

4.
LINDA dan kawan-kawan melihat kepergian P. ISWADI. Begitu guru mereka itu pergi,
HELEN : Kenapa?
LINDA : Apanya yang kenapa?
RATNA : kenapa kamu tolak tawaran tadi?
BUNGA : Tidak semua murid di sekolah ini ditawari Pak Iswadi menjadi Ketua OSIS!!
LINDA : kalian ingin tahu kenapa?

Ketiga temannya mengangguk
LINDA : Karena, kalau aku menerima tawaran menjadi ketua OSIS, aku tidak akan punya waktu untuk bertukar jajan dengan kalian waktu istirahat. Gak ada waktu untuk nonton DVD bareng kalian. Jadi, aku lebih memilih kalian!
HELEN : Tapi Lin, …
LINDA : Itu baru alasan pertama. Alasan kedua adalah, aku akan mengajak kalian untuk menghajar anak-anak kelas III.
BUNGA : wah, kamu cari mati!
RATNA : Mana bisa kita mengalahkan kelas III.
LINDA : Percaya deh!!! Kelas III sudah tidak punya gigi. Ini adalah saat yang tepat untuk menyingkirkan mereka. Heh…

Ketiga kawannya diam.

LINDA : Sekarang kalian pikir! APa kalian tidak risih melihat kelas III yang sok tua itu menguasai kantin! Makan sambil teriak-teriak seperti di rumah nenek mereka sendiri? Apa kalian mau setiap kali dapat giliran terakhir di toilet sampai antrian kelas III habis? Kalian mau, semua murid ganteng kelas III yang jago basket, jago main gitar, jago bikin film pendek dan, jago game online semua jadi pacar kelas III, dan menganggap kita hanya anak-anak lulusan SMP? He?

Ketiga kawanya diam. Masih diam.
LINDA : Aku tidak mau! Aku yakin sekarang saatnya menjatuhkan mereka. Ini waktu yang tepat. Kalian lihat tadi bagaimana sebentar lagi mereka bakalan kerepotan menghadapi ujian nasional? Ini saat yang tepat!
HELEN : Lantas apa rencanamu?
LINDA : Mulai besok, kita yang akan teriak-teriak di kantin. Kelas I tidak akan berani mengganggu kita karena mereka masih baru.
RATNA : tapi kelas III bakalan marah besar!
LINDA : Ya, tapi mereka tidak akan berani berbuat apa-apa.
BUNGA : Kenapa? Karena Kepala Sekolah sudah kasih peringatan supaya mereka siap-siap ujian nasional?
LINDA : Persis!!! Mereka tidak akan berani ambil resiko.

Linda melihat teman-temannya, memberi mereka waktu untuk berpikir. Muncul IBU menyeberang panggung sambil berteriak
IBU : Sudah Ibu bilang, jangan nakal!

IBU lalu EXIT. LINDA masih memberi waktu.
LINDA : Bagaimana?

Mereka tidak menjawab. Tapi wajah LINDA menangkap tanda bahwa ia mendapat dukungan mereka.
Lampu BLACK OUT. Musik menghentak.

BAGIAN II
Kamar LINDA
1.
LINDA nampak sedang membuka-buka tasnya. Mencari sesuatu. Ditemukannya buku harian. Dibuka, hendak menulis sesuatu. Lalu HP-nya berbunyi. Di ujung panggung yang lain sepotong cahaya untuk BRIAN yang sedang menelepon LINDA.
LINDA : Halo?
BRIAN : Halo, Linda!
LINDA : Siapa ya?
BRIAN : Apa penting kamu tahu siapa aku?
LINDA : Penting! Karena kamu menelepon aku!
BRIAN : Simpan nomerku. Ini aku, BRIAN!

LINDA menutup mulutnya. Lalu buru-buru merapikan diri.
BRIAN : Haloooo…Linda? Kamu masih di sana?
LINDA : Hm…hm….ya!
BRIAN : Tidak perlu gugup!
LINDA : Ak…aku…tt…idak….gu…gugup!!
BRIAN : Ok, AKu tahu kamu tidak gugup. Aku tahu dari suaramu.

PAUSE. LINDA mengambil nafas panjang dan membuangnya ke samping, menjauhi HP di dekat mulutnya.
BRIAN : Sedang apa kamu?
LINDA : Sedang nunggu teman.
BRIAN : Aku mengganggu ya?
LINDA : Hm…belum!
BRIAN : (tertawa) Kamu lucu! Dan..juga cantik!

LINDA hanya diam. Melihat gelagat aneh pada BRIAN!
BRIAN : Kamu besok malam ada acara?
LINDA : Hm…Dengar BRIAN! Aku …aku tidak bisa!

IBU muncul menghampiri LINDA yang sedang menelepon. Berdiri di pintu kamar LINDA.
IBU : Lin, teman-temanmu sudah datang!
LINDA : Sebentar, Bu!
IBU : Ibu suruh mereka masuk ya?
LINDA : (berpikir sebentar) YA!

IBU EXIT. LINDA meneruskan menelepon.
BRIAN : Siapa tadi?
LINDA : Ibuku! Temen-temanku sudah datang, katanya!
BRIAN : Apa yang mau kamu ucapkan tadi?
LINDA : yang mana?
BRIAN : sebelum Ibumu datang.
LINDA : …aku Cuma mau bilang kalau..aku tidak bisa!
BRIAN : kenapa?
LINDA : Pokoknya tidak bisa! Sudah ya!

LINDA menutup telepon! BRIAN di ujung pangung yang lain kaget. Ia membuang nafas panjang lalu EXIT.

2.
Dari arah panggung lain (arah dimana Ibu EXIT), IBU, HELEN dan BUNGA muncul.
IBU : Kalian pasti semakin banyak tugas sekolahnya ya?
HELEN : Memang, Tante! Tapi kalau dikerjakan bersama kan jadi mudah.

IBU tertawa senang.
IBU : Sering-seringlah main kemari. Ajak Linda belajar! Tuh, dia sudah menunggu kalian di dalam kamar! Tante tinggal dulu ya!
BUNGA : Baik, Tante!

IBU lalu EXIT. HELEN dan BUNGA masuk kamar LINDA.
LINDA : Lama banget?
HELEN : Hm..ada masalah!
LINDA : Masalah apa?

HELEN tidak menjawab! Hanya melihat ke arah BUNGA!
LINDA : (ke arah BUNGA) Masalah apa?
BUNGA : AKu harus mengikuti bimbingan belajar mulai tahun ini! Aku tidak bisa ikut rencana kalian untuk menghajar Kelas III. Aku tidak akan punya waktu lagi! Aku akan jadi sesibuk Ketua OSIS. Atau mungkin…lebih sibuk!
LINDA : Kamu tidak bisa menawar?
BUNGA : Menawar itu berarti melawan! Melawan berarti mencari mati!
HELEN : (pada LINDA) Lalu apa rencanamu?
LINDA : harus tetap dilakukan! Hanya Bunga yang tidak bisa! Kita masih bertiga!
BUNGA : Maaf ya Lin, Karena aku semua berantakan!
LINDA : Kalau boleh tahu kapan kamu tahu kalau kamu bakalan ikut bimbiungan belajar?
BUNGA : Sejak minggu terakhir liburan!
HELEN : Jadi sebenarnya kamu sudah tahu lama?

BUNGA mengangguk.
LINDA : kenapa baru bilang sekarang?
BUNGA : Aku mencoba menawar seperti usulmu tadi. Tapi yang sekarang ini sudah keputusan final. Aku tidak bisa menawar lagi.

PAUSE
HELEN : Sebenarnya kita kan bisa belajar kelompok.
BUNGA : Aku sudah katakan itu pada ayahku, tapi katanya belajar kelompok tidak menjamin aku dapat universitas bagus.
LINDA : memang kalau bimbingan tes kamu dapat jaminan?
BUNGA : tidak juga! Tapi kata ayah, peluangnya lebih besar!

PAUSE
BUNGA : Maaf ya! Aku tidak bisa ikut!
LINDA : Tapi kalau kita nongkrong di kantin kan kamu masih bisa ikut?
BUNGA : kayaknya tidak juga! Ayahku menitipkan aku ke sekolah! Aku memang masih bisa ke kantin. Tapi hanya untuk istirahat! Tidak untuk menyerang kelas III.

PAUSE
Suasana menjadi kaku. Masing-masing tidak tahu apa yang harus dilakukan.
BUNGA : Maaf, ya Lin!
LINDA : Tidak apa-apa! Kita masih ada bertiga!

RATNA muncul tiba-tiba.
RATNA : Aku juga tidak bisa!

Semua menoleh ke arah RATNA yang baru saja muncul!
LINDA : maksudmu?
RATNA : aku juga harus bimbingan belajar!
HELEN : tapi kita belum akan ujian nasional!
LINDA : Ujian kita masih tahun depan.

RATNA dan BUNGA diam. Lalu di ujung panggung yang lain, yang tadi digunakan oleh BRIAN muncul KEPALA SEKOLAH dan PAK ISWADI.Sepotong cahaya untuk mereka berdua. KEPALA SEKOLAH berbicara dengan pengeras suara! LINDA dkk berbicara dalam ketakutan dan kepanikan!
KEP. SEK : PERHATIANNNNN!!! Perhatian semuanya!!
BUNGA : (tiba-tiba, yang sudah merasa tertekan) Kepala Sekolah selalu mengingatkan kita!
LINDA : tapi itu untuk kelas III. Bukan untuk kita.
KEP.SEK :Sebagai Kepala Sekolah saya mengingatkan pada kalian semua, khususnya murid-murid kelas III.
HELEN : Ya, itu untuk kelas III.
KEP.SEK : Kalian semua harus belajar lebih giat lagi, karena pada tahun ajaran ini kalian harus menghadapi ujian akhir. Persiapkan dengan sungguh-sungguh, supaya kelak kalian bisa diterima di perguruan tinggi yang bergengsi!!
BUNGA : tapi kenapa ibu menyuruhku bimbingan belajar?
KEP.SEK : Saya sebagai Kepala Sekolah, sekali lagi mengingatkan: UJIAN!!!!!!!!!

LINDA, HELEN, BUNGA dan RATNA saling pandang. BUNGA dan RATNA sangat ketakutan. Mereka menyambar tasnya dan berlari keluar! LINDA memanggil. HELEN berlari menyusul. Pada saat itu KEPALA SEKOLAH dan PAK ISWADI keluar.
Mereka EXIT. Semua EXIT! Hanya tinggal LINDA
MUSIK SEPOTONG tapi gaduh!

3.
LINDA melihat pada HP-nya. Lalu ia memencet dua kali! Memencet nomer BRIAN yang sudah tersimpan. Di ujung panggung yang lain BRIAN muncul dengan cahaya sepotong.
BRIAN : Sudah berubah pikiran?
LINDA : Besok kita ketemu! Istirahat kedua!
BLACK OUT
MUSIK! Meneruskan potongan sebelumnya!

BAGIAN III
Taman Sekolah. Pada sebuah bangku!
1.
BRIAN menunggu LINDA di sebuah bangku taman sekolah. Tampak tenang dan yakin kalau LINDA akan datang. HELEN muncul dengan canggung.
BRIAN : Hi!
HELEN : Hm…… Tunggu saja! Sebentar lagi dia juga ke sini!
BRIAN : Dia titip pesan apa?
HELEN : Tidak ada pesan apa-apa! Dia hanya bilang kamu tunggu saja di sini!
BRIAN : Hm..baik! Tidak masalah!

HELEN hampir EXIT. Tapi,
BRIAN : (berteriak) tapi dia pasti ke sini?
HELEN : (berteriak) Dia bilang dia bakalan ke sini! Tunggu sajaaaa…!

BRIAN sendirian di bangku taman. Sesekali masih melihat HELEN yang menghilang. Dari arah panggung lain muncul LINDA.
LINDA : Maaf, kamu harus menunggu!
BRIAN : Maaf juga, ….!
LINDA : Untuk apa?
BRIAN : Tidak untuk apa-apa! Hanya supaya kita impas!

LINDA tertawa. BRIAN juga. PAUSE
LINDA : Ada yang mau kamu katakan?
BRIAN : Bukannya kamu yang mengajak aku ketemu?
LINDA : Ya, tapi karena kemarin kamu mengajak kita ketemu!
BRIAN : Eh…..kalau aku ya karena hanya ingin ketemu.

LINDA terdiam.
LINDA : Aku khawatir, …ehm….
BRIAN : Aku sudah putus dengan Nungki.

LINDA mengerutkan kening dan menahan gembira. Seperti menemukan sesuatu yang diharapkan.
LINDA : kenapa?
BRIAN : Dia terlalu banyak belajar!
LINDA : kalian kan memang sudah kelas III. Kalian akan menghadapi ujian nasional.
BRIAN : Ya, tapi bukan itu kesepakatanku dengan Nungki dulu. Kami akan tetap jalan. Tapi yang sekarang terjadi, dia jadi tidak asyik lagi kalau diajak jalan.
LINDA : Aku juga tidak asyik kalau diajak jalan!
BRIAN : Tidak kalau dengan aku!
LINDA : Karena aku memang tidak bisa!
BRIAN : kenapa?
LINDA : Hm….aku juga tidak bisa jawab sekarang.
BRIAN : Bisa kita coba dulu?
LINDA menggeleng. BRIAN tidak memaksa. Dengan langkah agak lesu dia. meninggalkan LINDA sendiri.

2.
HELEN muncul dari arah yang lain.
HELEN : kenapa dia pergi? Kenapa tidak kamu teruskan?
LINDA : dia hanya akan menganggu rencana kita!
HELEN : tapi bukankah Nungki bakalan merasa kalah kalau Brian jalan sama kamu. Brian itu trophi pertarungan ini. Kenapa kamu biarkan lepas?
LINDA : Bukan Brian yang jadi trophi. Tapi kemauan Brian. Jadi kalau hanya untuk membuktikan Nungki telah kalah dalam pertarungan babak awal ini, cukuplah kalau Brian meninggalkan dia. Selebihnya kita tidak perlu mengurus Brian. Dia Cuma bakalan bawa perkara. Paham?
HELEN : Tapi…
LINDA : Sudahlah, lebih baik kita mencari cara untuk usaha yang lainnya. Seperti, bagaimana caranya mulai besok, kelas III tidak lagi nyaman di kantin.
HELEN : tapi kamu lihat sendiri, mereka sepertinya tidak peduli dengan ujian nasional. Mereka masih santai-santai saja!
LINDA : Siapa bilang? Nungki hanya berlagak dia tidak khwatir dengan ujian nasional! Padahal, dia sudah tidak punya waktu lagi jalan sama Brian. Itu sebabnya Brian car-cari yang lain.
HELEN : oh, ya? Kenapa tidak kamu terima?
LINDA : jangan dibahas lagi! Tidak penting!
HELEN : Hm..baik!
LINDA : Intinya, Brian memberi kita informasi penting! Kelas III kelabakan mempersiapkan ujian nasional. Mereka harus merasa bahwa mereka terlalu tua untuk bersantai-santai di kantin. Mereka harus terus membaca di kelas, sekalipun jam istirahat. Mereka harus ikut pelajaran tambahan sepulang sekolah. Mereka harus ikut bimbingan belajar. Mereka harus selalu ingat bahwa mereka akan menghadapi ujian nas…..

3.
Belum selesai LINDA mengucapkan kalimatnya, muncul KEPALA SEKOLAH yang berdiri dengan garang membawa pengeras suara! Pak ISWADI berdiri sampingnya seperti ajudan. (mengulang adegan sebelumnya di BAGIAN I)
KEP. SEK : PERHATIANNNNN!!! Perhatian semuanya!! Sebagai Kepala Sekolah saya mengingatkan pada kalian semua, khususnya murid-murid kelas III. Kalian semua harus belajar lebih giat lagi, karena pada tahun ajaran ini kalian harus menghadapi ujian akhir. Persiapkan dengan sungguh-sungguh, supaya kelak kalian bisa diterima di perguruan tinggi yang bergengsi!! Saya sebagai Kepala Sekolah, sekali lagi mengingatkan: UJIAN!!!!!!!!!

Musik menghentak.
Murid-murid kelas III yakni NUNGKI, MEYMEY dan KANDI muncul tiba-tiba di sekeliling panggung dan langsung panik. Mereka berlarian. KEPALA SEKOLAH masih juga mengulangi kata-kata ujian.
LINDA dan HELEN saling memandang. Kelas III EXITi. KEPALA SEKOLAH dan PAK ISWADI mendekati LINDA dan HELEN..
KEP.SEK : Kalian jangan senang dulu! Tahun depan giliran kalian!!

LINDA dkk mengangguk hormat. KEPALA SEKOLAH melangkah pergi dengan membawa pengeras suara dan terus meneriakkan ujian. PAK ISWADI mengikuti dari belakang. Namun ia kembali lagi, sementara KEPALA SEKOLAH keluar.
P. ISWADI : Ehm…..LINDA?
LINDA : Ya, Pak? Ada apa?
P. ISWADI : Bapak berharap tahun ini Bapak berharap sekolah kita lebih banyak mendapatkan prestasi. Kelas III sudah akan mulai menyiapkan diri untuk Ujian Nasional. Jadi, tanggung jawab kalian kelas II untuk mewakili sekolah kita di banyak acara. Kamu paham?

LINDA mengangguk. PAK ISWADI EXIT.
IBU menyeberang panggung dengan cepat!
IBU : Kamu paham? Kamu paham? Kamu paham?
IBU EXIT!
BLACK OUT. MUSIK SEPOTONG

BAGIAN IV
Dalam hati LINDA
Cahaya sepotong pada LINDA
LINDA :Jika memang kudeta harus dilakukan, dengan cara bagaimana sebaiknya aku melakukannya? Bukankah kelas III memang sudah waktunya untuk tidak lagi membuat onar di kantin? Bayangkan bagaimana rasanya jika kita harus melihat murid-murid yang sudah hampir tiga tahun di sekolah ini masih terus-menerus menuntut perhatian dari seluruh sekolahan dengan tingkahnya yang aneh! Menyanyikan lagu ulang tahun di kantin, menyatakan cinta di kantin, membicarakan potongn rambut di kantin, bertukar foto di kantin! Pacaran juga di kantin! Bukankan mereka seharusnya memang sudah tidak perlu lagi di kantin! Istirahat kelas II di kantin! Istirahat kelas III di perpustakaan. Atau tinggal saja di kelas dan meneruskan belajar. Tidak bisa ditawar, kudeta harus dilakukan! Apapun caranya! Bagaimanapun caranya!

BAGIAN V
Kamar LINDA
1.
HELEN hanya memandang LINDA yang nampak serius.
LINDA : kenapa kamu tidak yakin?
HELEN : Bukannya tidak yakin, tapi menghitung semuanya dengan lebih hati-hati.
LINDA : Mempermalukan mereka di kantin adalah satu-satunya cara untuk mengusir mereka.
HELEN : Tapi kenapa di kantin?
LINDA : Kantin, adalah tempat paling strategis untuk menyebarkan kekuasaan! Lebih dari ruang kepala sekolah, ruang guru, kelas apalagi UKS! Itulah kantin! Kita harus merebutnya!
HELEN : Kamu yakin!
LINDA : Tidak pernah seyakin ini!
HELEN : meskipun kita hanya berdua?
LINDA : Bisa kita lakukan! Tergantung caranya!
HELEN : bagaimana?
LINDA : Kita gunakan yang sudah kita punya! BRIAN!
HELEN : katanya kamu tidak akan menerima anak itu?
LINDA : Aku hanya akan menggunakannya! Tidak akan pacaran dengannya! Tapi tentu saja dia harus tahu seolah-olah memang kami akan pacaran?
HELEN : Jadi?
LINDA : Besok aku akan ketemu Brian dan mengajaknya ke kantin! Melewati barisan kelas III. Mereka akan tahu dengan siapa BRIAN akan pacaran sekarang ini!
HELEN : bagaimana kalau Brian tidak mau?
LINDA : pasti mau! Kecuali sudah ada pengacau lain!
HELEN : Pengacau?
LINDA : ya, aku sengaja membuat jawabanku pada Brian masih mengambang! Jadi kalau selama masa mengambang itu dia sudah berubah haluan, dia pasti sedang dikacaukan oleh seseorang!

HELEN diam. LINDA juga diam.
LINDA : kenapa kamu?
HELEN : Hm….tidak apa-apa! Hanya memikirkan apakah lebih baik jika kita memikirkan cara lain. Cara cadangan kalau cara ini gagal!
LINDA : jangan takut! Aku punya banyak rencana cadangan! Bukan karena aku takut gagal. Tapi karena aku yakin dibutuhkan lebih banyak cara untuk menjatuhkan kelas III.
HELEN : (tiba-tiba) mungkin lebih baik aku pulang dulu. Sampai ketemu besok.

HELEN EXIT dengan sedikit berlari!

2.
Selepas HELEN EXIT, mata LINDA menangkap sebuah benda. HP HELEN ketinggalan. LINDA segera mengambilnya.
LINDA : LEN, HP-mu………………!

Tapi HELEN tidak mendengar. LINDA juga tidak mengejar. IBU muncul dengan kawatir.
IBU : Kenapa? Kalian bertengkar?
LINDA : Tidak, Bu! HP Helen ketinggalan! Aku panggil tapi mungkin dia tidak dengar. Tidak apa-apa, nanti juga pasti kembali!

PAUSE.
LINDA melihat IBU yang tidak segera pergi.
LINDA : Ada apa, Bu?
IBU : Boleh Ibu bicara?

LINDA tidak menjawab. IBU tidak bergerak dari tempatnya. Menganggap LINDA menjawab ya atas pertanyaannya.
IBU : Kamu sekarang sudah kelas II.
LINDA : terus?
IBU : Kamu pantas menjadi Ketua OSIS!
LINDA : Ibu, kenapa langsung membicarakan hal itu? Biasanya kalau seorang Ibu mau merayu anaknya, mereka bicara berputar-putar dulu. Kenapa Ibu langsung saja mengatakan hal itu?
IBU : Buat apa? Kamu terlalu pintar untuk diajak bicara putar-putar bukan?
LINDA : dari mana ibu tahu sekolah memintaku jadi ketua OSIS?
IBU : Pak ISWADI telepon.
LINDA : Apa dia bilang?
IBU : Seperti yang ibu ingin bicarakan sekarang.
LINDA : menurut Ibu kenapa aku tidak mau?
IBU : Karena kamu tidak ingin jadi ketua OSIS.
LINDA : Ibu tidak mempertanyakan itu?
IBU : Ibu yang melahirkan kamu. Ibu cukup tahu kalau kamu tidak ingin, memang kamu tidak ingin. Tidak perlu ada penjelasan. Tapi ini Ibu. Kamu harus menjelaskan kenapa kamu tidak mau. Mungkin orang lain harus tahu alasanmu.
LINDA : Aku sudah menjelaskan kepada mereka.
IBU : Apa alasanmu?
LINDA : Ya, karena aku tidak ingin. Itu sudah alasan kuat bagiku. Tidak perlu ada penjelasan.

IBU merasa perdebatan percuma. Ia hanya mengambil nafas panjang.
IBU : kamu tahu, apa yang penting bagi ibu?
LINDA : Belajar!
IBU : bagus, jangan lupakan itu!

IBU hendak EXIT tapi matanya menangkap sebuah benda. HP Helen.
IBU : Itu HP Helen?
Linda : Yap. Tidak apa-apa. Dia akan mengambilnya nanti!
IBU : Kalau sampai malam dia tidak mengambil, kamu telepon rumahnya! Siapa tahu dia mencari-cari!

LINDA memegang HP Helen dan menunjukkannya pada IBU. Tapi IBU tidak tertarik. IBU kemudian EXIT

3.
LINDA meletakkan kembali HP HELEN. Tapi HP berbunyi. Di ujung panggug yang lain sepotong cahaya untuk BRIAN yang sedang menelepon! LINDA mengangkat HP HELEN dan diam beberapa saat. Nada dering masih terdengar! LINDA tidak mengangkat! Nada dering berhenti.
BRIAN menelepon HELEN kembali. HP HELEN berbunyi. LINDA sekali lagi memandang HP HELEN dan diangkatnya.
BRIAN : Halo, Helen? Kenapa lama sekali?

LINDA tidak menjawab karena begitu yakin yang terdengar suara BRIAN! LINDA menutup telepon tanpa menjawab. LINDA meletakkan telepon. Di ujung panggung lain BRIAN nampak kaget. Dia diam sejenak dan penasaran.
HELEN muncul kembali.
HELEN : Lin, HP ku ketinggalan di sini ya?

LINDA hanya menunjuk dengan matanya. HELEN segera mengambil HP-nya tanpa mengira ada yang baru saja terjadi.
LINDA : kamu sedang menunggu telepon ya?
HELEN : Iya! Kok tahu?
LINDA : Dari siapa?
HELEN baru merasa ada yang salah! Dilihatnya LINDA yang terus menatapnya. Pada saat itu di ujung panggung yang lain BRIAN menelepon. HP HELEN berbunyi. LINDA dan HELEN saling pandang. HELEN sudah bersiap hendak berlari pergi.
BLACK OUT
MUSIK SEPOTONG!

BAGIAN VI
Dalam hati LINDA.
Cahaya sepotong. LINDA terduduk. Di belakangnya berdiri KEPALA SEKOLAH, IBU, PAK ISWADI, NUNGKI, BRIAN, dan HELEN. Semua memandang ke arah entah!
LINDA : Ada masalah? Apa kalian punya masalah dengan yang kulakukan ini sehingga selalu saja kalian membuat rencana ini sendiri? APA ADA MASALAH?
P. ISWADI : Sekolah kita harus tetap berprestasi! Saya ingin kamu yang menjadi ketua OSIS!
LINDA : Saya tidak mau!
KEP. SEK : Kalau begitu ikut saja ujian dengan kelas III supaya kamu segera lulus!
LINDA : Kelas III ujian, Pak! Saya tidak! Saya masih kelas II.
IBU : (melengking) Jangan nakal! Jangan nakal!
KEP. SEK : Tapi kamu tidak mau menjadi ketua OSIS
LINDA : Ketua OSIS dan ujian? Itu sama menakutkannya dengan perang nuklir!
BRIAN : kenapa tidak bisa jalan sama aku?
NUNGKI : kenapa kamu mengambil BRIAN!
HELEN : kenapa kamu menolak?
LINDA : Brian bukan trophinya! Tapi kemauan Brian meninggalkan Nungki, itulah pertanda kemenangannya! Kamu sedang menunggu telepon?
HELEN : dari mana kamu tahu?
IBU : Sudah ibu bilang….
KEP. SEK : Ujian!!!!!!!!!!!!!!!!
P. ISWADI : kalian tidak ada masalah dengan kelas III kan?
BRIAN : Bisa kita coba dulu! Dia terlalu banyak belajar!
LINDA : Kamu menunggu telepon?
IBU : Lin, teman-temanmu sudah datang!
Kep. Sek : jangan senang dulu! Tahun depan giliran……..
IBU : Kalian………………..Jangan nakal!
NUNGKI : Kenapa kamu mengambil BRIAN? Kenapa kamu?
HELEN : Bagaiamana caranya?

Dari arah berlawanan RATNA dan BUNGA muncul, masuk dalam potongan cahaya dengan paksa!! Beberapa yang tersenggol ambruk!!
BUNGA : Aku harus ikut bimbingan belajar!
RATNA : Aku juga!
LINDA : Ini sudah waktunya! SUDAH WAKTUNYA!
BLACK OUT
TANPA MUSIK. Hanya diam!

BAGIAN V
Halaman Sekolah
1.
LINDA sedang berbicara dengan KEPALA SEKOLAH. PAK ISWADI berada di samping KEPALA SEKOLAH sebagai ajudan. Seperti biasa!
KEP. SEK : Memang tidak ada yang mudah!
LINDA : Bagi saya bukan itu masalahnya!
KEP. SEK : secara organisasi itu yang akan menjadi masalah! Kalau kamu merasa belum mampu, akan ada pelatihan kepemimpinan. Kamu akan diajari banyak hal untuk menjadi ketua OSIS dan mengatur anak buahmu!
LINDA : Bagi saya masalahnya adalah kemauan! Saya merasa saya bukan orang yang tepat!
KEP. SEK : Kemauan bisa dipaksakan!
LINDA : Itulah masalahnya, saya tidak mau memaksa diri saya sendiri.
KEP. SEK : Dari laporan Pak ISWADI kamu sangat sukses menjadi koordinator bidang tahun lalu. Itulah sebanya, PAK ISWADI memberi rekomendasi supaya kamu masuk bursa calon ketua OSIS!
LINDA : Itu bukan perjuangan! Itu pemberian!
KEP. SEK : Tidak ada di dunia ini yang merupakan hasil perjuangan! Itu semua pemberian! Kalau orang merasa berhasil mendapatkan sesuatu karena perjuangan, itu pasti hanya perasaannya saja! Yang benar terjadi adalah itu pemberian. Hanya saja terjadi pada waktu yang bersamaan. Itulah sebabnya orang menyebutnya perjuangan!
LINDA : Setidaknya saya menginginkan yang perjuangan itu! Dalam arti apapun!
KEP. SEK : jadi apa yang kamu inginkan?
LINDA : Saya ingin menguasai kantin, toilet, halaman sekolah, lapangan parkir motor! Tambah satu bidang lagi, trotoir depan sekolah kita!
KEP. SEK : Tapi itu area pemberontak! Jangan-jangan….?

Terlambat. LINDA sudah mundur beberapa langkah! MUSIK FADE IN bersiap mengiringi adegan laga yang kemungkinan akan terjadi spekakuler.
LINDA : (berteriak mengomando peperangan) SERBU!!!!!!

Tapi hening!
LINDA mengulang sekali lagi
LINDA : SERBU!!!!!!!!!!

Tapi hening! Sepi!
LINDA mengulang sekali lagi
LINDA : SERBU!!!!!!!!!!

Tapi hening! Semakin sepi! LINDA mulai meragukan dirinya sendiri.
KEPALA SEKOLAH hanya tersenyum. PAK ISWADI juga tersenyum. IA memberikan pengeras suara kepada KEPALA SEKOLAH. (mengulang adegan sebelumnya di BAGIAN I)
KEP. SEK : PERHATIANNNNN!!! Perhatian semuanya!! Sebagai Kepala Sekolah saya mengingatkan pada kalian semua, khususnya murid-murid kelas III. Saya sebagai Kepala Sekolah, sekali lagi mengingatkan: UJIAN!!!!!!!!! UJIAN!!!!

MUSIK menghentak. Lebih bergemuruh dari sebelumnya!!
Murid-murid kelas III yakni NUNGKI, MEYMEY dan KANDI muncul tiba-tiba di sekeliling panggung dan langsung panik. Mereka berlarian. KEPALA SEKOLAH masih juga mengulangi kata-kata ujian.
KEP.SEK : Kelas II, kalian jangan senang dulu! Tahun depan giliran kalian!!

2.
MUSIK PAUSE
Panggung lebih sepi. Semua sudah EXIT. Kecuali LINDA dan NUNGKI. Mereka saling memandang beberapa saat!
LINDA hendak mendekat. NUNGKI mengangkat tangan menyuruh LINDA tetap menjauh.
NUNGKI : Bagus, anak kecil! Apa saja yang sudah kamu pelajari selama dua minggu menjadi anak kelas II?
LINDA : Apa pedulimu?
NUNGKI : Apa peduliku? Tentu saja aku peduli! Kamu sedang mempersiapkan diri untuk menjadi siswi jagoan sekolah ini kan? Dan itu artinya, kamu sedang ingin menyingkirkan aku! Tentu saja aku ingin tahu, sampai dimana usahamu!
LINDA : Berjalan baik! Tidak ada halangan!
NUNGKI : Tidak ada halangan? Yang benar saja? Lantas kenapa kamu sendirian? Dimana kawan-kawanmu yang lain?
LINDA : Mereka ada urusan lain! Jadi tidak ada waktu untuk berurusan dengan kamu!
NUNGKI : Betapa enaknya punya teman kamu! Masih melindungi teman yang mengkhianati! Kalau aku, lebih baik kuhajar teman seperti itu!
LINDA : Itulah bedanya kamu dan aku! Aku tidak pernah serendah itu dalam berteman!
NUNGKI : Benarkah? Masalahnya adalah, kalian tentu tidak akan berjalan sendiri-sendiri jika masih berteman.

LINDA terdiam. NUNGKI mengawasi dengan hati-hati!
NUNGKI : Heh..dengar baik-baik! Aku tidak akan mengaku kalah!
LINDA : tapi kamu akan kalah!
NUNGKI : (memotong dengan berteriak cepat) Dengar baik-baik!!

PAUSE
NUNGKI : Dengar baik-baik! Aku tidak akan mengaku kalah meskipun kamu nanti sudah menjadi jagoan di kantin, di tempat parkir sampai toilet! Kamu boleh kuasai semua itu tapi..aku tidak akan mengaku kalah! Kamu mengerti?
LINDA : Lalu?
NUNGKI : tapi aku akan mengaku kalah, kalau kamu sanggup melakukan yang dulu aku tidak mampu lakukan!
LINDA : Apa itu?
NUNGKI : tetap melakukan rencana ini! Kamu tahu, pada saat kita sepakat untuk bekerja sama dengan orang lain, sebenarnya pada saat itu juga kita harus siap ditinggalkan. Kita harus siap bekerja sendiri. Itu capaian tertinggi dari seorang jagoan! Jika kamu berhasil melakukan itu, aku baru akan mengaku kalah!

LINDA terdiam. Matanya masih terus melihat ke arah NUNGKI. NUNGKI juga masih memandang LINDA. Lalu pelan-pelan NUNGKI bergerak hendak meninggalkan.
OS. KEPSEK : UJIAN..UJIAN!!!!!!!!!!

NUNGKI hampir panik meninggalkan. Tapi sebelum EXIT dia melihat ke arah LINDA yang masih melihat ke arahnya. Lalu NUNGKI sedikit mendekat dan bersiap-siap mengucapkan sesuatu.
NUNGKI : Kita harus siap bekerja sendiri!!

Lalu tiba-tiba suara KEPALA SEKOLA terdengar lagi, suasana hiruk pikuk lagi dan musik kembali bergemuruh. Murid kelas III yang lain berlarian. Termasuk MEYMEY dan KANDI.
MUSIK FADE OUT
LINDA sempat memegang tangan NUNGKI yang berlarian di tengah hiruk pikuk. Mereka berpegangan.
LINDA : Kenapa kamu katakan ini kepadaku?
NUNGKI : Karena, aku tahu! Bagaimanapun aku tetap akan pergi dari sekolah ini!

LINDA nampak ingin mengucapkan sesuatu lagi, tapi pegangannya lepas. NUNGKI kembali berlarian! Musik bergemuruh kembali. Suara dan teriakan KEPALA SEKOLAH masih terdengar berteriak-teriak. Hiruk-pikuk kali ini paling ramai.
LALU semua FADE OUT!
MUSIK dan LAMPU FADE OUT!

ENDING
Cahaya sepotong untuk LINDA yang duduk di sebuah kursi. Sementara di ujung kanan panggung IBU tetap berdiri dan tetap menatap ke arah entah. Tetap ingin mengucapkan sesuatu!
LINDA : Mungkin benar apa yang diucapkan Kepala Sekolah! Tidak ada hasil perjuangan! Semuanya adalah pemberian! Kalaupun ada keberhasilan, pasti karena waktunya yang bersamaan dengan pemberian! Ini bukan perjuangan! Ini pemberian.
IBU : (melengking tinggi) Ini bukan perjuangan! Ini pemberian! Jangan nakal! Apa Ibu bilang?
LINDA : Mungkin juga benar kata Nungki, ia tidak akan terkalahkan! Karena aku juga tidak memperjuangkan sesuatu! Kemenangan ini hanya ada justru ketika aku terus melakukannya. Benar! Pada saat kita sepakat bekerja sama dengan orang lain, pada saat itu juga sebenarnya kita harus bersiap untuk bekerja sendiri. Kita harus siap ditinggalkan! Karena, bukankah di situlah artinya perjuangan!
IBU : (melengking tinggi) Kita harus siap ditinggalkan! Apa ibu bilang?

Selembar kertas putih jatuh.
LAMPU FADE IN, menjadi semakin terang! Selembar kertas lain jatuh lagi. Lalu seperti OPENING, selembar demi selembar kertas jatuh! LINDA masih memandangnya. Lalu pelan-pelan ia berdiri dan mencoba menangkap kertas-kerta yang sedang melayang jatuh itu. Satu persatu ditangkapnya. Dia kemudian menjadi bertambah sibuk menangkap lembaran kertas itu.
LINDA : (berkali-kali dan semakin yakin) Kita harus siap ditinggalkan! Kita harus siap bekerja sendiri!
IBU : (menyela, tidak melengking, suara keibuan) Lin, teman-temanmu sudah datang!
LINDA : Suruh saja masuk, Bu!
IBU : Ayo masuk! Sering-seringlah kemari! Ayo masuk! Ajak LINDA belajar bersama!

Tidak ada satu temanpun yang datang!
Tidak ada teman yang masuk!
IBU tetap menyambut! LINDA menangkap kertas sendirian!
BLACK OUT
MUSIK PENUTUP

SELESAI

YOGYAKARTA, April 2006
JUARA Harapan 1


SALAH SMS

Karya : Paulus PN Simangunsong



Para tokoh:

01. Nina : Pelajar SMA
02. Togi : Abang ipar Nina
03. Kakak Nina : Istri Togi

04. Dandi : Pacar Nina
05. Tono : Pengagum Nina

06. Ruri : Teman Nina yang sering iri
07. Tuti : Teman Nina

08. Orang 1 : Kelompok Ruri
09. Orang 2 : Kelompok Ruri

10. Kepala sekolah
11. Guru

PARA PELAKU TIDAK BICARA




























1
KANTIN SEKOLAH. PAGI.

LAGU GARUDA PANCASILA DALAM IRAMA DANGDUT.
BUNYI LONCENG TANDA ISTIRAHAT. TERDENGAR SORAK-SORAI GEMBIRA.
PARA MURID MENARI DAN MENYANYI


Wo wo wo…
Tiba saatnya istirahat sekolah
Ya ya ya…
Lupakan sejenak ilmu eksakta
Ya ya ya wiyuuu…

Andai tak ada gedung sekolah
Mungkin belajar di jalan raya
Berbaur dengan pedagang kaki lima
Menggelar alas koran di trotoar kota

Wo wo wo…
Tiba saatnya istirahat sekolah
Ya ya ya…
Lupakan sejenak ilmu eksakta
Ya ya ya wiyuuu…

Bukannya benci belajar
Bukannya tak ingin pintar
Tapi hati ingin senang sejenak
Istirahatkan otak walau sesaat
Wo wo wo… Ye ye ye…


TELEPON GENGGAM BERBUNYI KENCANG MENANDAKAN SMS MASUK.


Ruri : (LATAH) Copot…copot…copot….copot. Eh, copot. Hhhh… suaranya
kencang banget. Bikin kaget. Nggak ada yang lebih kenceng lagi? SMS
nih. Baru pegang eh, sudah ngagetin. Bagaimana kalau lama? Atau
sambil dielus-elus? Bisa mati jantungan aku.


Nina : Baca saja! Makanan datang nih. Ruri, kamu masih sering lewat
taman?
Hati-hati lho! Aku baca di koran tadi pagi, semalam ada pemerkosaan disana.

Ruri : Iya. Aku juga dengar dari Bapak. Selanjutnya lebih baik pulang
Lewat depan kelurahan walau sedikit jauh memutar. Tidak apa
-apalah? Daripada ada apa-apa. (MEMBACA SMS. KAGET
. MENYEMBUNYIKAN RASA KAGET)

Nina : Dari siapa? Apa pesannya?

Ruri : (GUGUP) Belum baca kok he he he… Aduh! Tiba-tiba ingin ke WC.
Tunggu sebentar ya! Sampai nanti. (MENINGGALKAN HP)








Nina : (MENYANTAP MAKANAN. SMS TIDAK DIBACA)
Tingkahnya aneh bin ajaib? Ooo… mungkin kena sindrom HIV stadium empat HIV, Hasrat Ingin Vivissssss…

(LONCENG ISTIRAHAT SELESAI. NINA BURU-BURU MEMBAYAR LALU MASUK KELAS)

LAMPU BERUBAH
MEJA-KURSI KANTIN BERUBAH POSISI MENJADI MEJA-KURSI DI KELAS.

2
DALAM KELAS. SIANG.

MURID-MURID MASUK SETELAH JAM ISTIRAHAT SELESAI.
RURI MENYANYI DENGAN TEMAN-TEMANNYA.


Ruri : (MENYANYI)
Hai teman-teman
Ada berita bagus
Bukan akal bulus
Kalian tentu senang
Sini sini aku bisikkan

Di antara kita semua
Ada yang ihh… nggak tega

Semua : Ada apa sih
Bikin penasaran

Ruri : Di antara kita semua
Salah satu teman kita
Sudah bercinta tadi malam ah ah ah…
Bukan hanya itu saja
Tapi ada kondom dom dom dom

Semua : Siapa? Siapa? Bohong lagi kan?

Ruri : Eee… Sini…Sini (BERBISIK)

Semua: Nggak mungkin. Nggak mungkin.
Nina itu anak baik-baik
Nggak mungkin berbuat tak baik.
Pacarnya alim
Belajarnya rajin
Jadi nggak mungkin, nggak mungkin benar

Ruri : Memang orang alim nggak tahu yang enak? Tidak suka yang enak-
enak? Salah. Justru mereka lebih gila imajinasinya. Sadar! Sadar! Air tenang menghanyutkan toh? Siapa tahu pacarnya Nina menghanyutkan? Siapa tahu? Eh, siapa tahu waktu dia melamun ternyata membayangkan kita lagi telanjang? Hiiii seram kan?

Orang 1: Tidak usah munafik Ruri! Bukannya suka?

Ruri : Kalau pacarnya Nina mau? Ya, mau juga sih.

Semua : Huuu…





Ruri : Tapi benar lho. Dengan mata kepala sendiri kubaca SMS itu. Malah
Lebih dulu baca daripada Nina. Tadi barusan. Aku pura-pura ke WC,
terus kesini memberitahu kalian. Dibilangin tidak mau percaya.

Semua: Apa? Apa? Apa?

Ruri : (MENGAWASI SEKITAR. MULAI BANYAK YANG MASUK
KELAS.)

Sayang titik titik titik. (MENJELASKAN) Titiknya ada tiga.
MELANJUTKAN ISI SMS) Tadi malam, koma, aku tidak pakai
kondom ,titik, hari ini sudah beli. (MENGAGETI) Kondom!

Orang 2: (LATAH) Kondom…kondom eh kondom.

Semua: (TERTAWA)

Orang 1: (IKUT LATAH) Udah dom dom dom eh dom.

Semua: (TERTAWA)

Orang 2:: Udah nggak keset keset keset lagi dong?

Orang 1: Blong?

Orang 2: Bolong?

Ruri : Ompong. Melompong. Tapi enak kali ya?

Semua: Enak tenan… sst sst sst!

Nina : (MASUK TANPA MERASA ADA APA-APA. TEMAN-TEMANNYA
MENATAP ANEH. GURU MASUK.)


LAMPU BERUBAH


3
RUANG TAMU KELUARGA TOGI. SORE.

TOGI DAN ISTERI SEDANG BERSANTAI.

Togi : Penonton tahu tidak? Ini apa? Tidak tahu? Masa tidak tahu? Wah
ketinggalan jaman. Ini namanya EICH PI. Telepon seluler. HAP…
PE. HAP… PE ini baru ganti onderdil. Bukan ganti EL SI DI atau
antena atau KI PET tapi SIM KART. SIM KART lama diganti dengan
yang baru. SIM KART lama sudah kadaluwarsa soalnya kelamaan
tidak diisi pulsa. Maklum! BBM naik, listrik naik, ongkos bus kota naik.
Semua serba naik. Kere jadinya. Semua harus hemat.


Pulsa pun dihemat. Karena terlalu hemat, tenggang waktu aktif SIM KART
habis. Jadi harus beli kartu baru. Yang menyebalkan, nomor telepon
teman-teman di SIM KART lama ikut hilang. Terpaksa deh bercapek-
capek ria mendata lagi nomor-nomor telepon.

Satu-satu masukin punya ibu
Dua-dua masukin punya ayah
Tiga-tiga masukin punya istri
Satu dua tiga baru yang lainnya.

Capek juga memasukan semua nomor. Untung pernah membuat backup di buku telepon. Kalau tidak, harus tanya lagi ke orangnya. Hilang dong nomor si gadis cantik.
Sebenarnya bukan itu yang menarik. Tapi ini nih (BUNYI SMS MASUK) Nah! Datang lagi. Betul dia lagi. (MEMBACA) Aku tidak kenal anda.
Jelas saja tidak kenal. Aku juga tidak kenal anda. Tadinya kupikir ini nomor istriku tercinta, si super galak. Ternyata bukan. Mungkin keliru memasukkan data nomor, jadinya salah ke nomor orang lain.
Jaman begini harus hemat. Kurangi pemakaian telepon! Manfaatkan fasilitas SMS semaksimal mungkin! Andai saja ada gerakan massal anti menelepon, tentu penghematan besar-besaran. Semua serba SMS. Dijamin negara tetangga tidak akan tertarik membeli perusahaan telepon negara kita.
Namun sungguh celaka. Bangsa kita suka gosip. Negeri doyan ngerumpi. Bisa berjam-jam cuap-cuap di telepon. Cuap-cuap apa saja. Dari harga cabe melambung tinggi hingga gosip artis kawin-cerai. Susah! Lihat saja berapa banyak acara psst psst… artis di televisi! Semua stasiun televisi punya.



Yang ini harus dipertahankan. Apalagi dia sekolah di tempat yang putri-putrinya terkenal cantik jelita. Kan sudah jadi rahasia umum kalau wanita sekarang suka dengan lelaki yang lebih tua. Apalagi sudah berkeluarga, banyak dicari. Sudah pengalaman, kata mereka. Ditambah pula bisa memberikan hadiah bedak atau baju baru, maka jadilah pasangan bersenang-senang dan terus ke… penonton terusin sendiri deh!
Ups, tapi ini kan sekolah adik iparku? Ngeri juga kalau sampai tercium SMS-an dengan anak sekolah. Bisa lumat aku. Tapi ada ini. Otak. Otak mencari siasat.

Kakak Nina: Siasat apa?

Togi : Tidak ada apa-apa. Aku lagi bersiasat agar hemat pulsa.

Kakak Nina : Kirain siasat ngibulin istri. Pah, pinjam HP!

Togi : Nah itu siasat pertama. Tidak meminjamkan HP kepada istri.

Kakak Nina : Sebentar saja. Nggak bakalan dimakan. Pulsa Mama habis.
Pinjam dong ! Sebentar saja.

Togi : Siasat kedua, tidak boleh meminjamkan HP kalau sebentar.

Kakak Nina: Ya sudah. Pinjamnya lama.

Togi : Siasat ketiga, tidak boleh meminjamkan HP, apalagi lama.

Kakak Nina: Pak Togi, aku kan isterimu? SMS sekali saja.

Togi : Kakaknya Nina, tidak boleh. Siasat keempat, tidak meminjamkan
HP Untuk SMS. Apalagi istri.

Kakak Nina: (SEBAL) Mau dipegang saja. (TOGI MAU MENJAWAB). Itu siasat ketiga tidak meminjamkan HP untuk dipegang saja oleh istri. Awas ya! Nanti malam tidak boleh pegang-pegang! Titik (KELUAR)

Togi : Itu beda. Kalau urusan pegang itu nggak pakai siasat-siasatan.
Istriku! Istriku! Puasa lagi malam ini. Gara-gara HP ini sih. Gencatan senjata deh. Istriku!(MENGEJAR)



LAMPU BERUBAH










4
DALAM KELAS. PAGI.

MEJA DAN KURSI TERSUSUN RAPI. DI KELAS HANYA ADA NINA DAN TUTI.

Nina : (MENYANYI)
Kepada angin dan matahari
Kemana jawab akan kutemui
Tak tahu aku apa yang terjadi
Seolah aku kembang bangkai mati
Baunya tajam menusuk nurani

Sahabat saja yang aku cari
Yang telah ada pergi menjauhi
Apalah arti hidup begini
Seperti mati
Sendiri dan sepi

Perjalanan kehidupan
Butuh teman untuk berbagi
Walau tak abadi tapi berganti
Sesaat saja dibutuhkan hati
Hati yang damai
Teman yang ramai

Tuti : Aku masih sahabatmu. Tak usah risau. Tapi jujur Nin! Kita kan
sahabat.
Aku butuh kejujuranmu. Benar tidak isi SMS itu? Terus terang! Tidak
usah malu atau sungkan. Aku sahabat yang bisa menjaga rahasia.
Kamu tahu sendiri kan?

Nina : Kamu sahabat sejati Tuti. Isi SMS itu benar. Tapi tidak ada
Hubungannya denganku.

Tuti : Tidak ada hubungan? Dia tahu nomormu. Dia menge-SMS berkali
-kali. Dia tahu sekolahmu. Untung dia belum tahu rumahmu. Apa dia
sudah tahu lagi?

Nina : Itu aku yang beritahu. Maksudku, agar dia percaya kalau dia salah
SMS. Aku kasih tahu kalau aku bukan istrinya. Aku ini anak sekolah. Eh
malah SMS lagi: istriku bisa saja. Untungnya, masalah tempat tinggal dia
tidak kuberitahu.

Tuti : Tapi Nina, bahaya memberitahu identitas kepada orang tidak
dikenal. Siapa tahu dia pembunuh berdarah dingin? Atau pemerkosa
yang mencari mangsa? Atau perjaka tua yang cari perawan tingting?
Orang-orang jaman sekarang penuh tipu daya. Bukan hanya orang lain
atau tetangga yang ditipu, bahkan istri dan anak tega ditipu.

Nina : Aku cuma ingin jujur. Berharap supaya dia mau mengirim SMS,
menyatakan salah kirim SMS. Itu saja. Bukti itu akan jadi alatku
melawan gosip miring yang beredar. Aku tidak tahan lagi tatapan mata
aneh teman-teman karena SMS pertama itu?

Tuti : Memang! Aku sahabatmu ikut terganggu. Kamu anak baik.
Sepengetahuanku tidak pernah berbuat macam-macam. Aku percaya
kamu seratus persen.

Nina : Tapi dia tidak pernah meluluskan permintaanku. Malah ingin
Kenalan lebih jauh. Mengejak bertemu. Kopi darat.




Tuti : Terus mau?

Nina : Ya tidak. Takut lah. Aku takut kalau dia berbahaya seperti katamu
tadi. Aduh bagaima ini? Kalau gosip ini sampai ke guru, bisa gawat.
Pasti akan sampai ke Kepala Sekolah. Terus sampai juga ke keluarga.
Gawat.

Tuti : Kenapa tidak ditelepon saja? Sudah berusaha menelepon?
Mungkin dengan begitu dia mau berbaik hati? Dugaanku kamu kenal dia.
Niatnya hanya menggoda kamu. Main-main.

Nina : Sudah. Tapi dia tidak mau mengangkat. Malah balas SMS: hemat
pulsa! Cintailah SMS seumur hidup! Lagian kan tidak surprise kalau
sudah ngobrol dulu? Mendingan ketemu langsung saja.Jadi, tidak
mungkin kita saling kenal. Bagaimana dong? Biasanya kamu banyak
akal.

Tuti : Masalah begini nggak berani kasih masukan deh. Urusannya bisa
panjang.
Nanti ada apa-apa, aku ikut bertanggung jawab. Pertama-tama jadi saksi
lalu terdakwa. Saksi kan bisa jadi terdakwa? Nggak ah.

Nina : Jadi dibiarin saja? Nanti teman-teman menganggap isi SMS itu
memang benar. Kelakuanku seperti gosip miring yang beredar sekarang
memang benar. Pembuktian dari sumber SMS bisa membantuku
membersihkan nama.

Guru : (MASUK) Nina dipanggil Kepala Sekolah.

Nina : Baik Bu. Tuh kan? Pasti gosip sudah sampai.

Tuti : Sementara diamin saja Nin. (DILIRIK GURU) Bukan. Bukan Ibu.


LAMPU BERUBAH

MEJA-KURSI KELAS BERUBAH POSISI MENJADI MEJA-KURSI DI KANTOR KEPALA SEKOLAH



5
RUANG KEPALA SEKOLAH.

Kepala sekolah : Selamat pagi anak manis!

Nina : Selamat pagi juga Ibu cantik!

Kepala Sekolah: Haus? Silahkan minum!

Nina : Tidak Bu. Terima kasih.

Kepala sekolah: Kamu cantik hari ini.

Nina : Ah, Ibu bisa saja.

Kepala sekolah: Sudah beli kondom ya?

Nina : Kondom?





Kepala sekolah : Memalukan. Kamu menorehkan aib di sekolah ini. Tidak Ibu
sangka. Anak cantik dan sepintar kamu bisa berbuat bejat.
Serigala berbulu domba. Tanggalkan bulu domba itu!

Nina : Saya tidak pakai bulu Bu.

Kepala sekolah: Maksud saya, kamu harus menanggalkan, melepaskan aib dari
Sekolah ini.

Nina : (KEPADA DIRI SENDIRI) Menanggalkan aib, melepaskan aib. (KE
KEPALA SEKOLAH) Bu ampun! Mohon jangan keluarkan saya dari
sekolah! Bagaimana masa depanku Bu? Saya masih ingin belajar dan
bermain dengan teman-teman. Apa masalahnya Bu? Saya tidak
melakukan kesalahan apa-apa.

Kepala sekolah: Tidak bersalah bagaimana? Hubungan badan di luar nikah
bukan apa-apa? Masalah kondom anakku yang cantik kitik kitik
kitik! Itu masalahnya. Saya akan siapkan surat pemecatanmu
dari sekolah ini. Segera pulang! Beresi buku-bukumu dari
kelas.

Nina : Saya tidak ngapa-ngapain kondom Bu. Benar! Tidak mencuri kondom
siapa- siapa. (SADAR) Ooo, masalah SMS itu ya Bu? Tidak Bu. Tidak.
Itu tidak benar. SMS itu salah kirim Bu. Salah kirim. Mohon, jangan
Hanya mendengar dari satu sumber! Nomor pengirim SMS itu benar
-benar tidak saya kenal.

(GURU DAN RURI MASUK)

Guru : Ada informasi tambahan (BERBISIK KE KEPALA SEKOLAH)

Kepala sekolah: Baik. Terima kasih. (GURU DAN RURI KELUAR)

Nina : Bu, saya benar-benar tidak bersalah.








Kepala sekolah: Nina Nina. Sulit bagi Ibu mempercayaimu. Masalah SMS
Kamu bantah. Sekarang ditambah lagi kamu berpacaran
dengan pak Gatot. Berpacaran dengan gurumu sendiri. Itu
sama sekali tidak etis. Dilarang. Tidak baik seorang murid
berpacaran dengan gurunya. Tahu? Masih mau membantah?
Menghindar? Alasan apa lagi akan keluar dari mulutmu?

Nina : Masalah apa lagi ini? Itu lebih tidak benar lagi Bu. Saya mengagumi
pak Gatot. Dia ganteng, simpatik, pintar mengajar dan kebetulan
rumahnya searah rumah saya. Jadi sering jalan bersama. Saya memang
menyukai pak Gatot. Kalau dia mau jadi pacar, saya tidak keberatan.

Kepala sekolah: (KE PENONTON). Saya juga mau tahu.

Nina : Saya tidak ada apa-apa Bu. Kenapa Bu?

Kepala Sekolah: Saya mau tahu. Eh, maaf. Hmmm… baik-baiklah. Kamu bisa
berceloteh apa saja. Silahkan cuap-cuap apa saja. Tapi Ibu
butuh bukti. Buktikan berita kondom itu benar-benar kesalah
-pahaman! Kesalah- kiriman SMS. Ibu butuh bukti. Ibu tidak
ingin ini jadi hal buruk di sekolah kita. Hubunganmu dengan
pak Gatot akan Ibu usut lebih lanjut.

Nina : Silahkan Bu! Saya sudah menghubungi si pemilik HP. Saya menelepon
langsung. Juga sudah saya SMS. Tapi dia tidak menggubris. Malah
mengajak kenalan segala.

Kepala sekolah: Ibu tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus dapat bukti.
Bagaimana caranya, Ibu tidak mau tahu dan tidak ikut campur.
Kalau tidak ya bye bye.
Sudah. Masuk kelas sana! Ibu tunggu paling lambat tiga hari.

Nina : Baik bu.


LAMPU BERUBAH




MEJA-KURSI RUANGAN KEPALA SEKOLAH BERUBAH POSISI MENJADI MEJA-KURSI DI KELAS.


Nina : (MASUK KELAS)

Ruri : (MENYANYI)
Nah lo ini dia
Gadis manis sok manis
Tapi bau amis hiii

Teman-teman:
Nah lo ini dia
Putri manis bukan gadis
Hiii

Ruri: Tak punya malu sedikitpun
TAK BERMORAL SECUILPUN
Apa guna hidupmu
Kalau bernoda dirimu

Semua : Nah lo ini dia
Gadis manis sok manis
Tapi bau amis hiii
Nah lo ini dia
Putri manis bukan gadis
Hiii

Semua : Pecat! Pecat! Usir! Usir! Tidak tahu malu he!

Nina : (KELUAR SAMBIL MENANGIS)

Semua : Huuuuu….!


LAMPU BERUBAH


6
SUATU TEMPAT. SORE.


Dandi : (MENYANYI)
Kekasih
Benarkah berita yang kudengar
Jangan jadikan aku sedih
Aku ingin kejujuran
Kejujuran

Apalagi yang bisa kuharap
Semoga dewa cinta
Masih menyatukan hati kita
Kalau tidak
Apa yang bisa kulakukan

Bila berita itu benar
Aku dibohongi selama ini
Dibohongi beningnya mata
Dan lembutnya kata dari mulutmu
Apa aku kau bohongi




Nina: (MENYANYI)
Tidak kekasih
Semua itu tidak benar
Kesalah paham semata
Dan salah kirim
Hhhh…

Dandi : Aku tak percaya
Aku tak percaya
Tak bisa percaya begitu saja
Pasti ada sesuatu yang salah

Bagaimana dia bisa tahu kamu? Bagaimana bisa tahu? Berita ini
pun telah diketahui kedua orang tuaku. Mereka menasehati
menjauhimu. Aku juga tidak ingin kena getah perbuatanmu.

Nina : Dengan apa kubuktikan? Bagaimana caranya agar kau percaya?
Haruskah menggantung diri di jembatan merah? Berteriak-teriak di
perempatan lampu merah? Memasang iklan di koran-koran? Begitukah?
Atau? Baiklah. Aku tidak menunggu lagi hingga malam pengantin. Aku
mau menyerahkan lebih cepat sebagai pembuktian. Toh aku akan
kehilangan itu suatu saat. Apa salahnya mempercepat. Carilah tempat
yang layak! Atau di sini saja? Tapi aku takut ada orang lewat.
Aku mencintaimu Dandi. Tidak ingin berpisah darimu. Aku patuh padamu
seumur hidupku. Bila aku kehilanganmu, tidak tahu harus berbuat apa.
Ayolah!

Dandi : (TERTAWA) Tidak. Aku tidak bodoh. Kamu ingin menjebakku dengan
tubuhmu? Siapa tahu aku bukan orang pertama yang menyentuhmu?
Kamu ingin aku jadi tumbal kalau kekasihmu yang mungkin sekarang
telah meninggalkanmu? Tidak. Aku tidak akan terjebak.
Nina : Sudah lama kita pacaran. Tidak sekalipun ada niat menghianati.
Aku masih suci Dandi, tidak pernah melakukan hal buruk. Sekalinya
ciuman pernah kulakukan hanya denganmu. Aku tidak mau lagi
melakukan, takut dosa. Aku tidak ingin terlalu menikmati dosa. Berat
akibatnya kalau semakin terjerumus. Kau setuju dan tidak pernah
meminta lagi.



Tapi sekarang tidak terpikir lagi dosa, tidak terpikir lagi. Walau harus
melakukan dosa paling besar aku rela. Asal tidak kehilangan dirimu.
Percayalah!

Dandi : Tidak. Tidak. Kita harus saling melupakan. Janji yang pernah kita buat
anggap tidak pernah ada. Anggap masa lalu. Tidak ingin kena getah
perbuatanmu. Titik.

Nina : Semudah itu rasa percayamu hilang? Lalu apa gunanya selama ini
berkasih-kasihan? Berjanji mempertahankan cinta walau badai
menghadang? Baru angin kecil saja, sudah menyerah.

Dandi : Masalah ini kamu bilang angin kecil? Ini topan badai Nina? Please!

Nina : Setidaknya bukan masalah kematian. Gampang sekali tidak percaya
padaku. Mau membuktikan malah mengatakan akan menjebak. Lalu
dengan cara apa kubuktikan. (DANDI PERGI) Dandi! Oh?

(MENYANYI)
Kepada siapa lagi mengadu
Tidak ada yang percaya
Bahkan kekasih hati
Orang pertama mencium bibirku
Tidak percaya lagi

Ooo… dunia kemana harus pergi
Adakah ujung dunia tempat mengadu

(MENANGIS)


LAMPU BERUBAH


Tono : (HENDAK MEMELUK)

Nina : Hei!

Tono : Jangan sok jual mahallah! Jual murah saja sudah tidak laku lagi.
(HENDAK MEMELUK)

Nina : Apa-apaan sih?





Tono : Kalau tidak mau, kulaporkan ke keluargamu. Biar dipecat jadi anak.
Atau kita cari tempat aman? Ayolah! Tidak ada yang tahu.

Nina : Berani macam-macam akan kuteriaki maling.

Tono : (TERTAWA) Aku memang maling. Maling profesional. Jeli
Memanfaatkan kesempatan. Dulu berusaha mencuri hatimu tapi tidak
mau. Sekarang kesempatanku memilikimu. Akan sama-sama senang,
aku puas kamu aman. Ayolah!

Nina : Tolong!

Tono : Beneran teriak lo. Kabur! (KELUAR)

Nina : (MENYANYI)
Kepada siapa lagi mengadu
Tidak ada yang percaya
Bahkan kekasih hati
Orang pertama mencium bibirku
Tidak percaya lagi

Ooo… dunia kemana harus pergi
Adakah ujung dunia tempat mengadu

Tono : (MASUK LAGI). Ayo!

Nina : Tolong! (MENGEJAR TONO)



LAMPU BERUBAH



7
TAMAN. SORE.

Togi : Ciluk ba! Ketemu lagi. Sudah beberapa hari ini dia itu tuh rajin SMS.
Pagi-sore, siang-malam, terus menerus. Dengan perjuangan keras,
akhirnya dia mau bertemu. Di taman lagi. Tempat romantis. Pucuk
dicinta ulam pun tiba hua ha ha ha…
SMS-nya itu lho bikin nggak tahan. Mas pasti ganteng, baik hati, ramah.
Jadi nggak sabaran mau cepat-cepat ketemu.
Dia nggak tahu kalau aku juga tidak sabaran mau ketemu. Apalagi istri
tidak memberi jatah.



Wah pusing! Tapi laki-laki kan harus jaga gengsi.
Sedikit cuek. Pura-pura jual mahal. Pura-pura sibuk. Taktik tarik ulur
mendapatkan mangsa.
Tanya dulu ah sudah dimana posisi. Posisi, posisi?

(NINA DAN KAKAKNYA MASUK. MEREKA DALAM PERJALANAN
MENUJU TAMAN).
Nina : (MEMBACA) Posisi dimana? (KE KAKAKNYA) Kak, dia tanya posisi.

Kakak Nina: Bilang sudah dekat!

Togi : Oh, sudah dekat. Makin tidak sabaran. Hasrat meledak, kepala mau
pecah, burung hendak keluar dari sarang. O, buruuung kau sabarlah!

Nina : Tidak sebaiknya menghubungi Polisi kak?

Kakak Nina: Tidak usah dulu. Taman dekat jalan besar. Lagipula banyak
penonton. Kakak sembuyi tidak jauh darimu. Begitu ada apa-apa,
Kakak akan teriak memanggil orang. Kita tangkap dia dengan
tangan sendiri. Kakak gemes ingin menjitak kepalanya. Huh!

Nina : OK. Tapi agak takut Kak.

Kakak Nina: Tenang! Kalau dia macam-macam akan ku ciat ciat ciat. Dia belum
Tahu kalau aku sabuk hitam karate. Ciat.

Nina : Alaa… sama kucing saja takut.

Kakak Nina: Kucing beda. Bulunya bahaya buat rahim wanita.

Nina : Laki-laki juga seperti kucing, suka daging mentah. Daging apa saja. Huh!
Harus bisa kujelaskan segala masalah ini. Semoga secepatnya bisa
bebas dari tatapan sinis teman-teman, sangsi kepala sekolah dan Dandi
(MENANGIS).

Kakak Nina: Sudah jangan menangis! Masalah ini segera selesai. Kita sudah di
taman..
Kakak menunggu di sini. Ayo jalanlah!







Togi : Hei Nina? Dia mau kemana? Tumben lewat taman? Bukankah dia takut
lewat sini? Nggak takut lagi? Sejak kapan? Sendirian pula? Katanya
takut lewat sini. Cari tempat sembunyi. Kacau kalau ketahuan. Bisa
kacau pertemuan.
Nina : Tadi si Abang bukan ya? Oh, mungkin diminta kakak ikut mengawasi
kalau terjadi apa-apa. Aman. Sudah dua orang menemani. Orang-orang
juga siap membantu kalau kakak beraksi. Tinggal teriak, bantuan
datang.
Mana dia ya? Sudah jam segini belum muncul juga. (SMS MASUK.
MEMBACA) Aku sudah di taman, kamu dimana?

Togi : Wah gawat. ada istriku di sini. Kok semua serba kebetulan ya? Aku
sedang menunggu sesorang eh, malah datang dua orang yang tidak
diharapkan. Bagaimana caranya biar aman? (SMS MASUK)
(MEMBACA) Aku juga sudah di sini. Kamu dimana?

Dia sudah di sini. Wah gawat. Harus pindah lokasi, kalau tidak barabe.

Kakak Nina: (SMS MASUK) SMS dari Nina. (MEMBACA) Dia ngajak pindah
Tempat ketemuan. Ke dekat tempat sampah di dekat pintu keluar
. Jangan-jangan tuh cowok sudah tahu kalau aku jagain Nina.
Bagaimana ya?
(MENGETIK) K-A-M-U spasi K-E S-A-N-A spasi S-A-J-A tanda seru A-K-U spasi I-K-U-T spasi D-I spasi B-E-L-A-K-A-N-G titik

Nina : (SMS MASUK)
(MEMBACA) Aku sudah di posisi. Buruan ya!

TOGI : YES. PESAN SUDAH DELIVERED. ADUH! NINA KOK MALAH KE SINI? ADUH!
HARUS PINDAH POSISI LAGI.

NINA : MANA DIA?
(MENGETIK) A-K-U SPASI S-U-D-A-H SPASI D-I SPASI P-O-S-I-S-I SPASI. K-A-M-U SPASI D-I SPASI M-A-N-A TANDA TANYA.




KAKAK NINA: SI ABANG NGAPAIN MENGENDAP-ENDAP DI SITU? TADI KATANYA MAU
REUNIAN SMA. KOK ADA DI TAMAN INI? NINA MINTA DATANG KALI? AKU
KASIH TAHU NINA, ABANG IPARNYA SUDAH DI SINI, BIAR TENANG.
(MENGETIK) B-A- N- G SPASI T-O-G-I SPASI D-I SPASI S-I-N-I TITIK T-E-N-A-N-G SPASI S-A-J-A. TITIK.
SENT. KOK UNSENT. YAH UNSENT LAGI. CEK PULSA. AH, PANTAS. SUDAH NOL. BANG! BANG!

TOGI : ISTRIKU TAHU. ADUH! DIA MEMANGGIL LAGI? TANDA TANDA GAGAL. KOK
ADA DISINI?

KAKAK NINA: NEMENIN NINA. LHO ABANG KAN MAU REUNIAN? KOK DI SINI?

TOGI: OH? REUNINYA DITUNDA. JADI ABANG KE TAMAN. CUCI MATA SAJA.

KAKAK NINA: LIHAT CEWEK?

TOGI : OH? TIDAK. UNTUK APA LIHAT WANITA LAIN? ISTRI SENDIRI LEBIH CANTIK DARI
SEMUA YANG ADA? AKU PERGI BERAKSI DULU YA. BYE.

KAKAK NINA: EH MAU KEMANA? TUNGGU DULU. KITA DI SINI SAJA. PINJAM HP DULU!
MAU SMS.
TOGI: HARUS SENDIRI-SENDIRI BIAR SERU. BOROS SIH SMS MELULU. (KE DIRI SENDIRI) UPS, BISA KETAHUAN ISI SMS DARI SI GADIS CANTIK. AYO! BURUAN DELETE. AMAN.
JANGAN BANYAK-BANYAK!

KAKAK NINA: ADA RAHASIA YA? PAKAI DIUTAK-ATIK.

TOGI : APA SIH YANG MESTI DIRAHASIAIN. TADI TOMBOLNYA AGAK MACET. ABANG
COBA DULU. TERNYATA TIDAK MASALAH LAGI. SILAHKAN PUTRI.

KAKAK NINA: (MENGETIK) B-A-N-G - T-O-G-I - D-I - S-I-N-I - D-E-K-A-T - T-E-M-P--T-M-U - M-E-N-U-N-G-G-U - P-E-R-T-A-M-A - T-A-D-I.
NGOMONG-NGOMONG MAU KEMANA LAGI SIH BANG? SUDAH. NIH!

TOGI : JALAN-JALAN DOANG.







NINA : (SMS MASUK). BANG TOGI? KOK DIA SMS PAKAI NOMOR INI? KENAPA YA?
OOO… DIA PASTI SUDAH MENANGKAP ORANG ITU. ABANG MENG SMS LEWAT
-SMS LEWAT HP SI PEMBUAT SUSAH ITU. HEBAT. ABANG IPARKU BENAR-BENAR
-BENAR HEBAT (MENGETIK). K-A-K L-A-K-I - L-A-K-I - I-T-U - S-U-D
-A-H - K-E-T-A-N-G-K-A-P - A-K-U - M-E-N-U-J-U - T-E-M-P-A-T -
M-E-N-U-N-G-G-U - P-E-R-T-A-M-A - T-A-D-I.

KAKAK NINA: (SMS MASUK) JANGAN KEMANA-MANA DULU! KITA KE SANA SEBENTAR
NEMUIN NINA. DIA SUDAH KETEMU YANG MENGGANGGUNYA.

TOGI: TAPI?

KAKAK NIAN: TIDAK ADA TAPI-TAPIAN (MENARIK TOGI).

TOGI : (KESAL)

NINA : ITU MEREKA. TAPI MANA LAKI-LAKI ITU? MEREKA BERDUA SAJA. BANG MANA
ORANGNYA? SUDAH DIBAWA POLISI ATAU KABUR?

KAKAK NINA: ORANGNYA? SIAPA? DARI TADI AKU DENGAN ABANGMU KOK. DIA TIDAK MENANGKAP ORANG.

NINA : DIA SMS PAKAI NOMOR LAKI-LAKI ITU.

KAKAK NINA: NOMOR LAKI-LAKI ITU? SINI LIHAT! YANG MANA?

NINA: YANG INI.

KAKAK NINA: KALIMAT INI KAKAK YANG KIRIM PAKAI NOMOR…. OOO, PENGGANGGU
NINA ITU TERNYATA KAMU. KAMPRET. ADIK SENDIRI MAU DIMAKAN. DASAR
KUCING GARONG.

NINA : ABANG?

KAKAK NINA: IYA! DIA BARU GANTI NOMOR. NOMOR BANG TOGI DI HP-MU SUDAH TIDAK
BERLAKU LAGI. DASAR SUAMI MATA KERANJANG.
TOGI : AMPUN! AMPUN!


LAMPU BERUBAH









SEMUA PEMAIN:
(MENYANYI)

HATI-HATI DALAM KEHIDUPAN
WASPADAI SETIAP KEJADIAN
TAK SELAMANYA KEJUJURAN
DIBALAS DENGAN KEBAIKAN
BERHATI-HATILAH

JANGAN PULA PERCAYA SAJA
PADA TEKNOLOGI YANG CEPAT BERUBAH
MESKI MUDAH TAPI AWAS
KADANG ADA NEGATIFNYA
WASPADALAH

TEKNOLOGI PUNYA DUA SISI
BISA BAIK, BISA JUGA JAHAT
PERGUNAKAN SESUAI FUNGSI
JANGAN PAKAI UNTUK KEJAHATAN

HATI-HATI DALAM KEHIDUPAN
WASPADAI SETIAP KEJADIAN
BISA-BISA NIKMATNYA MIMPI
BERUBAH JADI MIMPI SETAN
YOI YOI YOI YOI…
YOI YOI YOI YOI…



### SELESAI ###











JUARA HARAPAN 2

N I N A B O B O
KARYA : ROY AGUSTINUS

SEBUAH TAMAN DENGAN LAMPU BULAT DIMANA ADA BEBERAPA BANGKU YANG NAMPAK KOSONG. BULAN BULAT BERSINAR. NINA MEMASUKI PANGGUNG.

NINA
(MENANGIS)
KEJAM! BENAR-BENAR KEJAM! HUHUHU… KATANYA CINTA TAPI TERNYATA SELAMA INI DIA JUGA PACARIN CEWEK LAIN. KALAU DULU DIA PASTI SELALU NGERAYU, HONEY, HONEY, I LOVE YOU. HONEY, HONEY, CINTAKU. HONEY, HONEY, KU SUN DULU. MERAH BIBIRMU SEMERAH GELORAKU PADAMU. HUHUHU… DASAR PLAYBOY! BUAYA! SEKALI BUAYA, TETAP BUAYA! BUAYA YANG PANDAI MERAYU, TAPI SETELAH ITU, SEMUANYA BULLSHIT! BULLSHIT SHIT SHIT! PEMBOHONG! PEMBUAL! AKU DICELEIN, AKU DITIPU. AKU TERTIPUUUU! HUHUHU….

(BAYU DENGAN STYLE ANAK BAND MEMASUKI PANGGUNG. MARAH-MARAH. MENENDANG SEBUAH KALENG MINUMAN)

BAYU
DIKIRA SEKOLAHAN AJA YANG PENTING?? MUSIK ITU NGGAK PENTING?? DIKIRA CUMA NILAI RAPORT YANG PENTING? NGEBAND ITU GAK PENTING?? SEMUANYA NGGAK ADIL! CUMA UNTUK RAPORT, ANGKA, KELAKUAN BAIK, KERAPIHAN? DAN MUSIK HARUS DINOMOR DUAKAN? NGE BAND HARUS DIKESAMPINGKAN?? TAPI NYATANYA MEREKA SIBUK! MAMAH PAPAH SIBUK. SIBUK BUK BUK! NGGAK ADIL!

(BAYU MENENDANG SEBUAH KALENG. NINA MENDELIK KARENA MERASA TERGANGGU)
NINA
Berisik! Apa kira di situ yang punya taman?
(BAYU MENENGOK KEARAH NINA SEBENTAR. SEBUAH KALENG DITENDANGNYA LAGI.)




BAYU
MASA BODO! KALAU SEMUANYA MASA BODO, AKU PUN BISA MASA BODO! MASA BODO!
NINA
Hei, Berisik! Nggak dengar ya??
BAYU
Cewek, apa pedulimu?
NINA
Ngomong cewek lagi?? Hei, aku bisa perduli karena kamu menendang kaleng itu dan kaleng itu menimbulkan bunyi bising yang membuat risih telingaku!! Ngerti??

BAYU
Nggak.

NINA
Busyet!
(PAUSE)
Hei dengar ya? Aku sebenarnya tidak pernah perduli denganmu. Tapi aku bisa perduli kalau kau mengganggu ketenanganku dengan menendang-nendang kaleng seperti itu!

BAYU
Itu musik. Aku hanya ingin musik. Aku mencari segala sesuatu yang mengandung musik termasuk suara kaleng yang kutendang ini. Begini ini


(MENENDANG SATU KALENG LAGI HINGGA MENIMBULKAN SUARA BISING. NINA MENUTUP TELINGA)


NINA
(MENJERIT)
Berisiiiiik!!

BAYU
Sudah tau!!






NINA
Kalau sudah tahu kenapa ditendang?? Kamu lebih baik pergi sana. Jangan disini. Disini taman, tempat yang nyaman. Bukan berisik-berisik begitu! Sakit di kepala, tau gak?

BAYU
Terserah, mau sakit dikepala kek, dikuping kek. Yang penting ada irama.

NINA
Irama, irama…! Suara kaleng gerompangan gitu nggak ada iramanya tau?? Nggak ada musiknya! Yang ada Musak!
BAYU
Musak?? Apa itu musak?


NINA
(tersenyum menyindir)
Hmmhh! Musak, musik rusak!


BAYU
Jadi kalau musak musik rusak dan kalau musik musik berisik, begitu?


NINA
Baru seucret-ucret mengenal musik, sudah seperti komposer aja lagaknya. Sok tau…


BAYU
Siapa yang sok tau. Kamu yang sok tau. Segalanya memang selalu berkomposisi. Termasuk musik, cinta, dan gaya hidup.


NINA
Alahhhhhh, nggak usah berfilosof deh. Tadi kamu bilang cinta, apa pengetahuanmu tentang cinta?


BAYU
Segudang.

NINA
Hebat. Sebutkan salah satunya.








BAYU
Waktu aku ditinggal pacar.


NINA
Trus…?

BAYU
(MENUNJUK NINA)
Hehehe… berarti menarik kan??


NINA
Sudah jangan banyak mulut. Ayo teruskan…


BAYU
Yaa, waktu itu aku ditinggal pacar, dan aku begitu menderita.


NINA
Nangis?


BAYU
Yaa, nggak! Memangnya aku perempuan??


NINA
Ohh, jadi kalau cowok nggak bisa nangis dan kalau perempuan pasti bisa nangis, begitu?


BAYU
Nggak seperti itu. Siapa yang punya mata pasti bisa menangis. Mengeluarkan air mata. Seperti Kelinci yang akan dipotong. Dia menangis.

NINA
Dan rasanya seperti dipotong-potong, maksudmu?


BAYU
Begitulah…


NINA
Siapa yang lebih dulu mencari masalah, kamu atau pacarmu?


BAYU
Tidak ada yang bermasalah. Semuanya berjalan normal-normal saja.


NINA
Maksudmu?






BAYU
Semuanya berjalan normal seperti kami saling mencintai dan ketika datang orang ketiga yang memang layak dicintai. Dan kami berpisah. Tidak ada yang salah.


NINA
Aneh, ketika ada orang ketiga yang datang katamu tadi, dan orang ketiga itu layak untuk dicintai? Dan setelah itu kalian berpisah…?
(PAUSE)
Berarti ada diantara kalian yang berselingkuh?


BAYU
Bukan berselingkuh, terlalu kasar itu. Mendapatkan cinta yang baru. Cinta yang lebih perfect.


NINA
Memang ada cinta yang perfect? Manusia aja tidak ada yang perfect kok?


BAYU
Betul itu. Manusia tidak ada yang perfect. Makanya ada orang ketiga.
(PAUSE)
Siapa namamu?


NINA
Untuk apa tanya-tanya nama.


BAYU
Pelit amat sih. Mau tahu nama aja nggak boleh. Namaku Bayu.
(MENYODORKAN TANGAN)
Namamu…


NINA
(MENGIBAS TANGAN)
Sudahlah, ngak perlu kenalan. Lagipula apa sih arti sebuah nama?


BAYU
Wahhh, nama itu penting.makanya ada sejarah. His-tories!


NINA
Tapi saat ini kamu bukan histories, jadi nggak perlu kita tahu nama.








BAYU
Oke, sekarang aku memanggilmu Kebo. Karena saat ini pula aku memberimu nama Kebo. Setuju?


NINA
Ehhhh, kurang ajar. Memangnya aku binatang apa?

BAYU
Makanya nama itu kuanggap penting, dan sekarang sebutkan namamu
(MENYODORKAN TANGAN)
Aku Bayu, dan kamu…

NINA
Bodo!

BAYU
Ohhh, namamu bodo. Biar ku tambah H, jadinya bodoh… setuju?

NINA
Sekali lagi kau panggil aku dengan sebutan itu, kaleng-kaleng yang berserakan itu akan berbicara kepadamu…

BAYU
(MELONCAT GIRANG)

Yeahh, aku suka itu. Kaleng-kaleng akan berbicara! Mereka akan mengeluarkan bunyi, dan bunyi itu mempunyai irama. Fan-tas-tic. Musik terdengar. Nada-nada terangkai dan terbentuk harmoni.

NINA
Kerompyang, kerompyang, kerompyang, hahahaha….

BAYU
Jangan tertawa! Aku serius.


NINA
(BANGKIT BERDIRI LALU MENENDANG-NENDANG KALENG SATU PERSATU. TERDENGAR SUAR BISING. NINA TERTAWA-TAWA. LAMA KELAMAAN NINA MENARI. DIA MENENDANG-NENDANG KALENG ATAU MEMBENTUR-BENTURKAN KALENG KE LANTAI HINGGA MENIMBULKAN SUARA BISING)
Hahahaha….. Hahahaha…. Hahahahaha…


















BAYU
(BERGAYA DAN BERNYANYI ALA ROCKER)

Disaat ini kita satukan rasa
Membentuk lingkaran berpegang tangan
Jangan lepaskan aku
Jangan ikat diriku
Bawa jiwaku
Ke alam bebasmu

Yeahhhhhh!!!

Kuatkan rasa
Demi cintaaaa!
Beri kebebasan
Untuk dirikuuu!
Cintai aku
Hargai aku
Lihatlah aku
Peluk diriku
Yeahhhhhh!!!


(NINA DAN BAYU TERTAWA-TAWA. MEREKA LALU BERPELUKAN. MEREKA SEPERTI MENDAPATKAN KEBEBASAN DIHATI YANG BISING)
(PANGGUNG GELAP)


(DIPANGGUNG TERLIHAT IBU NINA MENONTON TV. NINA DAN BAYU MASUK)




MAMA NINA
(MEMBENTAK)
Dari mana kamu malam begini baru pulang??
(PAUSE)
Kamu siapa?


NINA
Ini teman Nina, Mam.


MAMA NINA
Mamah tanya dia bukan kamu. Kamu siapa?


BAYU
(GUGUP)
Saya Bayu, tante. Nama saya Bayu.


MAMA NINA
Malam-malam begini anak saya bersama kamu…?







NINA
Tad, tadi, Nina…


MAMA NINA
Mamah tanya dia bukan kamu. Malam-malam begini anak saya bersama kamu…?

BAYU
Betul Tante. Malam-malam begini anak tante bersama saya.

MAMA NINA
Nina naik masuk kamar.

NINA
Mam…

MAMA NINA
Masuk kamar!


(NINA KELUAR PANGGUNG. SEBELUMNYA DIA MELAYANGKAN KISS BYE JARAK JAUH KEPADA BAYU. BAYU MEMBALAS. MAMA NINA MEMANDANG SINIS)


MAMA NINA
Tolong dengar, saya memang pengagum sinetron. Tapi saya tidak ingin berteriak-teriak, memaki-maki kamu jika kamu datang lagi ke rumah ini. Paham? Selamat malam…


BAYU
Paham, Tante. Selamat malam…

(PANGGUNG GELAP)


(PANGGUNG ADALAH TAMAN DENGAN LAMPU BULAT DIMANA ADA BEBERAPA BANGKU YANG NAMPAK KOSONG. BULAN BULAT BERSINAR. NINA MEMASUKI PANGGUNG. MENEKAN HP DAN MENDEKATKAN KE TELINGA. TERDENGAR SUARA MAILBOX)


SUARA MAILBOX
Nomor yang anda tuju segaja tidak aktif. Silahkan menghubungi beberapa saat lagi…

NINA
Bayu kok mailbox sih…

(BERJALAN DIPINGGIR TAMAN. MEMANDANG SEKITAR DAN KADANG MEMANDANG BULAN YANG BERSINAR BULAT)
(NINA MEMENCET HP. MENGIRIM SMS. TAK LAMA TERDENGAR SUARA BIP SMS 3 KALI. NINA MENGECEK LAPORAN)









NINA
Masih nggak aktip. Kemana sih dia…


(NINA DUDUK TERPEKUR SAMBIL MENOPANG TANGAN DI DAGU. BEBERAPA ORANG BERPACARAN LEWAT. MEREKA DUDUK DEKAT NINA. NINA TERLIHAT RISIH. DIA BERDIRI DAN PERGI)

(DIPANGGUNG AYAH DAN IBU BAYU TERLIHAT BERTENGKAR)


PAPAH BAYU
Kamu yang seharusnya mikir. Aku yang cari uang kamu diam dirumah! Dari zaman dulu hal itu sudah wajar. Bapak ke kantor dan ibu memasak. Dan itu sudah masuk kurikulum anak SD! Tidak bisa lagi diutak-atik!


MAMAH BAYU
Enak aja. Memangnya kamu aja yang pantas cari uang.
(MENEPUK DADA)
Nih, aku juga mampu. Aku punya izasah, aku punya kenalan, aku punya otak, aku bisa cari kerja. Bahkan aku yakin bisa cari kerja dengan gaji yang lebih besar dari gajimu sekarang!


PAPAH BAYU
Itulah egoismu, kamu ikut-ikutan cari uang samapi-sampai urusan rumah terbengkalai. Lihat si Koko sekarang dia masuk panti rehabilitasi. Lihat si Lilo, baru semester 4 sudah hamili anak orang. Dan aku yakin hal yang buruk juga akan terjadi dengan Bayu, anak bungsu kita. Dan semua itu gara-gara kamu. Karena kamu sok jadi wanita karier!!


MAMAH BAYU
Eh, eh, malah bawa anak-anak segala?? Apa selama ini kamu selalu perhatikan anak-anak? Berangkat pagi pulang malam, berangkat pagi pulang malam. Meeting dikantor, di hotel anu sampai-sampai kamu meeting sama sekrestrismu yang bahenol itu? Kamu telantarkan aku dan anak-anak, ingat itu? Ingat??


PAPAH BAYU
Waktu itu aku terlalu stress dengan segala masalah. Belum lagi kerjaan kantor, masalah anak-anak, saudara-saudaramu yang selalu merongrong minta ini minta anu. Dan kamu tidak pernah memperhatikan itu. Kamu selalu menganggap aku kuat, aku bisa, aku mampu!!


(BAYU DATANG)

BAYU
Ada apa pap, mam? Teriak-teriak sampai kedengeran ke kamar Bayu. Berantem lagi?

MAMAH BAYU
Hushhh! Diam kamu. Sana masuk ke kamar!


BAYU
Kenyataannya kan begitu Mam, Pap? Bayu dengar kok semuanya.





MAMAH BAYU
Hehh, mamah bilang diam, malah nyambung terus. Ini bukan urusan anak-anak. Ayo sana masuk kamar. Belajar!!


BAYU
Belajar? Bayu sudah bosan belajar, mam.


MAMAH BAYU
Ya ampunnn, malah disambungin terus. Ini bukan urusan anak-anak. Ayo sana masuk kamar!!


Justru karena bukan urusan anak-anak Bayu bertanya, Mam. Betul kan Pap?


MAMAH DAN PAPAH BAYU
Diam kamu!!

BAYU
Berarti betul kan kalau Bayu bukan anak-anak. Buktinya Bayu ngomong disuruh diam.

PAPAH BAYU
Itu, itu hasil didikan kamu!

MAMAH BAYU
Sembarangan nuduh! Karena kenapa anak bisa begitu, ya karena kamu nggak pernah kasih perhatian.

PAPAH BAYU
Hebat sekali kamu bicara. Perhatian, perhatian… kamu seharusnya memberikan perhatian yang lebih besar. Itu karena kamu perempuan. Seorang ibu!!

MAMAH BAYU
Lah, jadi sebagai ayah, apa tugasmu lepas dari perhatian? Jangan lari dari tanggung jawab kamu!


BAYU
(BERTERIAK SAMBIL MENGANGKAT KEDUA TANGAN SEPERTI PAK POLISI)
Stop! Stop! Semuanya stop berbicara.
(PAUSE)
Saya sangat kecewa. Saya sangat kecewa. Sungguh-sungguh saya kecewa. Dan kekecewaan itu, tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata…
Papahku Mamahku… aku tidak bisa bicara…


(BAYU KELUAR)
(PANGGUNG GELAP. TAPI MASIH TERDENGAR SUARA PERTENGKARAN PAPAH DAN MAMAH BAYU)


(PANGGUNG TERANG. DIKIRI BAYU SEDANG DUDUK SANTAI DI SOFA. DISEBELAH KANAN NINA SEDANG TENGKURAP DI RANJANG. KEDUANYA BERBICARA MELALAUI TELEPON)






BAYU
Maafkan aku. Aku tidak bisa jam tujuh tadi ke taman. Kamu pasti marah…

NINA
Jelas marah dong! Memangnya kenapa kamu nggak datang?

BAYU
Mau tau?

NINA
Pasti dong.

BAYU
Dengar baik-baik

(SUARA MAMAH DAN PAPAH BAYU TERDENGAR LAGI)

Sudah jelaskan…? Itu alasannya.

NINA
Mereka berkelahi lagi? Seberapa sering mereka berkelahi?

BAYU
Tergantung keinginan. Bisa pagi, bisa malam, bisa subuh, nggak pernah tentu…

NINA
Bising…?

BAYU
Jelas bising. Aku mau ketenangan seperti ketenangan yang aku rasakan di taman.

NINA
Kita pergi ke taman sekarang, mau?

BAYU
Tapi sudah malam. Dan penggemar sinetron pasti akan berteriak-teriak memaki-maki namaku karena anaknya pergi malam-malam denganku.

NINA
Bukan cuma penggemar sinetron, mungkin berbakat menjadi pemain film. Mau dengar?

(TERDENGAR SUARA-SUARA ORANG TERTAWA)

BAYU
Sudah kudengar.

NINA
Mereka sedang bermain kartu. Yang laki-laki dan perempuan. Kadang jumlah mereka tidak tentu. Yang perempuan bisa berjumlah 2 sampai 4 orang dan yang laki-laki juga demikian. Dan setelah itu mereka akan tidur bersama seperti orang gila.

BAYU
Kenapa mamahmu tidak menikah saja?

NINA
Mamah bilang sulit mencari pengganti seperti papahku. Papahku laki-laki yang gagah dan lemah lembut. Meski sekarang tak pernah kunjung pulang.




BAYU
Kamu rindu…?

NINA
Rinduuu sekali. Sampai-sampai kubawa ke alam mimpi. Waktu aku bertemu aku sudah melambai-kan tangan, tapi sayang, papahku tidak mendengar. Dia sepert pergi bersama kabut putih dan menghilang.
(PAUSE)
Mau pergi ke taman sekarang…?

BAYU
Jangan sekarang. besok malam saja. Sekarang lebih baik kita tidur…

NINA
Nyanyikan aku satu lagu dulu. Plz…

BAYU
Oke.
(BERNYANYI)
Nina bobo
O, Nina bobo
Kalau kamu bobo
Papahmu datang

Bobo sayang
Lupakan yang hitam
Biarkan hatimu
Ditemani malam


(DIPANGGUNG KEDUANYA MENUTUP TELEPON. MENATAP LANGIT-LANGIT HINGGA LAMA-KELAMAAN LAMPU PANGGUNG PUN PADAM)

(SEBUAH TAMAN DENGAN LAMPU BULAT DIMANA ADA BEBERAPA BANGKU YANG NAMPAK KOSONG. BULAN BULAT BERSINAR. PAPAH BAYU DAN MAMAH NINA DUDUK BERDUA)

MAMAH NINA
Jadi sekarang bagaimana? Yang jelas anakku dan anakmu berpacaran. Aku sudah pernah melarang, tapi kelihatannya mereka memang sudah benar-benar saling cinta.

PAPAH BAYU
Aku juga bingung. Ingin sebenarnya aku menikahimu, tapi, ahhh…

MAMAH NINA
Karena istrimu itu? Itu yang membuat kamu berat untuk menikahiku?

PAPAH BAYU
Termasuk hubungan Bayu dan Nina.

MAMAH NINA
Kalau mereka tahu kita akan menikah, toh mereka akan mengerti sendiri. Tapi yang jelas aku minta kejelasan darimu, apakah kamu benar-benar mau menikahiku atau tidak?

PAPAH BAYU
Tentu, aku akan menikahimu. Tapi tidak semudah itu. Semuanya harus dengan penyelesaian yang baik.





MAMAH NINA
Sudah hampir 10 tahun aku hidup menjanda. Kau tahu kan bagaimana rasanya? Aku kesepian, Mas. Kesepian…

PAPAH BAYU
Aku juga kesepian. Kesepian terus hidup begini. Hidup penuh dosa. Dimana setiap hari aku terpaksa berbohong kepada istri dan anak-anakku.

MAMAH NINA
Aku memang perempuan kotor, Mas. Tapi cintaku padamu cinta yang suci.

PAPAH BAYU
Jangan lihat status kita, sayang. Tapi lihat cinta kita. Cinta kita ini cinta yang tulus dan suci. Dan dalam kamus cintaku, kau adalah wanita terhormat yang pernah aku temui.

MAMAH NINA
Dimuka bumi ini, Mas?

PAPAH BAYU
Sampai ke akhirat!

MAMAH NINA
Tapi seandainya anak kita lebih duluan bagaimana, Mas?

PAPAH BAYU
Maksudmu?

MAMAH NINA
Permisalkan saja anakku hamil karena perbuatan anakmu.

PAPAH BAYU
Itu yang bahaya!

MAMAH NINA
Musti dicegah itu, Mas.

PAPAH BAYU
Dicegah? Kamu kira demam berdarah??

MAMAH NINA
Ya terang dicegah dong? Kalau pada suatu saat nanti kamu sudah cerai dengan istrimu dan kita langsung merencanakan pernikahan, tapi tiba-tiba saja kita mendengar kalau anakku hamil karena perbuatan anakmu, kan itu kacau, Mas?

PAPAH BAYU
Bener juga kamu. Semakin hari kamu semakin pintar dan juga cantik, sayangku…

MAMAH NINA
Ahh, mas bisa aja…

PAPAH BAYU
Bener! Tanya aja penonton hehehe…

(CAHAYA PADA PAPAH BAYU DAN MAMAH NINA GELAP. LAMPU MENYOROT KEARAH NINA DAN BAYU YANG NAMPAK MEMPERHATIKAN KEDUA ORANG TUANYA. NINA DAN BAYU KEMUDIAN PERGI)
(PANGGUNG GELAP)





(DIPANGGUNG NAMPAK SEBUAH RANJANG. NINA DAN BAYU MASUK)

NINA
Kamu yang menentukan sekarang.

BAYU
Disini?

NINA
Iya, dimana lagi?

(NINA LANGSUNG NAIK KE ATAS RANJANG. HENDAK MEMBUKA BAJU)

BAYU
Stop! Stop!

NINA
(TIDAK JADI MEMBUKA BAJU)
Kenapa?

(BAYU MENGHAMPIRI NINA)

BAYU
Terlalu cepat. Kita terlalu cepat mengambil keputusan. Seandainya rencana mereka tidak terwujud, toh kita akhirnya tetap jodoh. Aku rasa kita terlalu cepat mengambil keputusan seperti ini. Diranjang ini.

NINA
(TERISAK)
Dan itu berarti kamu akan meninggalkan aku?

BAYU
Belum tentu. Kita lihat nanti apa yang terjadi.

(NINA TENGKURAP DIATAS RANJANG. MENANGIS. BAYU MENDEKAT DAN MEMBUJUK)

BAYU
Sudahlah, beban hidup memang terkadang terasa berat untuk kita tanggung. Tapi aku merasa, semakin hari aku semakin bertambah tua. Mungkin bukan karena umur, tapi karena persoalan. Maafkan aku, aku tidak bisa menjanjikan hubungan kita untuk sekarang…

NINA
Tapi kamu masih mencintaiku kan…?

BAYU
Setulus hati…

NINA
Betul?

BAYU
Betul.

NINA
Tapi aku mau tahu pendapatmu, mana yang kamu pilih, orang tua kita yang jodoh atau kita yang jodoh?






BAYU
Sulit untuk ku jawab sekarang ini. Tapi asal kau tahu, aku sangat mencintaimu.

NINA
Aku begitu lemah sekarang.

BAYU
Tidurlah…

NINA
Nyanyikan aku satu lagu dulu. Plz…

BAYU
Oke.
(BERNYANYI)
Nina bobo
O, Nina bobo
Kalau tidak bobo digigit nyamuk
Bobo sayang
Adikku yang manis
Kalau tidak bobo digigit nyamuk


TAMAT














Drama Remaja


(NOMINATOR)






Anting










oleh
Imran Laha
















Sinopsis

PERJALANAN SEORANG GADIS MUDA YANG BERNAMA SITI UNTUK MEMUSNAHKAN ANTING. SEMUA TELAH IA RENCANAKAN DAN MERACIK SESUATU UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA ANTING ITU SESUATU YANG TAK BERGUNA. SEGALA HAL IA LAKUKAN UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA PEREMPUAN BISA JADI PEREMPUAN TANPA ANTING. YANG AKHIRNYA IA HARUS TERBUNUH SEBAGAI PEREMPUAN YANG TAK BERTINDIK, BAHKAN TAK BERTELINGA.

Karakter

Gadis Botak/Siti
Pria Mohwak
Teman
Guru
Murid-murid
Perempuan Muda
Nenek
Suami
Istri
Siti Kecil









DI SUDUT BUMI MALAM. TERDENGAR ANGIN MENDESIR GANAS. IBARAT KIPAS ANGIN, ADA SEGUMPAL CAHAYA LEWAT BERGANTI-GANTI MENERANGI MEJA YANG KISRUH DENGAN BUNYI DENTINGAN GELAS, TUANGAN AIR DALAM BOTOL, AIR YANG MENDIDIH, SUARA MESIN LAS YANG TERKADANG EFEK SINAR LAS MENERANGI KEGELAPAN MISTERIUS ITU DAN TERLIHAT SEAKAN SILUET NEGATIF FOTO/KLISE. KEKISRUHAN TERUS BERLANJUT MENGIRINGI ALUNAN GERUTU YANG DALAM DAN BERAROMA KEMARAHAN YANG KELUAR DARI SOSOK YANG TERTELAN GELAP ITU. BAHKAN PERCIKAN-PERCIKAN LUDAH MENYUMPAH SEMESTA DAN MENGGEMA MEMBERAIKAN BUHUL-BUHUL KEPEKATAN MALAM.

Sosok di balik gelap.
Free sex telah kututup dalam kitab Kamasutra. Setelah kupelajari setiap huruf-huruf gairah kemudaanku dengan berbagai pembenaran. Akhirnya kusimpulkan setiap komposisi sex di dunia remaja yang begitu fantastic dengan fenomenanya, hanya orgasme yang menjawab. Terlalu ketinggalan zaman menurutku. Kini sudah usang berdebu dan entah di bilik ingatan mana kusimpan dia. Aku lupa. Hanya nomor hotel semalam yang bertengger dalam ingatanku ...

KEREMANGAN MEMBAHANA BUMI. DENGAN SEKETIKA SOSOK DI BALIK GELAP LENYAP, TERTUKAR SEBUAH KAMAR LOSMEN SEDERHANA YANG KHAS DENGAN KEREMANGAN. ADA PINTU YANG TERTUTUP RAPAT BERNOMOR 501. DI BALIK SEMUANYA, DUA SOSOK REMAJA BERCUMBU DIIRINGI KESEPIAN MENGALUN BIRAHI. NAFAS KEDUA SOSOK ITU MENAMBAH KENIKMATAN MUSIK. MEREKA BERPELUKAN. SILUET RAMBUT SEORANG WANITA MENGGELIAT SERUPA TARIAN ULAR. KECUPAN-KECUPAN IBARAT TETESAN AIR MEMECAH PADA GENANGANNYA. RUANG SEINDAH KOMPOSISI TARIAN DALAM TAMAN SURGA, DAN DEGUPAN-DEGUPAN BIRAHI MEREKA BERSUARA DALAM KAMAR ITU ...

Suara Wanita
Inilah yang kau inginkan. Daging lebih di dadaku. Entah itu berukuran kecil atau besar, kau tak peduli. Ada juga liang di selangkanganku yang kau andaikan bibir dari surga. Dengan kedua itu, tak perlu sebuah tindikan dan anting untuk mengatakanku seorang wanita.

Suara Lelaki
Biarlah adegan ini cepat mencapai. Jangan-jangan malam ini ada razia di setiap hotel. Umurku masih 17 tahun dan Perempuan ini belum juga istriku ... ah aku lupa, besok hari terakhir pembayaran SPP, kemana harus kucari uangnya. Coba tadi aku dan perempuan ini patungan membayar hotel ...

Suara Wanita
Kau bisa menikmati misteri tubuh yang bernama wanita. Jangan lewatkan setiap detailnya, karena pasti kau akan menyesal. Di kala seperti itu, kau akan meminta lagi. Dan aku tak yakin punya waktu denganmu lagi ... keyakinanku hanya satu, yaitu selama waktu itu berjalan, kau hanya bisa onani dengan rasa penasaran ... aku tanya sekali lagi, perlukah anting untuk membuatmu penasaran?

Suara Lelaki
Tak penting untukku senggama yang romantis. Bila jebol, aku merasa telah hidup di umur dewasa. Keperawananmu adalah mahkota untukku. Saat kurenggut, akulah raja. Saat itupun bisa kuludahi wajah kerut dan sok tua para pendahulu. Mereka hanya segumpal nasihat yang melewati muda tidak seperti ini. Lihat rambutku, telah kuubani dengan ketabuan. Setiap detik kupikir adalah Doggy Style. Apakah orang tua berpikir seperti itu juga? Mereka malu. Padahal itu untuk kemajuan. Dasar kampungan! Aku tak pernah mendapatkan ini dari mereka. Ini adalah imajinasiku. Sungguh aku sangat jenius...

Suara Wanita
Bahkan kau pun akan terkejut ketika melihat darah di bibir surga itu. Tidak ada yang bisa mengalahkan predikatnya sebagai keanggunan. Walau emas yang menggantung di tindikan sekalipun...ha-ha-ha, aku benar-benar cantik.

Suara Lelaki
501! ... Ya 501! Nomor yang kini ada dalam kemenanganku. Nomor ini tertera di resletingku juga, entah kenapa bisa sama dengan nomor kamar ini. Perang ini semakin menjelaskan kemenanganku. Akulah kedewasaan sejati. Mana ada orang tua dulu tahu tentang Chek In Hotel. Dan mana tahu orang tuaku tentang 501 ... aroma kemenangan telah tercium. Wanita ini adalah senjataku untuk merenggut sejarah kemudaan. Ini suatu kehormatan untukku. Setidaknya aku tak melakukan imajinasi yang berujung 501.

Suara Wanita
Inilah adegan pertukaran kehormatan. Kita saling menyerahkan dan memahkotai. Bukan anting yang menentukan. Anting hanyalah lambang perbudakan dunia. Apa telingamu akan gatal tanpa anting?

Di sudut bumi yang lain merebak cahaya. Seiring lenyapnya kamar senggama pikir itu. Kini yang ada remaja berambut Mohwak, beranting di telinga kiri, bersinglet hitam, bertatto, dan berhadapan dengan komputer. Matanya menyalak menyinari layar komputer yang membiaskan cahaya. Seakan ia tak percaya. Mata itu meringis malu, dadanya naik turun mendenguskan gelisah. Dengan terpaksa ia merapatkan matanya hingga yang ada hanyalah kerutan pejaman. Sangat keras pejaman itu hingga getaran menjalar keseluruh tubuhnya. Tegukan-tegukan ludah ketakutan menambah getar dalam lubuk hatinya. Jari-jari yang berada di atas keyboard seakan paku yang telah menancap sepanjang peradaban kenistaan. Tiba-tiba semuanya meledak dalam dering Hp. Dengan gerak sigap bertanda gugup, remaja itu merogoh Hpnya yang ia sendiri lupa di mana. Cukup lama ia mencari dan akhirnya ketemu juga. Tapi ia belum juga menerima panggilan itu setelah ia melihat nama yang tertera di Lcd Hp. Lama ia berpikir lalu dengan ragu-ragu dia menekan tombol Yes dan perlahan Hp itu diantar ke telinga yang beranting. Mendengar sebentar dengan mata menerawang memikirkan sesuatu.



Pria Mohwak
Akan aku jelaskan saat kita bertemu nanti ... aku tak tahu, itu mungkin orang lain ... ya, aku malu. Khususnya terhadap kamu ... sudahlah sayang, cukup. Jangan kamu teruskan kemarahanmu. Aku tak peduli apa kata orang tuaku nanti, aku hanya takut jikalau ini membuat cintamu berkurang ... kau ingat puisiku untukmu? Ingatlah itu, agar kamu percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu ... kamu tahukan sayang, sex semacam ini (sambil menunjuk layar komputer dengan jari-jarinya) sudah ketinggalan jaman. Dan kamu juga tahu, aku remaja modern ... aku masih ingat sayang, anting yang kamu berikan ini adalah pengingatku. Dengan begitu kamu seharusnya mengingat puisiku juga, sebab waktu itulah kamu memberikan anting ini ... masak kamu lupa!... dua bulan yang lalu ... ya, aku sangat cepat menyerap perkembangan jaman ... aku lupa nama wanita itu ... ehm, siapa ya, si .. si.. siapa ya, Siti! Ya Siti, aku ingat sekarang. Namanya Siti ... dia teman sekelasku, dia meninggal sebulan yang lalu ... dia bunuh diri bersama semua wanita dalam kelasku, termasuk Guru Pendidikan Moral yang waktu itu bertepatan punya jadwal di kelas ... dia wanita gila menurutku ... kalau kamu melihat beberapa saat setelah terjadi peristiwa itu, kamu akan bersepakat dengan ungkapanku tadi ... saya datangnya ketika kelas sudah dipenuhi oleh Polisi dan orang banyak. Mayat-mayat wanita itu tak bertelinga semuanya ... iya, akupun heran kenapa dengan hanya sepenggal telinga mereka bisa mati. Menurut penglihatanku, mereka masih terlalu cantik untuk menjadi mayat ... oh maaf sayang, aku tak bermaksud merendahkanmu dengan mengatakan mereka cantik ... ya, kamulah yang paling spesial di hatiku ... iya kan? Kamu sendiri bisa mengatakan wanita itu jenius. Kalau aku mengatakan dia gila ... sampai sekarang pun Polisi tidak sanggup memecahkan kasus itu. Menurut Polisi itu pembunuhan yang paling sadis selama ini. Soalnya irisan-irisan telinga itu sangat halus. Tidak terlihat goresan-goresan pemaksaan. Padahal alat yang digunakan untuk mengiris telinga adalah Gergaji. Koki seahli apapun tak bisa mengiris seindah itu ... dan yang lebih aneh lagi semua potongan telinga mereka tak ditemukan di awal peristiwa. Nanti setelah divisum baru mereka tahu semua potongan telinga itu ada dalam perut Siti, termasuk telinganya ... apakah itu bukan hal yang gila? ... aku pun tak percaya pernah melakukan hubungan sex dengan seorang maniak ... aku juga tak tahu siapa yang merekam dalam kamar itu, aku hanya bisa terkejut ketika adegan dalam kamar itu telah tersiar di Internet ... (Hp di genggaman Remaja Mohwak berbunyi menandakan Lowbat.) Aduh sayang, kamu sekarang cari Warnet terdekat! Kita teruskan obrolannya lewat Chating. Batre Hp aku hampir habis ... (Belum juga habis kata-katanya, Hp kehabisan Batre.)

PINTU RAPAT YANG BENOMOR 501 ITU, MEMBUKA KEMBALI CERITA SESUDAH ADEGAN SEX DITAYANGKAN. TAK LAGI TARIAN SURGA YANG TERLIHAT, HANYA DUA SOSOK DI BALIK SELIMUT. BUKAN LAGI DEGUPAN YANG BERUCAP. TAPI PERCAKAPAN NYATA BERADU. MEMECAH DENTINGAN CAHAYA IDE KEMAJUAN ...

SANG LELAKI.
Aku dewasa. Akulah raja sekarang. Saatnya untuk meludah pada setiap orang tua.

SANG WANITA.
Akhirnya aku sendiri membuktikan. Akulah pemilik keanggunan. Akulah wanita itu.

SANG LELAKI.
Kamu ingat Siti. Seanggun apapun, kamu hanya mahkotaku. Kamu properti ...

Sang Wanita
Beraninya kamu mengatakanku seperti properti. Apakah kata itu yang berlaku juga pada anting.

SANG LELAKI.
Kurang lebih seperti itu.

Sang Wanita
Tanpa properti anting itu, aku tetap anggun dengan darah yang keluar dari selangkanganku.

SANG LELAKI.
Darah itulah mahkota yang kurenggut untuk menjadi dewasa.

SANG WANITA.
Ha, lucu. Kamu pikir dengan itu kamu sudah dewasa? Belum.

SANG PRIA.
Lalu apa?

SANG WANITA.
Berani menentukan pilihanmu secara jujur. Kalau hari ini, kamu masih takut dan sebisanya bersembunyi di balik pintu hotel. Puh ... kayak anak-anak yang baru belajar onani.

SANG PRIA.
Jenius kamu Siti. Aku punya gagasan yang paling modern mendengar penjelasanmu. Sex mutakhir. Sodomi dengan lelaki. Itukan namanya memilih untuk melakukan dengan lelaki. Dan aku jujur padamu. Ah, aku puas sekarang. Akulah raja.

Sang Wanita
Sakit.

SANG PRIA.
Apa bedanya dengan kamu wanita tak bertindik. Kamu sakit juga. Mendingan kamu jadi lelaki saja ...

Sang Wanita
Jenius...jadi tak perlu lagi kupikirkan masalah keanggunan ...

KEDUA MATA REMAJA ITU BERBINAR-BINAR DENGAN SENYUM SIMPUL YANG PALING MANIS. KEDUANYA MELAYANGKAN IMAJINASI PADA KEREDUPAN CAHAYA YANG MAKIN REDUP, MAKIN REDUP LAGI, HINGGA MASUK DALAM KEPEKATAN GELAP. CAHAYA MUNCUL BERBENTUK LINGKARAN DI SUDUT BUMI LAIN. BERDIRI SOSOK DENGAN DANDANAN SEORANG GURU. SOSOK ITU SEPERTI SEDANG MENGAJARKAN SESUATU.

GURU
SEMUA HARUS BERHUBUNGAN DENGAN ETIKA. JANGAN PERNAH MELEBIHI KODRAT, KARENA ETIKA BERHUBUNGAN ERAT DENGAN KODRAT. BIARLAH ADA ATURAN-ATURAN KHUSUS UNTUK LAKI-LAKI DENGAN SEMUA ATRIBUTNYA. BEGITU JUGA DENGAN PEREMPUAN ...SEMUANYA MENGERTI?

TAK ADA YANG MENJAWAB. SEMUA TETAP GELAP. HANYA TEMPAT GURU ITU BERDIRI YANG DITERANGI CAHAYA. SEMENTARA SANG GURU MASIH MENUNGGU JAWABAN.

GURU
MASAK BELUM MENGERTI? SAYA KASIH CONTOH, SEORANG LELAKI DIBERIKAN KODRAT OLEH SANG PENCIPTA MEMILIKI TUBUH YANG LEBIH KUAT, JADI SEANDAINYA LAKI-LAKI MELINDUNGI PEREMPUAN ITU DIKATAKAN ETIS. KALAU SEBALIKNYA DIKATAKAN TIDAK ETIS. BEGITU JUGA PEREMPUAN, TIDAK DIKATAKAN ETIS KALAU DIA BERBICARA KASAR. KARENA PEREMPUAN ITU TERCIPTA DENGAN KELEMBUTAN.

SATU CAHAYA TERANG DI SUDUT LAIN, MENAMPAKKAN SOSOK MURID YANG MENGACUNGKAN TANGAN.



MURID 1
SAYA MENGERTI SEKARANG. PEREMPUAN DICIPTAKAN TUHAN UNTUK MENGANDUNG...JADI SANGAT ETIS KALAU LAKI-LAKI MENGHAMILINYA.

ADA CAHAYA LAGI DI SUDUT YANG LAIN

MURID 2
BEGITU JUGA LAKI-LAKI DICIPTAKAN TUHAN UNTUK MEMBUAHI. ITU SANGAT ETIS KALAU DIFUNGSIKAN.

CAHAYA DI SUDUT LAIN LAGI.

MURID 3
BERARTI, PEREMPUAN HARUS PUNYA PAYUDARA, PUNYA VAGINA BIAR ETIS DIANGGAP ORANG LAIN.

CAHAYA LAIN LAGI.

MURID 4
KALAU BEGITU PEREMPUAN HARUS MEMPUNYAI ATRIBUTNYA, MISALNYA ANTING. TAPI BAGAIMANA DENGAN SITI YANG TAK BERTINDIK SEGALA ....

SEMUANYA MENOLEH KEBELAKANG SEIRING CAHAYA MENYALA LAGI DAN MENAMPAKAN SOSOK GADIS YANG TERTUNDUK DIAM. SEMUANYA MEMPERHATIKAN GADIS ITU. SUASANA MENJADI TEGANG SEAKAN SEMUA MEMUSUHI GADIS YANG TERTUNDUK MALU ITU.

MURID 4
MENJADI TIDAK ETIS KALAU KITA BERHUBUNGAN SEKSUAL DENGANNYA. APALAGI AKU SEORANG LELAKI.

SITI
KAMU JANGAN SOK TAHU. BISANYA KAMU BICARA TENTANG HUBUNGAN SEKS. PADAHAL AKU TAHU KAMU BARU SAJA BELAJAR ONANI.

MURID 2
ITU TIDAK PENTING. YANG PENTING, ANTINGLAH YANG MEMPERCANTIK PEREMPUAN. DI MANA-MANA SEMUA SAMA.

SITI
TUTUP MULUTMU WANITA JALANG. APA YANG BISA KAMU PERBUAT TANPA ANTING ITU. PALING HANYA BERKACA DI DEPAN CERMIN DENGAN SEGALA KESEPIAN HATIMU. ANTING ITU MEMPERJELAS KAMU SEBAGAI SEORANG WANITA JALANG. APA TUJUANMU MEMAKAI ANTING, KALAU BUKAN HANYA KARENA INGIN MENDAPATKAN BELAI LAKI-LAKI.


MURID 3
AH, ITU HANYA BAHASA KEIRIANMU SAJA. KAMU PASTI TIDAK PERNAH DISENTUH LAKI-LAKI, MAKANYA KAMU BICARA SEPERTI ITU.

SITI
JANGAN SEMBARANGAN BICARA. TANPA ANTING PUN AKU MASIH BISA DISEBUT PEREMPUAN.

MURID 4
MANA BUKTINYA?

PERTANYAAN MURID 1 YANG BERJENIS KELAMIN LELAKI ITU. MEMBUAT SITI TERDIAM DAN HANYA BISA MENATAP. SEMENTARA MURID 1 MENGGODA DENGAN MATANYA. SITI MEMBALAS DENGAN TATAPAN SERIBU RENCANA.

GURU
TENANG ANAK-ANAK... (PADA SITI) SEMUA BENAR SITI, LEBIH BERMORAL JIKA KAMU MEMAKAI ANTING.

BUMI PERLAHAN MEREDUP TERTELAN GELAP HINGGA SOSOK DI SUDUT BUMI LAIN TAMPAK JELAS DENGAN KEKISRUHANNYA YANG KHAS. MASIH DENGAN SEPENGGAL CAHAYA BERPUTAR DAN BERGANTIAN MENERANGI SOSOK ITU. HABIS GELAP TERANG, HABIS GELAP TERANG BEGITU SETERUSNYA. CAHAYA KHAS MESIN LAS PUN TAK KETINGGALAN MENAMBAH KESERIUSAN MISTERI ITU. DENTINGAN GELAS, AIR MENDIDIH TERUS MELANJUTKAN KISAHNYA. SUMPAH SERAPAH BERTEBARAN ...

Sosok di balik gelap
Begitu juga dengan Drugs. Bahan kimia yang telah jauh tertinggal dibanding kejeniusanku. Kuno. Kenikmatan yang bahan itu tawarkan bukan sesuatu yang baru. Dan lucunya aku harus membayar mahal untuk dia. Puh(meludah)... seharusnya yang aku racik adalah sesuatu yang lebih mahal. Sesuatu yang membawa ketingkat kemabukan paling tinggi. Lebih dari ekstase. Lebih dari Trance. Bahkan bom yang meleburkan tubuh menjadi bagian-bagian molekul tak sanggup menandingi. Dengan kejeniusanku ini, Drugs yang harus membayar padaku untuk setia mencintainya. Drugs pun bukan teman yang setia. Dasar kampungan! Setelah semuanya dia mau meninggalkanku. Tapi sebelum ia melakukan itu, aku mendahuluinya. Sekarang dia ada di belakang jaman anak-anak kuno. Biarlah dia menjadi fosil-fosil. Dan aku tak mau menjadi Darwin yang bodoh dengan meneliti fosil-fosil, lalu banyak bicaranya. Yang jelas aku tak selera lagi dengan hal-hal ketinggalan jaman ... (sosok itu meneruskan pekerjaannya. Segala bunyi khas meja ilmuwan menjadi musik pada kegelapan itu.)

Bumi kembali beralih menjadi sudut remang. Kali ini tempatnya berantakan layaknya sebuah pasar tradisional yang habis dipakai untuk jualan. Segala macam barang berserakan dan genangan lumpur tak ketinggalan menghias. Tumpukan-tumpukan karung yang sudah belel, menjadi tempat sandaran ketiga remaja yang sempoyongan itu. Salah satu dari mereka sudah tak dapat bangun lagi akibat mabuk. Terjadi percakapan antara dua remaja yang masih sadar. Yang satu pria berambut Mohwak dan satu lagi Gadis berambut botak.

Pria Mohwak
Apa yang harus kita lakukan? Aku tak kuat lagi berjalan. Dengkul ini tak bersahabat.

Gadis Botak
Lalu kamu mau kita ditangkap Polisi di sini? Ayo kita paksakan untuk berjalan.

Pria Mohwak
Bagaimana dengan dia? (menunjuk temannya yang tergeletak.)

GADIS BOTAK
BIARLAH BANCI ITU BERISTIRAHAT SEBENTAR. JANGAN KITA BERISIK DI SINI.

PRIA MOHWAK
TAK SETIA KAWAN.

GADIS BOTAK
KENAPA, KAU TAKUT? LAKI-LAKI BANCI.

PRIA MOHWAK
JUSTRU MENINGGALKANNYA ADALAH TINDAKAN PENGECUT.

GADIS BOTAK
PUH! MAU JADI PAHLAWAN? KAMPUNGAN.

PRIA MOHWAK
KAMU JANGAN SOK! KAMU INGAT KELAMINMU APA. KAMU PEREMPUAN! HANYA SAJA KAMU TAK BERTINDIK. INGAT NAMA KAMU SITI. MANA ADA NAMA SITI SEORANG LAKI-LAKI.

GADIS BOTAK
NAH, ITU KAMU SADAR JUGA. AKU SEORANG GADIS PUN TAK BERTINDIK, TAPI KAU.(SAMBIL MENJEWER TELINGA KIRI PRIA MOHWAK DAN MELIHAT ANTING YANG DIKENAKAN PRIA ITU. LALU DENGAN MEMPERTEGAS UCAPAN, GADIS ITU MENGUNGKAPKAN SESUATU DITELINGA YANG DIA JEWER) KAMU BANCI!

PRIA MOHWAK
SUDAHLAH, MENURUTKU INI SUATU KEMAJUAN. ANTING INI MEMBUATKU LEBIH MACHO APALAGI DITAMBAH DENGAN DRUGS.

GADIS BOTAK.
LEBIH CANTIK MAKSUDMU. HANYA BANCI YANG MAU MELAKUKAN APA YANG KAMU KATAKAN TADI.



PRIA MOHWAK
SEENAKNYA KAMU BICARA. MALAM ITU, AKU YANG MERENGGUT PERAWAN KAMU. APAKAH AKU BANCI DENGAN ITU.

GADIS BOTAK
KALAU AKU TAHU KAMU SEORANG BANCI. AKU TAK RELA. LAGIPULA AKU MABUK. AKU TAK INGAT APA-APA.

PRIA MOHWAK
SUDAH, KITA JANGAN MEMPERPANJANG MASALAH. AYO KITA ANGKAT ORANG INI.

GADIS BOTAK
AKU BANYAK URUSAN. KAMU SAJA YANG ANGKAT. (LANGSUNG PERGI)

PRIA MOHWAK
EH MAU KEMANA ... TADI KAMU YANG MEMAKSA UNTUK MENGANGKATNYA, SEKARANG KAMU PERGI. APA KARENA AKU MENGATAKAN KAMU TAK BERANTING.

GADIS BOTAK
JANGAN BAWA-BAWA ANTING UNTUK MASALAH INI. AKU TAK PEDULI DENGAN BARANG ITU. KALAU PERLU AKU AKAN MEMUSNAHKANYA.

GADIS BOTAK ITU PERGI DENGAN KESAL, SOSOKNYA KEBURU DITELAN GELAP. TERTINGGAL PRIA MOHWAK DENGAN SEGUDANG KEBINGUNGAN. KEREMANGAN MULAI MERASUKI BUMI. HINGGA SUDUT KUMUH ITU BERGANTI SUDUT MISTERIUS YANG DIDIAMI DUA SOSOK BERSERAGAM SEKOLAH.

SITI
KAMU MAU BUKTI? MAU COBA? AKU PUNYA WAKTU SEKARANG. JANGAN HANYA MULUTMU SAJA YANG BESAR.

MURID 4
SABAR, KITA MAIN CANTIK. AKU SUDAH MEMESAN KAMAR HOTEL. (MENYERAHKAN KUNCI KAMAR) INGAT 501 NOMOR KAMARNYA. AKU YAKIN INI PERTAMA KALI BUATMU. JADI KAMU PASTI GROGI. INI ADA BANTUAN UNTUK MENGHILANGKAN GROGI (MENYERAHKAN SESUATU)

SITI
SABU-SABU! LAKI-LAKI PENGECUT.

MURID 4
HEI, JANGAN SEMBARANGAN. KAMU PUN, KALAU TAK ADA TONJOLAN DI DADAMU, AKU TAK YAKIN KAMU SEORANG PEREMPUAN. SEGERALAH DITINDIK TELINGAMU ITU, DAN PERGILAH BELI ANTING.

GADIS BOTAK
TANPA ANTING, KAMU AKAN MERASAKAN BELAIAN SEORANG PEREMPUAN. LIHAT SAJA NANTI.

KEREMANGAN MULAI TURUN LAGI MEMBASAHI BUMI. DUA SOSOK TADI PERLAHAN TERTELAN GELAP TERSISA GERAK-GERIK PERDEBATAN MEREKA. SETELAH GELAP, DI TENGAH BUMI SEDIKIT CAHAYA MENGESANKAN KAMAR SESEORANG YANG KESEPIAN. SITI SEDANG BERADA DI DEPAN CERMIN MEMBELAI-BELAI RAMBUTNYA.

SITI
BENAR JUGA DIKATAKAN LAKI-LAKI TADI. TAK PERLU AKU PEDULI TENTANG KEANGGUNAN. ANTING LAMBANG DARI ITU...BEGITU JUGA RAMBUT INI. AH, AKU TERPENGARUH SABU-SABU TADI. SERASA AKU DISELIMUTI DUA KEMABUKAN. INI YANG DIKATAKAN SUPER MABUK. DALAM HIDUP, AKU SUDAH MABUK DENGAN SEGALA PERMASALAHAN KEHIDUPAN, MALAH DITAMBAH LAGI DENGAN MABUK BAHAN KIMIA...BODOH! TAPI AKU SADAR DENGAN KETIDAK PEDULIANKU PADA KEANGGUNAN. TAK ADA RAMBUT PUN AKU MASIH WANITA. SEBAB DARAH PERAWAN TADI MEMBUKTIKANNYA. DALAM KETIDAK PEDULIKU PADA KEANGGUNAN, AKU HARUS TOTAL.

SITI MENGANGKAT GUNTING DI ATAS MEJA. TANGANNYA MEMBELAI-BELAI RAMBUT. LALU DIA MENGGUNTING SECARA PERLAHAN-LAHAN RAMBUTNYA MENGIKUTI RITME CAHAYA YANG PERLAHAN MEREDUP JUGA. KETIKA GELAP, CAHAYA MENERANGI SUDUT YANG KUMUH DAN BERTABURAN KARUNG-KARUNG BELEL TADI, SEBUAH PASAR TRADISIONAL YANG HABIS DIPAKAI JUALAN. SOSOK PRIA MOHWAK MASIH TERDUDUK MENUNGGU SAMPAI TEMANNYA YANG MABUK SADAR. LAMA DIA TERMANGU, TIBA-TIBA TEMAN MABUKNYA ITU MENGGELIAT.


PRIA MOHWAK
TERNYATA KAU SADAR JUGA. AKU DARI TADI DISINI MENUNGGUMU SADAR.

TEMAN
OH, MAKASIH. KAMU SEORANG LELAKI YANG PERHATIAN. TAK PERNAH KUTEMUI ORANG SEPERTI KAMU... SUDAH BERULANGKALI AKU SELALU BEGINI. HABIS MABUK, TIDUR DISEMBARANG TEMPAT.

PRIA MOHWAK
YA, ITU BIASA. HARI INI KAMU KATAKAN ITU. BESOK KAMU MENGHISAP SABU-SABU LAGI.

TEMAN
MANA BOTAK TADI.

PRIA MOHWAK
DIA PERGI BEGITU SAJA.

TEMAN
KENAPA KAMU TIDAK SEPERTI DIA SAJA?

PRIA MOHWAK
AKU BUKAN ORANG SEPERTI ITU. AKU ORANG YANG SANGAT BERSAHABAT.


TEMAN
BOHONG. KAMU BEGITU KARENA AKU MENTRAKTIR SABU-SABU.

PRIA MOHWAK
DASAR KAMPUNGAN. AKU DI SINI KARENA HATIKU BAIK.

TEMAN
BARU KALI INI ADA TEMAN YANG BAIK HATI TANPA SABU-SABU...(IA MELIHAT ANTING DI KIRI TELINGA PRIA MOHWAK) KAMU SUKA ANTING?

PRIA MOHWAK
INI UNTUK GAYA.

TEMAN
JADI KAMU ORANGNYA BERGAYA?

PRIA MOHWAK
SUDAHLAH KAMU SAJA TIDAK BERTINDIK, BUAT APA KAMU MENANYAKAN HAL YANG TIDAK PENTING ITU.

TEMAN
AKU PUNYA ANTING JUGA. KARENA KAMU BAIK, AKAN AKU HADIAKAN KEPADAMU.

PRIA MOHWAK
AKU AKAN MEMBALAS DENGAN APA?

TEMAN
INI UNTUK MENAMBAH GAYA KAMU.

PRIA MOHWAK
JADI ANTING ITU HANYA UNTUK SUPAYA AKU BERGAYA? KALAU BEGITU APA YANG AKAN MEMBALAS SEMUANYA?

TEMANNYA ITU MEMIKIRKAN SESUATU UNTUK MENJAWAB. LAMA IA BERPIKIR, SAMPAI-SAMPAI GELAP LANGSUNG SAJA MENIMBUNI TEMPAT KUMUH ITU. SEKETIKA PUN DI SUDUT YANG LAIN MEMULAI DENGAN KEREMANGAN MISTERIUS DAN SEPENGGAL CAHAYA SERUPA KIPAS ANGIN YANG BERPUTAR. BUNYI KHAS MESIN LAS, DENTINGAN GELAS, AIR MENDIDIH MULAI TERDENGAR. SOSOK ITU SIBUK KEMBALI DENGAN KEMARAHANNYA.

SOSOK DI BALIK GELAP
SEMUA TELAH MENJALANI. MUNGKIN TINGGAL KEMATIAN YANG SELALU MENAKUTI. DAN KELAHIRAN HANYALAH PERTEMUAN. SEBAB BUAT APA SESEORANG LAHIR TANPA DIKETAHUI ORANG? ITU BUKAN HIDUP TAPI MATI. AKU PUN TAK MENGERTI, KENAPA AKU HARUS BERTEMU DENGAN MASALAH ANTING. PADAHAL AKU TAK PERNAH PEDULI. SEKARANG INI AKU DINYATAKAN LAHIR KARENA BERPIKIR TENTANG ANTING. SETIDAKNYA AKU TELAH DIKENAL ORANG TANPA ANTING. DAN ITU KELAHIRAN ... TINGGAL BAGAIMANA MEMATIKAN ANTING. ITU YANG LUAR BIASA ...HA..HA..HA!
TAWANYA MENGGEMA BUMI. AKHIRNYA SOSOK DI BALIK GELAP YANG MISTERIUS ITU, NYATA JUGA DALAM PANDANGAN AKIBAT SEMUA BOTOL PERCOBAAN MELEDAK DAN DITAMBAH LAGI SINAR LAS YANG MENYOLOK. TERNYATA SOSOK DI BALIK GELAP ITU ADALAH GADIS BOTAK ATAU SITI. DENGAN KEMARAHANNYA. DIA TERUS TERTAWA. MEMBUAT SEMUA ATRIBUT PENEMUANNYA PUN MELEDAK-LEDAK HINGGA PADA TITIK YANG KLIMAKS, LAMPU TIBA-TIBA MELEDAK JUGA DAN GELAP JADINYA. SETELAH ITU TERDENGAR ANGIN MENDESIR SERAM. BUMI MULAI MEMANCARKAN CAHAYA KEREMANGANNYA. MASUK SOSOK PEREMPUAN MUDA DENGAN EKSPRESI GELISAH. IA MEMELUK SEBUAH BUNGKUSAN YANG SEKALI-KALI MENGELUARKAN TAWA DAN TANGIS OROK. SETELAH IA SAMPAI DEKAT SELOKAN, DENGAN GAYA YANG WASPADA, IA MELETAKKAN BUNGKUSAN ITU LALU IA BERSEMBUNYI DI BALIK SESUATU. DALAM PERSEMBUNYIANNYA, DATANG SEORANG NENEK-NENEK DENGAN ANTING YANG MENYOLOK. NENEK ITU KAGET MELIHAT ADA BUNGKUSAN DENGAN SUARA OROK. LALU IA MEMERIKSANYA.

NENEK
AH...ADA OROK RUPANYA. MASIH SANGAT MERAH DAN CANTIK. SAYA TAHU APA YANG HARUS DIPERBUAT UNTUK OROK SEPERTI INI...

NENEK ITU MENGELUARKAN JARUM DARI TAS BELELNYA. DITARIKNYA TELINGA OROK ITU. SEMENTARA PEREMPUAN MUDA TADI, NGERI MELIHAT APA YANG AKAN DILAKUKAN NENEK ITU. SEBELUM NENEK SEMPAT MENINDIK. BERGEGAS PEREMPUAN MUDA ITU KELUAR DARI PERSEMBUNYIANNYA UNTUK MENCEGAH.

PEREMPUAN MUDA
APA YANG AKAN KAU LAKUKAN NENEK GILA

NENEK TERKEJUT DAN TAK SEMPAT MENINDIK.

NENEK
SAYA INGIN MEMBUAT DIA BERTAHAN HIDUP.

PEREMPUAN MUDA
BOHONG! NENEK MAU MEMBUNUHNYA!

NENEK
BUKANNYA KAMU YANG MAU MEMBUNUHNYA. SAYA YAKIN INI ADALAH ANAK JADAH. KAMU TINGGALKAN IA DI SINI KARENA KAMU TAK MENGINGINKANNYA.

PEREMPUAN MUDA
ITU ANAKKU.

NENEK
YA, AKU TAHU ITU. TAPI KAMU MAU MEMBUNUHNYA, KALAU AKU JUSTRU MENGHIDUPKANNYA.



PEREMPUAN MUDA
DENGAN MENINDIK SEPERTI ITU NENEK BILANG AKAN MENGHIDUPKANNYA? ANAK ITU PASTI KESAKITAN, DAN AKU TAK AKAN MEMBIARKANNYA.

DENGAN SEGERA PEREMPUAN MUDA ITU MENCEKIK NENEK. APA KUASA NENEK YANG TUA ITU. IA HANYA BISA MENAHAN KEMATIAN UNTUK BISA LEBIH PERLAHAN. DALAM CENGKERAMAN PEREMPUAN MUDA ITU NENEK BERKATA...

NENEK
SAYA MENGHIDUPKAN IA DI DUNIA INI...YANG SAYA LAKUKAN UNTUK SIMBOL DUNAWI. IA ADALAH SALAH SATU ATRIBUT DUNIA. ANAK ITU WANITA... DENGAN ANTING SEMUA AKAN MEMANDANGNYA HIDUP. JANGAN KAMU TUNDA KEHIDUPANNYA...DENGAN ITU IA ADALAH WANITA...

PEREMPUAN MUDA
TUTUP MULUTMU NENEK GILA.

AKHIRNYA NENEK ITU MENYERAHKAN ROHNYA KEPADA KEMATIAN. PEREMPUAN MUDA ITU BELUM JUGA PUAS MENCEKIK. SAMPAI DENGAN SENDIRINYA PEREMPUAN MUDA ITU MENANGIS, BARU IA MELEPASKAN CENGKERAMANNYA.

PEREMPUAN MUDA
BENARKAH AKU MENGINGINKAN KEMATIANMU? AKU HANYA INGIN MENINGGALKANMU DI SINI. AKU MALU TERHADAP SETIAP MATA YANG MEMANDANGKU... AKU TAHU KAMU ADALAH WANITA. APAKAH TANPA ANTING MENYEBABKANMU MATI WALAU NAFAS TETAP BERHEMBUS...AKU TAK SANGGUP MEMBUNUHMU, APALAGI MENGHIDUPKANMU. BIARLAH AKU MATI DAN KAMU CARI KEHIDUPANMU SENDIRI...AKU TAK SANGGUP MENGHADAPI DUNIA.

PEREMPUAN ITU MENGAMBIL BATU YANG TERGELETAK DI SAMPINGNYA, LALU DIA MENGHANTAM BERKALI-KALI KEPALANYA SENDIRI. TERGELATAKLAH JASAD PEREMPUAN MUDA DI ATAS GENANGAN DARAHNYA. BELUM BEBERAPA SAAT, DATANG SEPASANG SUAMI ISTRI YANG TUKANG PEMULUNG. MEREKA KAGET DENGAN PENGLIHATAN MEREKA. HANYA SEBUAH BUNGKUSAN YANG MEREKA RASA PANTAS UNTUK DISELAMATKAN. DAN MEREKA PUN MEMUNGUT LALU PERGI MENINGGALKAN TEMPAT ITU. TERSISA DUA MAYAT (NENEK DAN PEREMPUAN MUDA) YANG MENGHIAS. LAMPU MENUJU KEREMANGAN SAMPAI GELAP MENJADI PEKAT. DENGAN TIBA-TIBA, BUMI TERANG BENDERANG MENGGANTI MENJADI RUANG KELAS. TAMPAK SEORANG GADIS BOTAK BERDIRI DI ATAS MEJA DENGAN MEMEGANG SEBUAH GERGAJI. DI BAWAHNYA ADA SEKITAR LIMA WANITA YANG TERIKAT. TERMASUK GURU MEREKA. SEMUA WANITA YANG TERIKAT ITU TERLIHAT GELISAH DAN KETAKUTAN DENGAN LAGAK GADIS BOTAK ITU, ATAU SITI.

GADIS BOTAK/SITI
SEKARANG WAKTUNYA MEMUSNAHKAN APA YANG KALIAN BANGGAKAN, YAITU ANTING...TAPI AKU TAK AKAN MEMAKSAKAN. DI TANGANKU INI, ADALAH GERGAJI YANG TERBUAT DARI KEIHKLASAN. GERGAJI INI YANG MENEMUKAN DIRINYA SENDIRI LEWAT KEMARAHAN. LIHAT GERIGINYA, DIA SANGAT MARAH, TAPI SESUNGGUHNYA DIA SAYANG DAN MAU MENYELAMATKAN KALIAN DARI KEMABUKAN TERHADAP ANTING. SAMPAI SEKARANG PUN DIA BERTANYA APA KEGUNAAN ANTING. TAPI SEMUA SUDAH TERJAWAB! TAHU APA JAWABNYA?...JAWABNYA ADALAH KEHIDUPAN PEREMPUAN. MAKA, DATANGNYA GERGAJI DI SINI UNTUK MENGHIDUPKAN PEREMPUAN TANPA ANTING. JADI KALIAN HARUS IHKLAS. TAK AKAN ADA RASA SAKIT...SIAPA YANG MAU DULUAN?

WANITA 1
APA JAMINANNYA KALAU ITU TIDAK SAKIT?

GADIS BOTAK/SITI
TAK ADA. KARENA ANTING TAK PENTING UNTUK DIJAMINI.

WANITA 2
TERUS APA MAKSUD KAMU TIDAK MENYAKITI?

GADIS BOTAK/SITI
KEHIDUPAN SELALU INDAH. TANPA ANTING KALIAN TAK MEMIKIRKAN KEANGGUNAN. KALIAN KIRA DENGAN TERUS MEMIKIRKAN KEANGGUNAN ITU TIDAK MENYAKITKAN? KENAPA HIDUP HARUS DISAKITI DEGAN PERASAAN SEPERTI ITU.

WANITA 3
BENAR! AKU MAU DULUAN!

GADIS BOTAK/SITI
AHA, ADA YANG SUDAH SADAR. MUNGKIN SUDAH TAK PUNYA UANG LAGI UNTUK BERGAYA.
GURU
KENAPA KAMU SANGAT TIDAK ETIS MEMAKSA WANITA MENGHAPUS SEJARAH ANTING? ANTING SUDAH SEUMUR MANUSIA, KENAPA KAMU MAU MENYALAHI KODRAT-KODRAT ITU?

GADIS BOTAK/SITI
PERTANYAAN YANG TIDAK ETIS, GURUKU SAYANG! KAMU HANYA BANYAK MEMBUAT ORANG-ORANG BODOH DENGAN KEETISANMU ITU. MASAK ADA ANTING BERHUBUNGAN DENGAN ETIKA. ITU CUMA LUARNYA SAJA. ETIKA ADA DALAM SINI (MENUNJUK DADANYA) DAN SINI (MENUNJUK KEPALANYA)...AH AKU TAK MAU BANYAK BUANG WAKTU. AKU AKAN SEGERA MEMOTONG TELINGA KALIAN SEMUA. JIKA INI PEMAKSAAN, ITU BUKAN HAL YANG MENYAKITKAN. JUSTRU SEBUAH KEBAHAGIAAN HIDUP.

SITI TURUN DARI ATAS MEJA. LALU IA MENGANGKAT SALAH SATU MURID. DENGAN GAYA YANG TEATRIKAL, IA MEMOTONG. MURID ITU TERIAK KESAKITAN. TERIAKANNYA MEMBUAT BUMI GELAP. LALU KEREMANGAN DATANG LAGI SECARA PERLAHAN. MENGGANTI RUANG KELAS DENGAN RUMAH KUMUH. DI SITU SUAMI ISTRI PEMULUNG TADI SEDANG BERDEBAT. DIIRINGI TANGISAN BAYI.

SUAMI
UNTUK APA ANAK ITU DITINDIK?

ISTRI
ANAK INI PEREMPUAN.
SUAMI
TERUS, APA DIA AKAN JADI LAKI-LAKI TANPA TINDIKAN?

ISTRI
DARI DULU JUGA PEREMPUAN PUNYA TINDIKAN.

SUAMI
MAKAN SAJA HARUS BANTING TULANG DULU, BAGAIMANA KITA MEMBELI ANTING?

ISTRI
TAK PERLU EMAS, YANG PENTING ADA YANG MENANDAKAN DIA PEREMPUAN.

SUAMI
KAMU AKAN MENYAKITI DIA.

ISTRI
KAMU JUSTRU MEMUSNAHKAN DIA MENJADI PEREMPUAN.

SUAMI
CUKUP DENGAN NAMA. AKU AKAN MEMBERIKAN DIA NAMA...SITI HAWA. BIAR ORANG TAHU BAHWA DIA PEREMPUAN. KAMU JANGAN MEMBANTAH. BIARKAN PEREMPUAN MENJADI PEREMPUAN TANPA APA PUN.

KEDUANYA MEMBISU. HANYA TANGIS BAYI YANG TERDENGAR. SANG ISTRI MENENANGKAN. SEIRING CAHAYA MEREDUP KE KEGELAPAN. DI SUDUT BUMI YANG LAIN ADA CAHAYA TERANG BENDERANG. ADA PRIA MOHWAK DENGAN EARPHONE DI TELINGANYA DAN MATANYA TERUS MELEKAT PADA LAYAR MONITOR KOMPUTER.

PRIA MOHWAK
APALAH ARTI SEBUAH NAMA UNTUK KITA SAYANG ... KAMU TAHU SIAPA SI SITI ITU? YANG PASTI IA PEREMPUAN ... YA, AKU MELAKUKAN SEBELUM KENAL DENGANMU ... KALIAN SAMA-SAMA TAK BERTINDIK ... SETELAH MALAM BERSAMA DENGANNYA, AKU MENDAPATKAN PRINSIP TENTANG BAGAIMANA MENJADI ORANG DEWASA. PRINSIP INI LAMA MEMBUAT SAYA UNTUK MENDAPATKAN MAHKOTA KEDEWASAANKU ... YA, ITU KATA KAMU. TAPI BAGAIMANA DENGAN ORANG-ORANG LAIN? APALAGI PARA PENDAHULU, MEREKA KAN SOK TUA ... CITA-CITAKU UNTUK MELUDAHI WAJAH MEREKA BELUM JUGA TERCAPAI ... JADI PILIHANKU MENCINTAIMU, BELUM MEMBUAT PENGAKUAN MEREKA TENTANG KEDEWASAAN ... AKU PIKIR INILAH KEDEWASAAN, KARENA PILIHAN UNTUK MENCINTAIMU DIJAMAN INI SANGATLAH FENOMENAL JIKA TERBUKA KEPADA KHALAYAK RAMAI. TAPI TERNYATA BANYAK JUGA YANG SEPERTI INI, DAN MALAH MEREKA YANG DILUDAHI OLEH ORANG-ORANG DEWASA. AKU SALAH STRATEGI. AKU KALAH PERANG ... BUKAN BEGITU SAYANG, BUKAN KARENA MENCINTAIMU AKU KALAH. TAPI DOKTRIN GADIS BOTAK PADA MALAM ITU YANG MEMBUAT AKU KALAH ... OH, AKU TADI MENYEBUTKAN GADIS BOTAK TADI ... OH IYA, KAMU PERNAH BERTEMU DENGANNYA, SAAT ITU KAMU MENTRAKTIR SABU-SABU ... SAYANG MAAFKAN SAYA. GADIS ITULAH YANG BERADA DALAM INTERNET DENGAN SAYA.

IA MENEKAN TUTS KEYBOARD DENGAN TEGAS. LALU PRIA MOHWAK ITU MENYENDERKAN BADAN PADA SANDARAN KURSINYA. DENGAN SEKALI TARIKAN NAFAS PANJANG, LALU IA MENGHEMPASKAN NAFAS KE SEMESTA. RUANG KEMBALI MENJADI PASAR TRADISIONAL DENGAN DUA SOSOK SETELAH GELAP MENYELIMUTI. PRIA MOHWAK YANG TADI DUDUK DI DEPAN KOMPUTER KINI BERADA BERSAMA TEMANNYA DAN KARUNG-KARUNG BELEL, JUGA GENANGAN LUMPUR DAN SEGALA MACAM KEKUMUHAN.

PRIA MOHWAK
TERIMA KASIH ATAS ANTINGNYA. AKU AKAN MEMBALAS DENGAN PUISI UNTUKMU.

TEMAN
WAH, KAMU SANGAT ROMANTIS.

PRIA MOHWAK BERDIRI SI ATAS KARUNG-KARUNG BELEL DAN MEMBACAKAN PUISI.

PRIA MOHWAK
TAK PEDULI KAU TAK BERANTING
ASALKAN CINTA YANG ADA DI HATIMU TAK SELUAS LUBANG TINDIKAN
INGIN KURENANGI SEMUA RASA YANG ADA DALAM SUKMA
TAPI JASAD INI TAK BERBENTUK MENJAMAH CINTA MUSTAHIL INI
HARUS DENGAN APA KUGAPAI CINTAMU
SEBAB AKU RAJA YANG MENENTUKAN PILIHAN
YANG TELAH BANYAK TERKAPAR DALAM PEPERANGAN
AKU BUTUH MAHKOTA CINTA
MAUKAH KAMU MENJADI MAHKOTAKU DALAM SINGGASANAN PILIHAN?

TEMAN
WAH, SANGAT ROMANTIS. KENAPA MEMBACAKAN PUISI ITU UNTUKKU? KALAU SEKEDAR MEMBALAS HADIAH, TAK PERLU DENGAN KATA CINTA...

PRIA MOHWAK
KAMU TAHU TENTANG ANAL SEX?

TEMAN
TENTU! AKU SEORANG GUY

MATA PRIA MOHWAK BERSINAR-SINAR. BEGITU JUGA TEMANNYA ITU. KEDUANYA BERBAHASA LEWAT MATA DAN KESUNYIAN GAIRAH ITU. TURUNLAH PRIA MOHWAK DARI ATAS KARUNG. DISAMBUT TEMANNYA YANG LANGSUNG BERDIRI DARI DUDUKNYA. MEREKA SALING MEMEGANG TANGAN. BERDUA MENUJU DAERAH BELAKANG KARUNG-KARUNG. ENTAH APA YANG TERJADI PADA KEREMANGAN YANG PERLAHAN REDUP DAN MENGGANTI DAERAH KUMUH ITU DENGAN TIBA-TIBA MENJADI RUANG KELAS. GADIS BOTAK TELAH MEMOTONG SEMUA TELINGA PARA WANITA TERKAPAR, MENGGELIAT-GELIAT, BERTERIAK-TERIAK KESAKITAN. DARAH MUNCRAT DI MANA-MANA. GADIS BOTAK MENGUMPULKAN SEMUA POTONGAN TELINGA DI ATAS MEJA. GADIS BOTAK KASIHAN JUGA MELIHAT MEREKA. SATU PERSATU DI POTONG TALI IKATANNYA.
GADIS BOTAK/SITI
KAMU TETAP SEORANG PEREMPUAN. TANPA TELINGA SEKALIPUN...

SETIAP IKATAN DI LEPAS, PARA WANITA ITU LEBIH MENGGELAPAR DENGAN LANTAI DAN DARAHNYA.

WANITA 4
KAMU PENIPU! KAMU MAU MEMBUNUH KAMI. INI SANGAT SAKIT...

GADIS BOTAK/SITI
YANG SAKIT BUKAN FISIKMU, TAPI HATIMU KAN?

WANITA 2
KAMU SEBENARNYA HANYA IRI KEPADA ANTING.

GADIS BOTAK/SITI
BUAT APA? AKU TAK PERNAH PEDULI DENGAN ANTING.

WANITA 1
JUSTRU HARI INI KAMU SANGAT PEDULI DENGAN ANTING.

GADIS BOTAK/SITI
OH BEGITU?
GURU
TELINGA ITU ADALAH KEHIDUPAN WANITA. KAMU MEMOTONGNYA HANYA UNTUK MEMBUAT KAMU HIDUP. SELAMA INI KAMU MERASA MATI DI ANTARA ORANG-ORANG YANG BERANTING. SEKARANG KAMU MERASA HIDUP DI ANTARA KAMI YANG TAK BERTELINGA INI. SELAMA INI KAMU MERASA SEPERTI TAK PUNYA TELINGA, KARENA TAK ADA ANTING BERTENGGER DI SITU. BAIK KAMU HARUS HIDUP...DAN KAMU HARUS MERASAKAN PUNYA TELINGA YANG MENYATU DENGAN TUBUHMU. KAMU PIKIR GAMPANG MASALAH TELINGA INI UNTUK WANITA? SEKARANG BIARKAN TELINGA-TELINGA YANG MENJADI KEHIDUPAN WANITA MASUK KEDALAM TUBUHMU. AGAR KAMU TAHU BAGAIMANA MENJADI WANITA. AYO KITA MASUKAN TELINGA ITU KE DALAM PERUTNYA...

SEPERTI DIHIPNOTIS. WALAU DALAM KESAKITAN WANITA-WANITA ITU RAMAI-RAMAI MENANGKAP GADIS BOTAK/SITI. HANYA MEMERLUKAN WAKTU SEBENTAR UNTUK MENAKLUKANNYA. GADIS BOTAK BERBALIK PANIK. KINI POSISINYA DITAHAN EMPAT WANITA. DAN GERGAJI BERADA DI TANGAN GURU...

GURU
SEKARANG KAMU HARUS RASAKAN BAGAIMANA MENJADI WANITA (DIIRIS TELINGA GADIS BOTAK ITU SATU PERSATU)

GADIS BOTAK/SITI BERTERIAK-TERIAK KESAKITAN. PARA WANITA ITU MEMAKSAKAN UNTUK MEMBUKA MULUTNYA DAN MEMASUKKAN SEMUA POTONGAN TELINGA, HINGGA IA TAK BERNAPAS LAGI. JASADNYA TERKAPAR TANPA TELINGA. BEGITU JUGA PARA WANITA KEHABISAN DARAH. MEREKA LEMAS. SATU PER SATU TERKULAI MELEBUR LANTAI. MENGGELAPAR-GELEPAR. DAN AKHIRNYA TAK BERNYAWA LAGI. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN ORANG-ORANG DATANG BERKERUMUN MELIHAT MAYAT-MAYAT BERSERAKAN. RIUH ORANG-ORANG ITU TERUS BERTAMBAH. BERDESAK-DESAKKAN UNTUK MELIHAT. LAMA-KELAMAAN RIUHNYA TERTINGGAL SAYUP-SAYUP, TEPAT BERSAMAAN DENGAN KEREDUPAN CAHAYA MENUJU KEGELAPAN YANG PEKAT. PADA KEGELAPAN ITU TERDENGAR SUARA MEMANGGIL. AWALNYA TERDENGAR SAYUP-SAYUP, MAKIN LAMA MAKIN KERAS.

SUARA
SITI...SITI, DI MANA KAMU NAK?

DI SUDUT BUMI CAHAYA SENJA BERSINAR. SOSOK PEREMPUAN KECIL MERENUNG. SAMPAILAH SUARA TADI MENGHAMPIRI.

SUARA
SITI! KALAU DIPANGGIL MENYAHUT YA? NAMAMU SITI HAWA, INGAT ITU. INI AYAH BELIKAN BONEKA UNTUKMU.

SITI KECIL MEMPERHATIKAN BONEKA YANG BARU SAJA DIBERIKAN AYAHNYA. TERBESIT SENYUM DI WAJAH SITI KECIL. IA GIRANG, MELOMPAT-LOMPAT DAN MENARI-NARI. AYAHNYA TERTAWA MELIHAT ITU. LAMBAT LAUN SEMUA MEREDUP DAN MENJADI GELAP.
***
IMRAN LAHA
CIBUBUR, APRIL 06




















































LAKON SANDIWARA PANGGUNG
(NOMINATOR)

MENGGULUNG LAYAR
Oleh: Anggi Valentinata Goenadi


PARA PELAKU :

PELOK (Laki-laki yatim piatu usia 15 tahunan, tahan uji, mandiri, berprinsip)
KREPO (Laki-laki se-usia Pelok, penakut, pengecut)
PARMIN (Laki-laki usia 14 tahun, humoris)
PLINTIS (Laki-laki usia 15 tahunan, konyol)
PEJUANG KOMANO (Bisa laki/perempuan, usia 15 tahunan, nakal, licik)
WARTAWAN 1 (Bisa laki-laki/Perempuan)
WARTAWAN 2 (Bisa Laki-laki/Perempuan)
TNTARA 1 (Laki-laki usia 16 tahun, kejam dan tegas)
TENTARA 2 (Laki-laki, kejam, bodoh)
PETHUK (Laki-laki usia 16 tahun)
GEMBOS (Laki-laki usia 16 tahun)
BUJEL (Laki-laki usia 15 tahun)
MOGOL (Laki-laki usia 17 tahun, bodoh, nakal, pemarah)
BOCAH KECIL (Usia 13 tahun, misterius)
CANTIK (Perempuan 15 tahun, periang, manja, labil)
AYU (Prempuan usia 15 tahun, lembut, baik hati, bijaksana)
RONALD (Laki-laki usia 16 tahun, bodoh, dengki, emosional)
ARYA (Laki-laki usia 16 tahun, tidak punya pendirian)
ESTIN (Perempuan usia 16 tahun, culas dan sok kaya)
SUARA (Laki-laki usia seorang bapak, arif, sabar)
CATATAN
UNTUK MENSIASATI KETERBATASAN PEMAIN SERTA KWALITAS KEAKTORAN, BISA DOUBLE CASTING, SEBAB ADEGANNYA ADA YANG TIDAK BERSAMAAN.


LAMPU BLACK OUT.

DIAWALI DARI SAYUP-SAYUP MUSIK GADUH. SESEKALI MENGHENTAK DAN BERDENTAM, KIAN LAMA KIAN MENGERAS HINGGA MEMEKAKKAN TELINGA. SELANJUTNYA… MENUKIK DISERTAI JERITAN BERATUS RATUS BOCAH YANG MEMILUKAN.

SUASANA SEPERTI PERKAMPUNGAN MENGHADAPI MUSIBAH GEMPA DAN PANIK! (BIARKAN SEJENAK SUASANA SEPERTI INI) KEMUDIAN… SEKETIKA BERHENTI. BERUBAH SUNYI SESAAT…

SUARA DEBURAN OMBAK BERGENURUH MONOTONE, MULAI MERAMBAT. LAMPU MULAI MENYALA PELAN-PELAN DARI KEREMANGAN…
LAYAR PANGGUNG PERLAHAN-LAHAN PULA MULAI TERKUAK… SAAT TERBUKA PENUH, LAMPU DIARAHKAN KE LAYAR PUTIH YANG BER-UKURAN 3X3 METER YANG DISITU TERDAPAT TOKOH KSATRIA ‘BIMA ALIAS WERKUDARA’ POSISI BERDIRI AGAK MENUNDUK, SEOLAH-OLAH SEDANG MENERIMA WEJANGAN.

SUARA DEBURAN OMBAK KIAN LAMAT-LAMAT.
SAYUP-SAYUP TERDENGAR TEMBANG JAWA: MAS KUMAMBANG DILANTUNKAN

KELEK-KELEK BIYUNG SIRO
ANENG NGENDI
ENGGAL TULUNGONO
AWAKKU KECEMPLUNG WARIH…
(DAN SETERUSNYA)

DI BAWAH POHON KERING, DI BAGIAN KIRI DEPAN PANGGUNG.
LAMPU WARNA KEBIRU-BIRUAN DI ARAHKAN KE TEMPAT TERSEBUT.
PELOK, LAKI-LAKI USIA 15 TAHUNAN, SEDANG MERENUNGI NASIBNYA.

SUARA : PELOOOK…
KAMU MESTI TABAH! JANGAN HABISKAN WAKTUMU,
DENGAN KESEDIHAN-KESEDIHAN!
JANGAN KECIL HATI LANTARAN KAMU SEORANG YATIM PIATU!
KAMU MESTI SEMANGAT!
KAMU MESTI TEGAR!
KAMU MESTI BELAJAR MENGHADAPI HIDUP!
PELOOOK…
INGATLAH TOKOH BERNAMA BIMA
MELANGKAHLAN SEPERTI DIA
BUKANKAH SEMUA SUDAH KUAJARKAN KEPADAMU?
PELOOOK…
PESANKU YANG TERAKHIR:
JADILAH ORANG YANG PINTER DAN BENER
JANGAN SEKALI-SEKALI
BIKIN DIRIMU NGILER
JANGAN SEKALI-SEKALI
KAMU SAKITI LINGKUNGAN!
INGAT ITU !!!
PELOOOK…
HATI-HATI, THOLE…!!

PELOK TERSENTAK…
DAN MENCARI-CARI DATANGNYA SUARA YANG SANGAT DIKENALNYA.

PELOK : (SEDIH)
PAK… BAPAK… PAK… BAPAK…
JANGAN TINGGALKAN AKU SENDIRIAN, PAK!
AKU TAKUT, PAK. DI RUMAH SEPI SEKALI, PAK. AKU TIDAK BERANI, PAK.
AKU SEDIH, TIDAK ADA SIAPA-SIAPA.
PAAK…BAPAAAK… PAAK… BAPAAAK, DIMANA KAMU, PAK?
PULANGLAH PAK, NEMANI AKU. AKU TAKUT SENDIRIAN, PAK…

SUARA : AKU TIDAK BISA PULANG, THOLE. BAPAKMU HARUS PERGI…

PELOK : BISA, PAK. AKU TUNGGU DISINI. NANTI PULANGNYA BERSAMA-SAMA.
AYO, PAK! AKU DISINI, DIBAWAH POHON KERING DEPAN MAKAM.
KESINILAH PAK, AKU TUNGGU…

SUARA : TIDAK BISA, LE… BAPAK HARUS PERGI.

PELOK : YAAAH… BAPAK! AKU TAKUT SENDIRIAN, PAK!

SUARA : THOLE… TIDAK USAH TAKUT! TEMAN-TEMANMU KAN BANYAK, LE.

PELOK : TAPI KALAU DI RUMAH, AKU SELALU SENDIRIAN, PAK. SEPI SEKALI, PAK.
AKU TAKUT…

SUARA : SUDAHLAH, LE, NANTI LAMA-LAMA AKAN TERBIASA. TIDAK USAH TAKUT!
BAPAK JUGA SENDIRI, DISINI.
PELOK : (SEMAKIN SEDIH DAN HAMPIR MENANGIS)
KALAU BEGITU, AKU IKUT PAK. BAPAK SEKARANG ADA DIMANA? AKU
MAU NYUSUL BAPAK AJA, DARIPADA DI RUMAH SENDIRIAN.
PAK… BAPAK… PAK… BAPAK (TERUS MENCARI-CARI) PAK…

BEBERAPA ORANG SEBAYANYA DATANG, SAAT PELOK MASIH ASYIK MENCARI-CARI SUARA BAPAKNYA DAN MEMANGGIL-MANGGIL… SALAH SATU DIANTARA ORANG-ORANG TADI MEMBERI TAHU TEMANNYA SAMBIL MENUNJUK KE ARAH PELOK.

MOGOL : EH… LIHAT ITU, PELOK! SEPERTI ORANG GILA. MASAK NGOMONG SENDIRI !!
(SEREMPAK SEMUA TERTAWA, KEMUDIAN…)
PELOK GILA… PELOK GILA… PELOK GILA… (SEMUA MENGEJEKNYA)



LAMPU BLACK OUT.

MUSIK GADUH, SEBENTAR-SEBENTAR TERDENGAR SUARA DAR-DER-DOR TEMBAKAN…
KETIKA LAMPU MENYAPUT PANGGUNG, SEROMBONGAN BOCAH BELASAN TAHUN SEDANG BERMAIN DI LAPANGAN. MEREKA BERMAIN PERANG-PERANGAN. SEBAGIAN BERPURA-PURA MENJADI TENTARA DAN YANG SEBAGIAN LAGI MENJADI PEJUANG. SATU DUA ORANG MEWAKILI WARTAWAN/PAPARASI.

P. KOMANDO : (MELIHAT SITUASI)
MAJUUU DAN BERPENCAR !!
HATI-HATI! JANGAN LUPA, DISINI BANYAK RANJAU…
(DIUCAPKAN SETENGAH BERBISIK)

P. KREPO : (KETAKUTAN)
SAYA… SA..YA… TERKENCING DI CELANA. SAYA NGOMPOL, MIN.
(BISIKNYA KE KUPING PEJUANG PARMIN)

P. PARMIN : (KAGET)
LHO… KOK BISA BEGITU?! APA NGGAK KERASA?

P. KREPO : SAYA TAKUT SEKALI, MIN! SAYA TAKUT MATI…

P. PARMIN : PEJUANG ATAU PAHLAWAN ITU… TIDAK BOLEH TAKUT, PO…KREPO !!

P. KREPO : YA AMPUUUN… SAYA MALAH KECIPIRIT JUGA, MIN.

P. PARMIN : LHO… KOK BISA BEGITU?! APA NGGAK KERASA?!

P. KREPO : SAYA KETAKUTAN, MIN.

P. PARMIN : WOOOOOW… BAUNYA, PO… KREPO !!!!

P. KREPO : TIIIIIIUUUUT…BROUT (KENTUT SEKALIAN TERBERAK)

P. PARMIN : (TERTAWA CEKIKIK’AN)

P. PLINTIS : (JENGKEL) SSSSSSTTT….!!! (TELUNJUKNYA NEMPEL DI BIBIR)

DARI ARAH SEMAK-SEMAK SUARA-SUARA LETUSAN TEMBAKAN DIARAHKAN KE TEMPAT DIMANA PEJUANG PARMIN, PEJUANG KREPO DAN PEJUANG PLINTIS BERSEMBUNYI SAMBIL MENGINTAI MUSUH-MUSUHNYA…

P. KREPO : (KIAN KETAKUTAN DAN PANIK)
CELAKA! MEREKA MENGETAHUI KITA, MIN. AYO KITA LARI DARI SINI. CEPAT,
AYO MIN… CEPAT !! KITA BISA MATI KALAU GAK LARI DARI SINI. AYO MIN..!

P. PARMIN : (MENEMBAK DENGAN MEMBABI BUTA) HIIAAAAAAT…..HIAAAT…

P. PLINTIS : (IKUT-IKUTAN MENGAMUK) SIKAAAT TERUS…. SIKAAAT TERUUUS..!!!

AKHIRNYA KEDUA BELAH KUBU BAIK YANG PURA-PURA JADI TENTARA MAUPUN YANG BERPURA-PURA JADI PEJUANG, SALING BAKU TEMBAK. ADA YANG TERKENA DAN TERKAPAR. TEMBAK-MENEMBAK TERUS BERLANGSUNG.

WARTAWAN 1 : (SIBUK MEMBIDIKKAN KAMERANYA)
WAH, INI AKAN JADI BERITA YANG MENARIK DAN …

WARTAWAN 2 : (TERTEMBAK)
AAAK…ADUH, MATILAH AKU!

WARTAWAN 1 : (TERTEGUN SESAAT. SEBELUM MENOLONG, NALURINYA…)
PAYAH! INI MELANGGAR UNDANG-UNDANG PERANG NAMANYA. NGAWUR!

P. KREPO : (PANIK… DAN MALAH LARI KE ARAH MUSUH)
LHO… SALAH!! MANA KAWAN-KAWANKU?! KOK, SAYA DITINGGAL SENDIRI!
MATI AKU… (LEMAS DAN TERJONGKOK)

TIBA-TIBA….

TENTARA 1 : (MENODONGKAN SENJATANYA KE ARAH KEPALA P. KREPO)
ANGKAT TANGAN…!!! (P. KREPO MENURUT DAN KETAKUTAN)
DIMANA KAWAN-KAWANMU PEMBERONTAK BERSEMBUNYI ?!!

TENTARA 2 : (MARAH) CEPAAAAT KATAKAN…!!!

P. KREPO : (TUBUHNYA MENGGIGIL KETAKUTAN) SA… SAYA TIDAK TAHU…

TENTARA 1 : (MEMBENTAK KASAR) BOHONG !! KAMU HARUS KATAKANA JUJUR !!
KALAU TIDAK… OTAKMU AKAN BERHAMBURAN KELUAR DARI BATOK KEPALA!

P. KREPO : BETUL. SA… SAYA TIDAK TAHU… SA… SA… SAYA HANYA DIAJAK UNTUK
BERPERANG, KETIKA SAYA SEDANG NYARI RUMPUT UNTUK SAPI SAYA..

TENTARA 2 `: SUDAH, TEMBAK SAJA !!

P. KREPO : JANGAN, PAK! JANGAN TEMBAK SAYA.

TENTARA 1 : MAKANYA, JANGAN BOHONGI KAMI! PAHAM?!

P. KREPO : BETUL, PAK. SAYA TIDAK TAHU.

TENTARA 2 : (TIDAK SABAR DAN MENEMBAK KEPALANYA… KREPO PUN
TERKAPAR DAN MATI)

DI BAWAH POHON DI PINGGIR KALI, PEJUANG PARMIN DAN PEJUANG PLINTIS BERSEMBUNYI DAN MERASA AMAN.

TIBA-TIBA… TAK JAUH DARI MEREKA BERPOSISI TIARAP.

P. PLINTIS : (KETAKUTAN)
MIIIN… LIHAT ITU! DI SEBELAHMU A..A…ADA…

P. PARMIN : (KHAWATIR SETELAH TAHU DIRINYA DALAM BAHAYA…)
TEMBAK SAJA, TIS! TOLONG ,TIS! SEBELUM ULAR ITU MENYAMBAR SAYA!!
CEPEEETAN DIKIT, TIS…

P. PLINTIS : AKU TAKUT SUARA TEMBAKANKU NANTI, KETAHUAN MUSUH…

P. PARMIN : (MAKIN NGERI) SUDAHLAH, TIS… INI JUGA MUSUH KITA, TEMBAKLAH!

P. PLINTIS : (BERBISIK) NANTI KETAHUAN MUSUH, KITA BISA CELAKA!

P. PARMIN : DARIPADA MATI DIGIGIT ULAR, LEBIH BAIK MATI KENA TEMBAKAN MUSUH !!
CEPAAAT, TIS!! ULARNYA MAKIN DEKAAAT DENGAN LEHERKU, TEMBAKLAH!

P. PLINTIS : AKU GAK MAU TEMBAK ULAR, MIN. AKU MAUNYA NEMBAK MUSUH…
TEMBAK SAJA SENDIRI, ULAR ITU…!!

P. PARMIN : (JNGKEL)
GUOBLOG!! NANTI KALAU SAYA BERGERAK SEDIKIT SAJA, ULAR ITU PASTI
MENGHABISIKU DENGAN BISA RACUNNYA! TOLONG, TIIIS! AKU TIDAK MAU
MATI KARENA ULAR INI.

P. PLINTIS : (KESAL) TEMBAK SAJA SENDIRI !!!!

P. PARMIN : TIS, KALAU SAYA MATI DIGIGIT ULAR INI, NAMANYA BUKAN PEJUANG ATAU
PAHLAWAN. SAYA INGIN DISEBUT PAHLAWAN. TIS! TUGAS PAHLAWAN
BUKAN MENEMBAK ULAR TAPI MENEMBAK MUSUH

P. PLINTIS : ULAR JUGA MUSUH KITA, MIN.

P. PARMIN : KAMU BETUL-BETUL TEGA SESAMA PEJUANG, TIS!!

P. PLINTIS : SUDAHLAH, JANGAN RIBUT TERUS! ASAL KAMU DIAM, ULAR ITU TAK AKAN
MENGGIGIT ! PERCAYALAH…!!!

P. PARMIN : (MELIRIK POSISI KEPALA ULAR YANG MAKIN DEKAT LEHER)
PAYAH KAMU, TIS! BETUL-BETUL PAYAH, KAMU! PLEASE TEMBAKLAH, TIS!
KATANYA, ULAR JUGA MUSUH KITA. KENAPA TAK SEGERA KAU TEMBAK?!

P. PLINTIS : (JENGKEL DAN RISIH)
JANGANKAN ULAR, TIKUS PUN JUGA MUSUH KITA!!
(SAMBIL MEMBERONDONGKAN SENAPAN KE ARAH ULAR)


TENTARA 1 : ITU SUARA TEMBAKAN,,. DARI ARAH SANA.

TENTARA 2 : BETUL! MARI KITA CARI MEREKA...

TENTARA 1 DAN TENTARA 2 MENGENDAP-ENDAP PENUH HATI0HATI, SAMBIL SESEKALI MENGARAHKAN SENAPANNYA KE BERBAGAI PENJURU. TIBA-TIBA PEJUANG PLINTIS DAN PEJUANG PEJUANG PARMIN, KELUAR DARI PERSEMBUNYIANNYA SAMBIL ANGKAT TANGAN…

PARMIN : (MEMBUANG SENAPANNYA)
YUUK, KITA BERMAIN-MAIN YANG LAIN SAJA, YUUK! NGGAK ASYIK, MAIN
PERANG-PERANGAN. MENAKUTKAN…

PLINTIS : DASAR PENAKUT!! SAMA ULAR SAJA TAKUTNYA MINTA AMPUN, DEH…
PADAHAL SEMUANYA… KHAN HANYA PURA-PURA.

PETHUK YANG PURA-PURA JADI TENTARA 1, JADI JENGKEL MELIHAT ULAH PARMIN. DEMIKIAN JUGA GEMBOS YANG BERMAIN JADI TENTARA 2

PETHUK : KAMU TERLALU SERIUS SICH, MIN…

GEMBOS : HIYA, MIN. INI KHAN CUMAK MAIN-MAIN SAJA! KENAPA MESTI TAKUT?!!
PARMIN : BERARTI SAYA SANGAT BAKAT MENJADI PEMAIN DRAMA, DONG. YA NGGAK
(SAMBIL MENEPUK-NEPUK DADA)

PETHUK, GEMBOS DAN PLINTIS SECARA SEREMPAK MELAMPIASKAN KEJENGKELANNYA…
: HUUUUUUUUUUUUU…. TAEK ANJING !!

GEMBOS : BAKAT JADI SEORANG PENAKUT…

PARMIN : BIARIN, YANG PENTING KHAN MEMILIKI BAKAT… YA THO…YA THO….

PETHUK : BAKAT JADI SEORANG PENAKUT KOK SOMBONG, MIIIN…MIIIN !!

KREPO : (BANGUN DARI TERLENTANGNYA, KARENA MATI)
LHO… SUDAH SELESAI THO INI?? WAAAH… NGAK BILANG-BILANG.
SAMPAI CAPEK JE… PURA-PURA NGGAK BERNAFASNYA.

PARMIN : BERARTI KAMU JUGA PUNYA BAKAT BERMAIN DRAMA PO… KREPO.

GEMBOS : BAKAT MENJADI MAYAT KAMU, PO-KREPO.

SEMUANYA TERTAWA NGAKAK. KREPO MENDEKATI BUJEL (SANG WARTAWAN YANG MASIH ASYIK MENIKMATI PERANNYA)

KREPO : HEY… BANGUN! PERANG-PERANGAN SUDAH SELESAI. (KAGET)
YA AMPUUUN… BUJEL, SAMPAI KETIDURAN BENERAN.

GEMBOS : SSSSST…. KITA KERJAIN SAJA. (GEMBOS MENUSUKI LOBANG
HIDUNG BUJEL DENGAN RUMPUTAN DAN…)

BUJEL : (BERSIN DAN BANGUN) SIALAN KALIAN… NGGANGGU SAJA !!

KREPO : (MENCARI-CARI) LHO. MOGOL KEMANA, KOK GAK ADA SENDIRI…

PETHUK : PALING-PALING NGINTIP ORANG YANG SEDANG MANDI DI KALI SANA...

GEMBOS : (MERASA) JANGAN NYINDIR SAYA, KAMU, THUK-PETHUK !

KREPO : KOK… KAMU MERASA TERSINDIR SICH. APA KAMU HOBINYA SAMA
DENGAN MOGOL, MBOS-GEMBOS?!

GEMBOS : (AGAK TERSINGGUNG)
ITU KHAN CUMA ISENG… BUKAN HOBI, TAUK!!

KREPO : KALAU MOGOL, MEMANG HOBI KOK, KATANYA…

GEMBOS : KALAU SERING ITU MEMANG HOBI!! KALAU SAYA KHAN BARU SEKALI.
ITU PUN DIAJAK MOGOL. DAN… CUMAK MELIHAT DIKIIIT SEKALI.

SEMUA KEMBALI TERTAWA CEKIKIK’AN…

PARMIN : SUDAH… SUDAH! KAYAK GITU KOK, DIOMONGIN. SARU !!

BUJEL : HEBAT, PARMIN! AKU SETUJU, MIN. (SEPI SESAAT)
YUUK, KITA BERMAIN LAGI… APA GITU, YUUK!

GEMBOS : PALING-PALING KAMU TIDUR LAGI. MALES, AH…!

PETHUK : YUUK, KITA CARI MOGOL DI KALI. BARANGKALI DIA SUDAH ASYIK DENGAN
HOBINYA…

KREPO : BARANGKALI KAMU JUGA PINGIN NGINTIP, THUK-PETHUK!

PETHUK : ENAK SAJA! EEEEHM… KALAU IYA, EMANG KENAPA?!

MOGOL : (DATANG TIBA-TIBA…) SIAPA TADI YANG NGOMONGIN SAYA?
MEMANGNYA SAYA TIDAK TAHU, APA YANG KALIAN BICARAKAN!

PETHUK : SUDAH, GOL… NGGAK USAH TERSINGGUNG! LAGI PULA, HOBIMU ITU…
CUKUP MURAH MERIAH, KOK. TANPA BAYARAN!

KREPO : BAYARANNYA KALAU KETAHUAN BAPAKMU, GOL! MALU!

MOGOL : KALAU KETAHUAN BAPAKKU, TIDAK HANYA MALU. BAHKAN BISA KENA
BOGEM MENTAH DARI BAPAK SAYA. (KREPO TERTAWA NGAKAK,
DISAMBUNG DENGAN TEMAN-TEMAN YANG LAINNYA)
TIBA-TIBA…
TEMAN-TEMAN ITU DIA, PELOK! KITA HAJAR RAMAI-RAMAI SAJA, YUUK!!

AJAKAN MOGOL ITU DISAMBUT TEMAN-TEMANNYA SETUJU. MEREKA BERKACAK PINGGANG MENGHADANG PELOK. NAMPAKNYA PELOK TAK BEGITU YAKIN BAHWA MEREKA HENDAK BERBUAT JAHAT TERHADAP DIRINYA.

SUASANA REDUP KARENA MENDUNG, SESEKALI BUNYI PETIR MENYAMBAR. GEMURUH SUARA OMBAK KEMBALI HADIR. TEMBANG MAS KUMAMBANG PUN MERAMBATI KUPING. LAMPU SEDIKIT KEMERAHAN, DIARAHKAN KE LAYAR PUTIH..

MOGOL : EH… ORANG GILA! KAMU MAU JADI JAGOAN, YA? KATANYA KAMU
SEDANG BERGURU UNTUK MENCARI KESAKTIAN?

PELOK : (BINGUNG DAN KETAKUTAN) BERGURU APA?

MOGOL : ALAA… JANGAN PURA-PURA BINGUNG, KAMU! MEMANGNYA KITA-KITA INI
NGGAK TAHU, KAMU SERING KE MAKAM DAN NGOMONG SENDIRI DI
BAWAH POHON KERING!

PELOK : AKU KE MAKAM, UNTUK MENDOAKAN ORANG TUAKU YANG SUDAH
MENINGGAL. BUKAN BERGURU.

MOGOL : KOK, SEPERTINYA… KAMU SERING NGOMONG-NGOMONG SENDIRI.
NGOMONG SAMA SIAPA, KALAU BUKAN SAMA GURUMU?

PELOK : TIDAK. SAYA TIDAK NGOMONG APA-APA. SAYA HANYA BERDOA UNTUK
KEBAIKAN ORANG TUAKU AGAR DITERIMA ALLOH DI SISINYA.

GEMBOS : SUDAH! JANGAN BOHONG! KITA PERNAH MELIHATMU SEPERTI SEDANG
MEMBACA MANTRA, LOK-PELOK! NGAKU SAJA KALAU KAMU MAU
NANTANG KITA-KITA INI.

PELOK : AKU TIDAK PUNYA NIAT SEPERTI ITU, KAWAN. BETUL! BUAT APA BERANTEM.

PETHUK : DASAR ORANG MISKIN! SUDAK MISKIN, BOHONG LAGI. YUUK, KITA HAJAR
SAJA. SETUJU?!

SEREMPAK : Setujuuuuu…

Pelok : Jangan… Jangan sakiti aku, kawan!


MEREKA RAMAI-RAMAI MEMUKULI PELOK. PELOK TAK BRDAYA. IA HANYA MENGADUH KESAKITAN, SESEKALI MERINTIH MINTA AMPUN DAN MENYEBUT-NYEBUT NAMA BAPAK DAN IBUNYA. SAAT PELOK BABAK BELUR DAN TAK SADARKAN DIRI, MEREKA BERAMAI-RAMAI MENYERETNYA DAN MENGIKATNYA DI POHON KERING YANG SERING DIGUNAKAN PELOK UNTUK MERENUNGKAN NASIBNYA SEHABIS DARI MAKAM ORANG TUANYA. KEMUDIAN MEREKA MENINGGALKAN PELOK BEGITU SAJA. KEADAAN PELOK MENYDIHKAN SEKALI.
PADA SAAT SEPERTI ITU… DATANGLAH BOCAH KECIL, ENTAH SIAPA. WAJAH DAN PAKAIANNYA PUN SERBA PUTIH. BOCAH ITU DATANG TERSENYUM SAMBIL MENGUSAP-USAP KEPALA PELOK, KEMUDIAN MELEPAS TALI YANG MENGIKATNYA TANPA BANYAK BICARA.
PELOK TERSADAR DARI PINGSANNYA…

Pelok : (MENATAP HERAN BOCAH DI DEPANNYA) Siapa kamu…?

Bocah Kecil : (HANYA MENATAPNYA LEKAT-LEKAT DAN TERSENYUM)

Pelok : (SEPERTI DIRAMBATI KEKUATAN TERTENTU HINGGA
BADANNYA TIBA-TIBA SEGAR) Kamu… siapa sebenarnya?

Bocah Kecil : (TERSENYUM)
Aku meskipun kecil dan dikecilkan banyak orang. Aku adalah
Bima!

Pelok : (TERHERAN-HERAN)
Jadi…

LAAAP…! BOCAH KECIL MENYUSUP KE DALAM DIRI PELOK. NAMUN YANG DIRASAKAN PELOK SEPERTI ADA YANG BERKELEBAT DI BELAKANGNYA. DAN TUBUHNYA TERASA DINGIN DAN BERAT.

BYAARR !! LAMPU KEMBALI DIFOKUSKAN KE LAYAR DIMANA BIMA BERADA DISANA. TANGAN BIMA BERUBAH MENJADI TOLAK PINGGANG DAN MENGGERAM : Heeeeeeeeeemmmmmmm…. !!!

PELOK MENGHENTAKKAN KAKINYA.
MUSIK BERGEMURUH DAN BERDENTAM.
PELOK MELANGKAHKAN KAKINYA LEBAR-LEBAR SEPERTI BIMA, DAN MUSIK PUN MENEKAN SETIAP LANGKAHNYA. DUM… DUM… DUM… DAN SETERUSNYA.

PANGGUNG KOSONG.
LAMPU BLACK OUT.

BOCAH-BOCAH BERMAIN BERAGAM MAINAN MODERN: MOBIL-MOBILAN, HELYCOPTER, KERETA-KERETAAN, ROBOT-ROBOT KECIL BERBAGAI TOKOH (POKOKNYA SEGALA MACAM MAINAN SEJENIS ‘TAMIA’) SUASANA TAMPAK RAMAI. BEBRAPA BOCAH MENIKMATI PIZZA, BERGER, COKELAT, ICE CREAM, POP CORN, AYAM KENTUCKY DAN LAIN SEBAGAINYA.

PADA SAAT BERGEROMBOL DAN ASYIK DENGAN MAINANNYA SENDIRI-SENDIRI, LAMPU NETRAL (BOLEH LAMPU FOLLOW) MULAI DIARAHKAN KE TEMPAT MEREKA BERMAIN.

Cantik : Kawan-kaan, lihatlah mainanku. Ini baru namanya Helycopter
Termegah dan termodern. Hely ini tidak bisa jatuh meski menukik
180 derajad. (SAMBIL TANGANNYA MEMAINKAN REMOTE)

Ayu : Tepuk tangan, kawan-kawan! (SEREMPAK TEPUK TANGAN)
Bayangkan seorang perempuan mampu menjadi pilot yang sangat
Gesit dan tangkas.

Ronald : Hey…kawan-kawan, lihat score-ku! 100 ribu lebih.
Ayo siapa berani memecahkan record-ku? Kawan-kawan… siapa
yang mampu mengalahkan aku… 100 ribu rupiah, hadiahnya.

Arya : (MENCIBIRI RONALD DENGAN SINIS)
Main tetris itu…sekarang sudah kuno, tauk! Game watch murahan
Saja, dipamerkan! Kalau aku… malu, Ron-Ron… PS, dong!

Ronald : Bukan masalah Game-Watch-nya tapi score-nya, Arya..

Cantik : Ramai dech… ramai. Sudah, jangan ribut! Berisik. Kampungan!

Estin : Bagi berger-nya, dong. Aku lapar nih…

Rundy : Kamu belum makan ya… sepulang sekolah? (MEMBERINYA)

Estin : Sudah sih, tapi ngeliat kamu makan, kayaknya nikmat buanget.
Jadi pingin… Makasih ya Run.

Ayu : Estin… kamu mau Pizza? Saya sudah kenyang, nih…

Estin : Enggak, udah… makasih. Bisa meletus perutku ntar, makan terus.

Cantik : Mana-mana… saya mau, dong.

Ayu : Ini… ambil saja! Ice cream-nya… kalau kamu mau juga. Saya
sudah kenyang banget, rasanya.

Ronald : Ice cream-nya buat saya, dong. Masak semua untuk Cantik!

Ayu : Ini, ambil !

Ronald : Ya… Arya, kamu mau enggak… ice cream?

Arya : Enggak. Terima kasih… Kenyang, aku.

Ronald : Asyiiiik… biar aku sendiri yang habiskan.


PELOK MELINTAS DI TEMPAT ITU. KEPALANYA MENGENAKAN MAHKOTA BIKINANNYA SENDIRI YANG TERBUAT DARI DAUN NANGKA. PELOK TERUS MELANGKAH MENIRUKAN LANGKAH-LANGKAH SEORANG BIMA.

Arya : Sssssstt…, kita bubar saja! Ada orang gila datang.

Ayu : Aah, kamu. Jangan bilang begitu! Dia khan teman kita juga.

Ronald : Tapi… katanya sekarang dia gila kok, Yu-Ayu. Suka ngamuk…

Ayu : Nggak percaya, ach! Dia orangnya baik,kok.

Pelok : (BERHENTI)
Selamat siang, teman-teman. Boleh saya bergabung?

Ayu : Silahkan, Pelok.

RONALD, ARYA, CANTIK, ESTIN DAN RUNDY, TAK MENJAWAB… KECUALI SEGERA MEMBERESKAN MAINANNYA DAN BUBAR MENINGGALKAN TEMPAT ITU.
PELOK TERHERAN-HERAN… DEMIKIAN JUGA AYU.

Ayu : Pada mau kemana? Kok…

Pelok : Ayu, mereka tak senang dengan kedatanganku. Kamu juga,
Silahkan kalau mau mengikuti mereka. Maaf, jika aku
Mengganggu kalian disini. Sebaiknya, saya pergi dari…

Ayu : Tunggu! Aku tidak seperti mereka. Jangan pergi! Aku betul-betul
Tidak mengerti. Kenapa mereka pergi?!

Pelok : Mereka menganggapku tak pantas berkawan dengannya.

Ayu : aah, masak… mereka berpikiran seperti itu?

TERIAKAN : (DIANTARA MEREKA)
Ayuuuuu…, hati-hati! Dia… orangnya gila! Sekali lagi, awas lho !!

Pelok : Kamu dengar sendiri, Ayu. Mereka menganggapku gila.
Menyakitkan, memang. Tapi… harus bagaimana, saya
menjelaskan kepada mereka… kalau saya masih waras.

Ayu : Barangkali… karena kamu sering mengenakan daun seperti itu…

Pelok : Ayu, saya orang miskin. Kesukaan saya hanya meniru-niru
seorang Bima. Saya menyukai wayang. Apakah salah? Dan
kekagumanku terhadap tokoh Bima, sehingga saya membuat
mahkotanya dari daun nangka. Lagi pula, sebelum dan sesudah
ayah saya meninggal, selalu berpesan agar saya menjadi contoh
seperti Bima.

Ayu : Ooooo… begitu, tho?

Pelok : Betul. Ayu!

SUARA GADUH ORANG-ORANG MENUJU TEMPAT ITU. ADA YANG MEMBAWA KETAPEL, ADA YANG MEMBAWA PENTUNGAN, ADA YANG MEMBAWA TALI, ADA YANG MEMBAWA BATU. MEREKA HENDAK MENGHABISI SI PELOK. ENTAH SIAPA YANG MENGHASUT HINGGA MEREKA MARAH BESAR. ANAK-ANAK SEKOLAH ITU, SEMUA TEMAN-TEMAN PELOK JUGA TEMAN-TEMAN AYU.

Ronald : (MENUNJUK KE ARAH PELOK DAN AYU) Itu, dia! Sikat saja!
Kasihan Ayu… Dijailin apa tadi kamu sama dia, Yu-Ayu?

Ayu : Ronald, Pelok tidak punya maksud jahat. Kenapa kamu mengajak
teman-temanmu untuk mengeroyok Pelok. Kamu salah menduga!

Ronald : (TAK MENDENGARKAN PERINGATAN AYU)
Ayuuu… larilah kemari! Daripada kamu nanti kena lemparan batu.

Ayu : Pelok, larilah! Cepat, larilah!

Pelok : Tidak, Ayu. Biarlah mereka mengeroyokku. Yang penting saya…
tidak bersalah.

Ronald : Kalian dengar sendiri, khan? Kalau dia menantang kita.

Ayu : Tidak! Dia tidak menantang kalian. Sudahlah! Jangan teruskan
Niat kalian. Kalian salah paham!

Gembos : Keroyok saja…! Jangan hiraukan kata Ayu! Sikaaaat…!

KERIBUTAN PUN SULIT DIHINDARI. DAN TERJADILAH PENGEROYOKAN TERHADAP DIRI PELOK. PELOK TAK DAPAT BERBUAT BANYAK KECUALI MENAHAN KENYERIAN DAN MENGADUH SAMBIL BERTERIAK MINTA TOLONG. AYU MENANGIS SAMBIL SIBUK BERTERIAK-TERIAK BERUSAHA MELERAI.

Ronald : (NGOS-NGOSAN) Yuuuk, kita cabut. Sudah mampus, dia!

AYU MEMELOTOTI RONALD, WAJAHNYA MENYIRATKAN KEBENCIAN YANG MENDALAM.

Ronald : Knapa kamu melotot aku, seperti itu? (MELUDAH SINIS)
Urusi…tuch, sahabat baikmu!
(KEPADA KAWAN-KAWANNYA) Okey, kawan-kawan… Yuuk kita
CABUT DARI TEMPAT INI. (SEMUA MENGIKUTI APA KATA RONALD)


AYU MELANGKAH MENDEKATI PELOK YANG MASIH MERINGKUK KESAKITAN

Ayu : (MENATAP PENUH IBA)
Pelok… Pelok…
(PELOK MENOLEH KE AYU. MEREKA LAMA BERTATAPAN.
DENGAN UJUNG BAJUNYA, AYU MEMBERSIHKAN
LUKA-LUKANYA DENGAN PENUH HATI-HATI. BERCAK-
BERCAK DARAH MENGOTORI BAJU YANG DIKENAKAN AYU)
Sakit sekali, ya…? (PELOK TERUS MERINGIS KESAKITAN)
Pelok, Ayu antarkan ke Puskesmas, Yuuk!

Pelok : Terima kasih, Ayu… nggak usah, nanti juga sembuh. Sudah.. Yu,
ngelapnya. Sekali lagi, terima kasih atas kepdulianmu.
Aa..ak.. (SAAT SEBAGIAN LUKANYA TERKENA USAPAN AYU)

Ayu : Maaf… maaf, aku nggak sengaja… (KAGET)

Pelok : Sudahlah, Yu… Tinggalkan saja, saya di sini. Pulanglah! Nanti kamu dicari orang tuamu.

Ayu : Tidak! Biar aku disini, menemanimu.

MEREKA SALING PANDANG. MASING-MASING MERASAKAN KESEDIHAN. ADA SESUATU YANG MEREKA PIKIRKAN. ENTAH APA?

DATANG RANI, ADIK AYU.

Rani : Mbak Ayu, disuruh Papa pulang. (AYU HANYA DIAM)
Ayo! Nanti Papa marah, kalau Mbak Ayu nggak segera pulang.

Pelok : Sudah, Ayu. Tinggalkan saya! Pulanglah!

DENGAN LANGKAH BERAT DAN MALAS-MALASAN, AYU DAN RANI MENINGGALKAN TEMPAT TERSEBUT.

LAMPU TEMARAM

MUSIK MENGALUN, NGLANGUT.
TEMBANG MAS KUMAMBANG KEMBALI HADIR, MENGIRIS-IRIS ULU HATI…
PELOK BANGKIT DARI DUDUKNYA DAN TERTATIH-TATIH MELANGKAH PERGI. BERTUJUAN KEMANA, PELOK SENDIRI TIDAK PERNAH TAHU.

TIBA DI SUATU TEMPAT.

BOCAH KECIL : HEY…! (PELOK KAGET, SAAT DIHADAPANNYA SUDAH
BERDIRI SEORANG BOCAH KECIL YANG MISTERIUS)

PELOK : KAMU… (TERHERAN-HERAN SAMBIL MNAHAN NYERI)

BOCAH KECIL : YA… AKU ADALAH TEMANMU, KALAU KAMU MENYADARI.
KENAPA KAMU TAK MELAWANNYA, SAAT KAMU DIKEROYOK?

PELOK : GILA! ORANG SEBANYAK ITU, SURUH MELAWANNYA?!

BOCAH KECIL : TAKUT?

PELOK : BUKANNYA TAKUT, TAPI TIDAK IMBANG! SAYA TIDAK MAU MATI KONYOL!

BOCAH KECIL : HEY, KAWAN! KAMU TIDAK MELAWANNYA SAJA, TIDAK MATI. BUKTINYA,
KAMU MASIH HIDUP. IYA, KHAN? COBA KALAU KAMU MELAWANNYA….
TAMBAH HIDUP, (TERBAHAK-BAHAK)

PELOK : JANGAN KONYOL, KAMU! NGACO!

BOCAH KECIL : LHO?! AKU NGOMONG BERDASARKAN KENYATAAN. FAKTA… EMANGNYA
AKU NGARANG-NGARANG CERITA PALSU? BAYANGKAN, COBA! DIKEROYOK
ORANG SEBANYAK ITU, MATI. PADAHAL KAMU TIDAK BERUSAHA
MEMBALAS DAN HANYA DIAM! COBA SEANDAINYA KAMU NGAMUK JUGA!

PELOK : SUDAH… SUDAH, PUSING AKU MENDENGAR RUMUSANMU. WONG TIDAK
IMBANG KOK, DISURUH MELAWAN. SECARA MATEMATIS, JELAS KALAH KOK!

BOCAH KECIL : HEY, KAWAN! SALAH DAN BENAR TIDAK MENGENAL ANGKA MATEMATIKA.
YANG ADA HANYALAH BERANI ATAU TIDAK MEMPERTAHANKANNYA.
KATANYA, KAMU INGIN SEPERTI BIMA!


DEGG…!SEKETIKA PELOK BERKECAMUK DADANYA. ADA SESUATU YANG MERAMBATI SELURUH TUBUHNYA. PELOK SEPERTI KENA STROOM. RASA NYERI, RASA NGILU, RASA PERIH, RASA MEMAR, TIBA-TIBA SEKETIKA MUSNAH. PELOK MERASA SEGAR DAN SEHAT. RASA TAKUTNYA PUN BERUBAH MENJADI KEBERANIAN YANG MELETUP-LETUP. PELOK KEMBALI MELANGKAH SEPERTI BIMA. TERUS MENGGERAM DAN MEMAINKAN KUKU PONCONOKO.
BOCAH KECIL YANG BERADA DIHADAPANNYA SUDAH MENGHILANG ENTAH KEMANA.

(HAAA…HAAAA…HAAA…! PELOK TERSADAR, MENCARI BOCAH ITU, TAPI TAK DITEMUKANNYA, KARENA BOCAH ITU SUDAH MENYUSUP KE DIRINYA)

PELOK MELANGKAH PULANG, DAN DUDUK TERMENUNG DI DEPAN LAYAR PUTIH. PELOK MENDENGAR SUARA ORANG RIBUT-RIBUT. SUARA ITU SEMAKIN DEKAT. BERPULUH-PULUH BOCAH BAHKAN BERATUS-RATUS MENGGEDOR RUMAH PELOK. BEBERAPA ORANG MASUK. PELOK KAGET TAPI BERUSAHA TENANG. ORANG-ORANG ITU MULAI MENARIK TANGAN PELOK DENGAN KASAR. PELOK BERONTAK. MEREKA BERJATUHAN. MEREKA MARAH BESAR…

PEMARAH 1 : (GERAM) KAMU MAU MELAWAN KAMI, BANGSAT?!!

PELOK : YA, KARENA SAYA TIDAK MERASA BERSALAH DENGAN KALIAN. DAN INI…
RUMAHKU. SAYA WAJIB MEMPERTAHANKANNYA. SIAPA SAJA YANG
BERUSAHA MERUSAK RUMAH INI, SAYA BER-HAK MELINDUNGINYA.
KARENA ITU MEMANG TANGGUNG JAWAB SAYA.

PEMARAH 2 : JADI KAMU MENANTANG, KAMI?

PELOK : TIDAK! SAYA HANYA MENJALANKAN KEWAJIBAN.

YANG LAIN : SIKAAAATT….!


TERJADILAH PERKELAIAN YANG SERU. KALI INI PELOK BETUL-BETUL SEPERTI ORANG KESURUPAN. DIA TAMPAK KUAT SEKALI. TAK SEDIKIT YANG BERGELIMPANGAN AKIBAT PUKULANNYA YANG MEMBABI BUTA.
SUARA DARI LUAR KIAN RIBUT. TAK SEDIKIT YANG BERTERIAK MENG-KOMANDO UNTUK MEMBAKAR RUMAH PEL;OK.

MUSIK GADUH, SESEKALI MENGHENTAK DAN BERDENTAM.
JERITAN-JERITAN ORANG TERUS MELENGKING. ASAP MEMBUBUNG DI LOKASI TERSEBUT, AKIBAT RUMAH PELOK YANG DIBAKAR RAMAI-RAMAI.

LAMPU MERAH MENYALA DIARAHKAN KE LAYAR PUTIH DIMANA BIMA TERUS MENGGERAM DI DALAMNYA.
ORANG-ORANG TERUS BERGELIMPANGAN DAN JADI KORBAN.
BUNYI PETIR TUMPANG TINDIH, DEBURAN OMBAK YANG MENGGANAS, BUNYI RERUNTUHAN.

SUASANA GADUH MENCAPAI PUNCAK, DAN SEKETIKA BERHENTI.
PELOK BERDIRI TEGAK DIANTARA ORANG-ORANG YANG TERGELETAK DAN TAK BERDAYA.

DUA ORANG YANG SANGAR WAJAHNYA BERADA DIKANAN KIRI LAYAR PUTIH, PELAN-PELAN MEREKA MENGGULUNGNYA NAIK KEATAS HINGGA HABIS… NAMUN WAYANG BIMA YANG TERTANCAP DISITU MASIH BERDIRI TEGAK DAN TERUS MENGGERAM, HEEEEEMMMMMMMMMMM…… TIDAK TURUT TERGULUNG BERSAMA LAYAR.
PELOK MASIH BERDIRI MEMATUNG. GAGAH, DAN TERUS MENGGERAM PULA: HEEEEEMMMMMMM……
TEMBANG MAS KUMAMBANGTERUS MELANTUN… KIAN LAMA KIAN MENGHILANG BERSAMA REDUPNYA LAMPU. LAYAR PANGGUNG DITUTUP



T A M A T




Bontang, April 2006
























































(NOMINATOR)
PENGAGUM BINTANG

Karya :
Dadi Reza Pujiadi

Tokoh :
RAYANI
MARIO
LINDA
PRIA CANGKLONG
SABRON
ABAH
NINI
ATOK
ITEM
SUTRADARA
ANTON
PENJUAL TEROMPET.
TUKANG PEL.
LAKI-LAKI
PEMUDA- PEMUDI
ORANG-ORANG








SEBUAH RUANG
Ruangan bercahaya temaram dan berasap (Dominan back light). Back Sound
Samar-samar terdengar lagu House musik. (Mungkin penonton akan
mempunyai kesan bahwa ruang ini adalah bagian ruang lain dari sebuah
diskotik.)
Tiga orang berada di sana terlihat seperti bayangan.
Seorang pria duduk di kursi memperhatikan selembar photo. Asap mengepul
dari rokok di dalam cangklongnya. Di depannya duduk Seorang laki-laki, dan seorang lagi berdiri tegak di belakangnya. Mereka hanya dibatasi sebuah meja.
01. Pria cangklong : Tipe begini banyak yang suka. Kapan bisa kau dapatkan dia?
02. Lelaki : Tidak lama lagi, satu atau dua minggu sepertinya mungkin...
03. Pria Cangklong : Alah, waktu segitu terlalu lama! Tidak bisa lebih cepat?
04. Lelaki : Aku usahakan secepatnya Boss...
05. Pria Cangklong : (mengangguk-angguk) Berapa umurnya?
06. Lelaki : 16 tahun. Broken home... Jadi tidak terlalu susah untuk dikerjain kan?
Pria Cangklong tertawa.
07. Pria Cangklong : Usia yang tepat untuk disate...
Lelaki tertawa.
08. Lelaki : Beri aku waktu, Boss. Akan kuberi kabar baik secepatnya. Orangku sedang berusaha...
09. Pria Cangklong : Baiklah. Aku senang cara kerjamu. Kau tak mungkin mengecewakan aku kan? Aku harap jangan!
10. Lelaki : Tentu, Boss. Tentu!
Tertawa.

TAMAN
Set sederhana. Background hotel dan gedung perkantoran untuk menunjukkan bahwa setting adalah nuansa tengah kota.
Sebuah bangku panjang terletak tengah panggung.
Langit sore yang cerah, Awan putih menutup cakrawala. Back sound bunyi seliweran kendaraan sesekali. Suara teriakan Pedagang keliling.
(Lighting fade in) Mario dan Rayani masuk bersamaan dari Arah berlawanan. Mereka tiba di bangku, serempak ingin duduk. Namun tidak jadi. Saling menunggu.

11. Mario & Rayani : (berbarengan) Silahkan!
Keduanya jadi serba salah.
12. Mario & Rayani : (berbarengan) Kamu duluan...
Makin serba salah. Sama-sama tertawa. Keduanya duduk. Mario membuka bungkusan kacang rebus. Rayani membuka tas, mengeluarkan lembar skenario. Mengaduk-aduk isi tas.
13. Rayani : (sibuk) Di mana sih... (Kesal.) Aduh, perasaan sudah aku masukin...
14. Mario : (mukanya mendekat ke Rayani) Cari app...
Tak disangka siku lengan Rayani mengenai muka Mario. Mario kesakitan.
15. Mario : Aduh...
16. Rayani : Oh, maaf, maaf! Kena ya? Aku nggak tahu...
Beberapa saat Rayani kembali sibuk mencari... Tapi kemudian sadar dengan
keadaan orang di sampingnya.
17. Rayani : Kamu nggak apa-apa...
Rayani ingin melihat muka Mario, tangannya menyentuh tangan Mario yang sedang memegang bungkus kacang rebus. Kacang rebus tumpah ke muka Mario.
18. Rayani : Aduh, aduh, aduh... Maaf lagi... (Memunguti kacang di bangku dan di tanah.)
19. Mario : Biarkan... Biarkan... Biar aku yang ambil...
20. Rayani : Aku saja, aku saja... Aku yang salah kok. Mau aku ganti? Aku cari tukang kacang rebusnya dulu...
21. Mario : Nggak usah...
Mario memunguti kembali kacang rebus yang berserakan. Rayani membantu.
Berdua memunguti kacang rebus di tanah.
22. Rayani : Maaf ya... Muka kamu nggak apa-apa kan?
23. Mario : (Menahan sakit) Nggak apa-apa kok...
24. Rayani : kamu juga sih salah...
25. Mario : Loh, aku yang menderita kok malah dibilang salah? Terus salahnya di mana?
26. Rayani : kamu punya makanan dimakan sendiri. harusnya paling nggak tawarin orang kek..
27. Mario : Oh, jadi dari tadi kamu sudah ngiler sama kacang rebusku? Kalau kepingin kenapa nggak minta aja? Dari pada nyumpahin orang yang punya makanan. Sirik tanda tak punya, kalau tak punya dapatkan dengan kerja, jangan menyumpah!
28. Rayani : (kembali ke tas) Maaf, maaf...
29. Mario : Kamu cari apa?
30. Rayani : Aku cari lensa kontakku. Perasaan waktu di rumah aku sudah taruh di tas... tapi malah nggak ada... Nggak bawa kaca mata lagi...
31. Mario : (melepas kaca mata) Pakai punyaku...
32. Rayani : Nggak usah... Terima kasih...
33. Mario : (mengangsurkan kaca mata) Nggak apa-apa... Nih... Coba aja dulu...
Rayani mengambil kaca mata. Memperhatikan lensanya.
34. Rayani : Minus berapa nih?
35. Mario : Minus dua.
36. Rayani : Kok bisa kebetulan cocok ya?
37. Mario : Ya sudah pakai aja.
38. Rayani : Bener nih nggak apa-apa?
39. Mario : Nggak apa-apa... Pakai aja dulu...
40. Rayani : (memakai kaca mata Mario. duduk) Terima kasih. (Membuka lembar skenario)
Mario berdiri, berniat mencari tempat duduk lain.
41. Rayani : Mau kemana?
42. Mario : Cari tempat lain... Baru sebentar duduk aja Aku hampir nggak jadi makan kacang rebus, makanan kesukaanku... mukaku hampir memar... kalau terus duduk di situ mukaku bisa babak belur...
43. Rayani : (tertawa) basi banget kamu... Maaf deh... Duduk di sini aja... Kursinya masih lebar kok... aku nggak bakal ganggu kamu... Setelah ini aku jamin kamu bakalan merasa lebih nyaman duduk di sini ketimbang duduk di kafe... Lagian kamu nggak takut kaca matamu kubawa lari?
44. Mario : Eh jangan! Cuma satu-satunya tuh...
Rayani tertawa.
45. Rayani : Makanya, lebih baik duduk di sini kan?
Menunjuk space kosong di sebelahnya.
46. Mario : Kenapa aku harus duduk di sini? Biar kamu aman? Nggak diganggu orang iseng? Atau cari pembenaran karena sudah membuat kerusuhan?
47. Rayani : Hah? Kepedean kamu. Tapi sedikit ada benarnya juga. Aku tidak mau orang yang kubuat menderita makin menderita karena terusir dari tempatnya. Ayo duduklah...
Rayani menggeser duduk, Mario mengambil tempat. Diam.
48. Mario : Lagi nunggu siapa?
Aryani menoleh, hanya sebentar, lalu kembalikan pandang ke skenario. Diam.
49. Rayani : Nggak nunggu siapa-siapa...
50. Mario : Oh... (Melihat langit) Langitnya cerah, ya? Cuaca bagus...
Rayani melihat langit. Mengangguk. Kembali ke skenario.
51. Mario : Tapi cuaca kadang suka menipu. Tiba-tiba hujan turun... Seperti sore kemarin.
52. Rayani : (matanya masih ke skenario) Oh, ya? Hujannya deras?
Mario mengangguk.
53. Mario : Deras. Tapi hanya sebentar... (Diam.) Kemarin aku berharap muncul pelangi...
54. Rayani : Nggak mungkin... Pelangi muncul habis hujan di siang terik.
55. Mario : Oh, ya?
Diam.
56. Mario : Sudah datang musim hujan... Sebentar lagi musim bunga... Kamu pernah lihat kembang-kembang itu mekar?
57. Rayani : Pernah!
58. Mario : Sering kemari?
59. Rayani : (menggeleng) Hanya hari ini. Aku hanya lihat dari jendela mobil setiap pergi atau pulang dari sekolah. Tadi sepulang sekolah aku melihat taman ini dari atas bus. Kelihatan sepi, tenang... Kebetulan hari ini aku perlu suasana seperti itu... Makanya aku ke sini...
60. Mario : (Tersenyum.) Kamu memilih tempat yang tepat. Sekarang orang lebih milih pergi ke kafe daripada di taman... Padahal lebih sehat di sini...
Rayani mengangguk.
61. Mario : Drama atau film?
62. Rayani : Apa?
63. Mario : Kamu baca skenario kan?
64. Rayani : Hey, kamu banyak mau tahu, ya?
65. Mario : Apa ruginya buat kamu?
66. Rayani : Aku bisa menyangka kamu orang jahat!
67. Mario : Apa penampilanku begitu?
68. Rayani : Nggak sih... nah, sayangnya aku malas fokus sama penampilan ketika pertama kali bertemu seseorang. Copet-copet di bis kota kelihatan rapi-rapi. Klimis malah.... Kayak orang-orang kantoran...
69. Mario : Apa orang yang banyak tanya itu orang jahat?
70. Rayani : Nggak juga sih...
71. Mario : Kalau aku mengajak bicara kamu, bukan berarti aku ingin mencopet kamu kan? Lagian mana ada copet yang mau minjemin kaca matanya?
72. Rayani : (tertawa) Bisa aja kamu... Ini skenario film.
73. Mario : Kamu artis?
74. Rayani : Bukan.
75. Mario : Lalu?
76. Rayani : Apa?
77. Mario : Kalau bukan artis ngapain baca skenario film? Ah! Produser? Sutradara?
78. Rayani : (jengkel) Apa sih?
79. Mario : Boleh tanya kan?
Diam.
80. Rayani : (menyerah) Baik, baik... Besok aku ikut test peran utama. Aku lagi mencoba membedah naskah ini...
81. Mario : Wah! Good luck, ya!
Rayani mengangguk.
82. Mario : Aku mengganggu?
83. Rayani : Kalau kamu terus bertanya.
84. Mario : (tersenyum malu) Maaf!
85. Rayani : Jangan membuatku menyesal berbagi tempat duduk sama kamu. Tadi kan aku sudah bilang aku perlu ketenangan...
86. Mario : Baik, baik... aku diam... aku tidak mengganggu lagi. Sumpah!
Diam.
87. Rayani : Maaf.
88. Mario : Nggak perlu minta maaflah...
89. Rayani : Kamu nggak marah kan?
Mario menggeleng, tersenyum. Diam. (Back sound) Suara kendaraan lewat satu-satu. Bunyi kendaraan berhenti, suara kenek angkot. Hening. Bunyi terompet. Pedagang terompet muncul sesekali menjajakan dagangan. Berhenti tidak jauh dari mereka. Bunyi terompet panjang.
90. Tk. Terompet : Terompet...(toet) Terompet... (toet, toet) Terompet, terompet... (toet, toet, toet...)
Rayani menarik napas dalam, mengeluarkan dengan berat. Merasa terganggu.
91. Tk. Terompet : Terompet...(toet) Terompet... (toet, toet) Terompet, terompet... (toet, toet, toet)
92. Mario : Sebenarnya tadi aku mau bilang, sekarang waktunya kurang tepat.
93. Rayani : Apa?
94. Mario : Ini hari apa?
95. Rayani : (tertawa) Sabtu! Malam minggu. Aku lupa, taman ini bakalan ramai bukan main kan?
Kembali teriakan penjual terompet. Kali ini terdengar lebih keras.
96. Mario : Biar aku bicara....
97. Rayani : Tidak usah! Dipikirin banget...
Mario menghampiri Penjual Terompet. Bicara berbisik di telinga, Penjual Terompet mendengarkan.
98. Tk. Terompet : Tidak bisa dong! Saya kan orang dagang, ya? Masa terus dilarang-larang. Jualan di pinggir jalan dilarang! Di taman dilarang! Saya mau cari makan halal buat anak-istri saya. Nanti kalau saya terus-terusan dihalangi saya cari makan untuk mereka di mana lagi? Jadi maling ayam? Jualan dilarang, membunyikan terompet dilarang. Nah, Kalau saya tidak membunyikan terompet, siapa yang tahu kalau saya jual terompet? Siapa yang tertarik beli dagangan saya? Bicaranya situ sembarangan aja! Mentang-mentang saya kere, saya selalu diusir sana-sini...
Tapi Penjual Terompet akhirnya mengalah juga. Pergi sambil terus menggerutu. Mario menatap Penjual terompet pergi.
99. Tk. Terompet : Dasar nasib! Jadi orang kecil sudah bingung, malah terus dibikin bingung...
Penjual Terompet hilang ditikungan (Keluar).
Mario melambaikan tangan tanda perpisahan pada Rayani.
100. Rayani : Jangan pergi dulu!
101. Mario : Ada apa? Oh. Kamu mau kita kenalan? Perkenalkan, namaku...
Mengulurkan tangan. Rayani tak membalas. Mario menepuk tangan.
102. Mario : (tertawa) Semua pekerjaan punya resiko.
Suara dering hand phone. Mario mengambil hand phone.
103. Mario : Hallo....! Di mana? Sekarang? Oke... Oke... (Kepada Rayani) Aku ada keperluan. Sampai besok. Semoga berhasil!
Mario bergegas pergi. Rayani bingung.
104. Rayani : (berteriak) Kaca mata kamu...
Mario pergi.

TAMAN
(Ligting fade in – suasana senja)
Di bangku yang sama.
105. Rayani : Aku mengadu ke mama... Mama malah suruh aku menangis... Aku tahu Mama menyuruh aku menangis supaya perasaanku bisa lega... Plong... Tapi sumpah... Aku nggak perlu peerhatian macam itu... Aku Cuma mau Mama tahu kalau aku sudah berusaha, kalau aku sudah bekerja sebaik-baiknya... Papa tersenyum mengejekku, dia memang nggak pernah setuju aku ikut kegiatan percuma dan buang-buang waktu seperti ini... Aku gagal, aku memang terus-terusan gagal, tapi aku tidak menyerah. Aku tidak mau mereka melihatku menangis karena itu. Air mata tidak bisa mengobati kegagalan kan? Aku mau buktikan pada mereka bahwa aku serius...
106. Mario : Setuju! Memang itu caranya! Mau? (Menawarkan kacang rebus.)
107. Rayani : Tapi aku nggak tahu caranya... Bagaimana bisa membuktikan... Aku... (Kehabisan kata.) Ah...
Tiba-tiba Rayani gemes sendiri. Marah, menangis. Menutup wajah dengan kedua tapak tangan.
108. Mario : Katanya nggak mau menangis?
Rayani menggeleng.
109. Mario : Eee... Sudah, sudah...
Rayani memberi isyarat dengan tangan agar Mario berhenti bicara.
110. Rayani : Aku nggak tahu, kenapa aku sekarang bisa menangis... tapi aku menangis bukan karena aku bicara kegagagalan tadi...
Rayani mengambil tissu dari hand bag, mengusap air matanya.
111. Mario : Aku paham!
Rayani menarik napas dalam untuk menghentikan tangis.
112. Mario : Sabar, man!
Tidak mampu, tangisnya tambah pecah.
113. Mario : Di usia seperti kita...
114. Rayani : Apa?
115. Mario : Justru malah baik.
116. Rayani : Apa yang baik? Menangis?
117. Mario : (mengangguk ragu, pelan) Menangis kalau harus menangis. Ada yang bilang jumlah air mata saat kita sedih berbanding seimbang dengan air mata saat kita bahagia. Jadi menangis adalah manusiawi dan berguna...
118. Rayani : (menghapus air mata) Tadi kamu bukan mau bicarakan itu kan?
119. Mario : (mengangguk) Ya. Gagal di usia seperti kita justru lebih baik. Jalan masih panjang... Masih sangat panjang...
mengangguk.
120. Rayani : Aku masih belum percaya kalau aku gagal lagi.
121. Mario : Hanya masalah selera. Kalau urusan selera, kita nggak bisa percaya atau nggak percaya.
122. Rayani : Aku seperti badut yang terlepas dan dibiarkan berkeliaran. Keluar masuk studio dengan wajah coreng-moreng. Ah, aku terus berharap...
123. Mario : Jangan taruh harapan di tempat yang tidak nyata.
124. Rayani : Itu hidupku! Aku pikir, aku harus terus...
125. Mario : Yakin waktunya akan datang?
126. Rayani : Yang penting jangan terlalu berserah pada nasib!
127. Mario : Salut buat semangatmu... Berdoa sambil berusaha...
128. Rayani : (Semangat) Ya!
129. Mario : Mau?
130. Aryani : (senang) Kacang rebus!
131. Mario : Dari tadi juga kacang rebus. Kamu bagaimana sih? Ambil! (Rayani mengambil beberapa butir.) Masih banyak kesempatan...
132. Rayani : Aku terus merajut jaring, membentangkan selebar-lebarnya. Masa nggak ada satu pun yang nyangkut?!
133. Mario : Nah, gitu dong! Kalau keinginan dicampur sama semangat dan usaha , semut pun bisa memindahkan gunung.
134. Rayani : (membuang napas) Hah!
135. Mario : (membuang napas) Hah! Maju terus pantang menyerah! Kalau sudah bertemu untungnya kali aja kamu main peran utama di filmnya Garin....
136. Rayani : Rudi Sudjarwo lebih menantang barangkali!
Diam.
137. Mario : Sekolah kamu bagaimana? Sudah banyak mangkir pasti.
138. Rayani : Nggak tahu...
139. Mario : Kok gitu? Bokap-nyokap, tahu?
140. Rayani : Mereka hanya tahu aku kepala batu.
141. Mario : Sekolah adalah rumah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah kendaraan kita untuk bisa survive di mana saja...
142. Rayani : Sekolah tidak dapat membuatku yakin bisa menggantungkan harapan... Ilmu pengetahuan nggak selalu bersarang di sekolah kan?
143. Mario : Terus mau belajar di mana?
144. Rayani : Sekolah banyak ngajarin bagaimana menggunakan pikiran, belajar cara menggunakan hati nurani dikesampingkan.
145. Mario : (tertawa) Kalau mau begitu kamu ikut latihan yoga aja. Hari gini masih bicara hati nurani? Lagian sekolah nggak akan cukup menampung semua material itu.
146. Rayani : Sekolah tidak pernah menampung, tapi membiarkan dia bercecer di luaran.
147. Mario : Semua bidang memerlukan orang yang cerdas. Artis juga perlu punya pikiran intelektual.
148. Rayani : Aku nggak pernah yakin bisa mendapatkan itu di sekolah. Sekolah jadi tempat legitimasi formal pendidikan yang semu. Lulus sekolah kita malah gagap. Nggak tahu mau ngapain.
149. Mario : Apa adanya sajalah. Kerja pikiran dan respon manusia kan terbatas oleh keadaan. Jangan ambisius dong! Ambisi malah akan menjatuhkan kita. Mereka tahu apa yang harus mereka beri dan apa yang harus mereka simpan untuk suatu saat.
150. Rayani : Kita di atas gedung tinggi, diberitahu betapa tingginya langit... Hanya diberi tahu... Mereka tidak mendidik kita bekerja membuat tangga ke langit. Mereka menggembar-gemborkan orang lain yang sudah membuat tangga kecil menuju kesana. Mengajarkan cara memperhatikan dan mengagumi tangga itu. Mereka memberi tahu kaki kita menginjak bumi. Tetapi mereka mengajak kita terbang ke masa lalu melihat kejayaan nenek moyang, setelah itu takut menginjak tanah, warna tanah telah berubah karena waktu.
151. Mario : Sial! Aku nggak paham bahasa kamu! Ngomong yang lain aja!
Rayani membolak-balik lembar-lembar skenario.
152. Rayani : Huh! Padahal tesnya hanya begitu-begitu saja! Adegan senang, marah, lalu menangis. Kuhitung sudah sembilan kali aku ikut casting film. Casting iklan, nyanyi, macam-macam... Nggak ada yang berhasil mulus. Nggak pernah terpilih yang utama. Kalau awal-awal ikut, tidak lulus nggak apa-apa... Lama-lama aku bisa lumutan di studio casting. (Tersenyum pahit.) Selalu jadi figuran. Aku sudah lelah jadi anak bawang terus.
153. Mario : Akan jadi sempurna buat pengalaman hidupmu kalau tiba-tiba keburuntungan itu datang. Kamu jadi nggak kaget!
154. Rayani : Aku kurang apa ya? Kurang cantik? Aku bisa nyanyi, bisa nari... Multi talent. Aku menarik. Aku perempuan yang dipuji perempuan. Hidungku nggak terlalu ke dalam kan? Tinggi sama berat badanku pas kan? Proposional? Apa dari aku yang kelihatan kurang?
155. Mario : (tertawa) Kok jadi hilang harapan begitu?
156. Rayani : Kesel sendiri aku! Apa harus pacaran sama casting produsernya dulu untuk jadi peran utama?
157. Mario : Huss! Jangan bicara sembarang.
158. Rayani : Ada yang bilang beberapa orang memilih jalan tol. Tidur sama orang-orang itu?
159. Mario : Kamu mau cara mereka?
160. Rayani : Aku? Pakai cara itu? Ih, amit-amit!
161. Mario : Mereka sama dengan kamu, pernah merasa kesulitan juga. Kemana-mana kita akan bertemu dua jalan. Ke kanan, atau ke kiri. Keduanya punya resiko. Masalahnya kamu bisa sabar atau tidak?
162. Rayani : Aku sabar!
163. Mario : (menyelidik) Masa?
164. Rayani : (bangun memperhatikan bintang) Bisa! Aku yakin ada saatnya...
165. Mario : Ada saatnya...
166. Rayani : Sudah hampir gelap. Kamu nggak ingin pulang?
167. Mario : Di rumah juga tak ada siapa-siapa. Kok kamu yang tanya? Harusnya aku...
168. Rayani : (menunjuk langit) Lihat bintang itu. Seperti apa cahayanya nanti, kalau senja turun... (Terpekik) Aku suka bintang!
169. Mario : Kalau kamu?
170. Rayani : Apa?
171. Mario : Kok nggak pulang?
172. Rayani : Rumahku membuat aku jadi penganggur... Nggak ada yang bisa dikerjakan... (menunjuk bintang) Bintang itu pasti paling terang... Aku ingin jadi bintang itu! Oh, itu bintang pahlawan! Terus bersinar ketika yang lain redup. (Ke Mario.) Nanti kukenalkan kau pada sahabatku. Namanya Linda. Linda hebat loh. Banyak kenalannya orang-orang film. Dia aktris, juga talentscout. Pencari bakat. Pertemuan kami unik. Sebenarnya setiap kali aku ikut casting kami bertemu. Tapi setelah lama kami tegur-teguran. Linda bilang dari dulu dia tertarik bakatku. Tapi enggan menegurku duluan. Lantaran dia pikir aku sudah punya manajer. Tadi dia begitu antusias mau mengorbitkan aku. Setelah itu kami selalu bersama. Aku dan dia sahabatan.
173. Mario : Aku harus mengenalnya. Kayaknya Linda bakal nyenengin...
174. Rayani : Pulang, yuk!
175. Mario : Aku masih ingin di sini. Sebentar... (Membuka tas.
Mengeluarkan tumpukan buku. Menyodorkan ke Rayani) Buat kamu... Ini buku panduan akting... Aku yakin buku-buku ini akan banyak membantu kamu...
176. Rayani : Oh? Buatku? (Mario mengangguk) Beneran nih buatku? Kamu nggak nyesel? Aku sudah lama cari buku-buku ini. Sumpah, aku cari kemana-mana nggak ada. Wah jadi nggak repot-repot cari lagi dong. Thanks, ya. Semua punya kamu? Dapat darimana?
177. Mario : Teman... Cita-citanya sama dengan kamu... (Tertawa.) Keinginannya banyak...
178. Rayani : Dia sudah nggak perlu lagi sama buku-buku ini? Kenapa? Padahal buku-buku ini bagus loh!
179. Mario : (Sedih.) Dia sudah pergi...
180. Rayani : Kenapa?
181. Mario : Kalau aku cerita sekarang waktunya nggak bakal cukup...
182. Rayani : (Sadar) Oh. Nggak apa-apa. Ceritanya kapan-kapan, ya? Aku minta Maaf!
183. Mario : Aku minta kamu rawat buku itu baik-baik.
184. Rayani : Baiklah. Terima kasih, ya. Aku duluan...
185. Mario : Besok di sini?
186. Rayani : Entah. Aku harus bertemu seseorang. Jujur! Aku mulai senang suasana taman ini.
187. Mario : Apa kubilang!
188. Rayani : Boleh aku tanya?
189. Mario : Boleh.
190. Rayani : Sungguh nih, kamu kemari hanya untuk kacang rebus?
191. Mario : Awalnya iya, setelah itu tidak lagi...
192. Rayani : (mengangguk-angguk, mengerti) Oh! Baik lah! (Pergi.)
193. Mario : Nggak ada pertanyaan lagi?
194. Rayani : (menggeleng) Nggak ada apa-apa lagi dipikiranku...
195. Mario : Masa? Kamu nggak tanya apa itu, setelahnya?
196. Rayani : Itu pertanyaanmu, bukan pertanyaanku...
Mario diam.
197. Rayani : Aku duluan.
Rayani keluar. Mario sendiri.




RUMAH ABAH
(Lighting fade in – Suasana sore) Set tempat Abah dan Nini bisa hanya sebuah balai panjang dan sebuah meja tempat kendi air munum dan perkakas seperti piring dan gelas. Musik seruling atau kecapi dari Sunda.
Bunyi air jatuh di kucuran, dan suara burung bernyanyi ikut mengiringi.
Abah sedang rebahan di tengah balai. Meletakkan kepala di paha Nini yang merajut anyaman bambu.

198. Abah : Aduh, Nini. Saat seperti membuat pikiranku segar dan merasa menjadi muda kembali. Angin sejuk tenang membuai pepohonan. Mereka seolah berbisik menghipnotis sadar. Ah, betapa pandai dalam bekerjasamanya alam, menciptakan harmoni untuk menghantar waktu istirahatku. Nini dengar, burung-burung kecil itu bernyanyi menggodaku? Abah sudah sangat mengantuk, Nini. Tapi tidak ingin tertidur. Abah tak mau kehilangan suasana indah ini bersama Nini. (Nini tersenyum.) Suasana inilah yang semua orang cari. Betapa indahnya dunia jika suasananya damai seperti ini. Nini, Perasaaku bergetar bagai mojang pertama kali kenal cinta (Tertawa.) Bunyi dan suara begitu harmoni di telinga. Mungkin jika aku masih muda, aku akan membuat karangan lagu untuk Nini.
199. Nini : (tertawa) Terima kasih, Abah. Tetapi tanpa sebuah lagu pun untuk Nini, Nini akan tetap mencintai Abah.
200. Abah : Tanpa sebuah lagu pun?
201. Nini : Tanpa sebuah lagu pun.
202. Abah : Oh, ya?
203. Nini : Abah boleh sangsi!
204. Abah : Oh tidak, tidak! Abah tidak pernah sangsi pada Nini. Abah tahu! Abah begitu mengagumi kesetiaan Nini. Nini rela hidup bersama Abah dalam suka dan duka. Nini tidak pernah putus asa ketika hidup menderita. Nini tidak pernah angkuh ketika berpunya. Nini tak pernah mengeluh menemani Abah yang lumpuh...
205. Nini : Sudah. Abah tidur lah, Abah. Nini akan senantiasa di samping Abah.
Abah mengangguk dalam setengah tidurnya. Nini membelai rambut Abah, lalu melanjutkan kerja anyamannya. Sebentar, Abah sudah mendengkur.. Muncul Linda.
206. Linda : Sampurasun!
207. Nini : Silahkan duduk, Nak.
Linda duduk di tepi balai. Di sisi kaki Abah.
208. Nini : Anak ada perlu apa?
209. Linda : Nini masih ingat saya?
210. Nini : Oh, Nini masih ingat...
211. Linda : Nini bisa bangunkan Abah?
212. Nini : (berbisik) Maaf, jangan ganggu Abah. Lihat! Tidurnya nyenyak sekali. Nini tidak tega bangunkan bayi yang sedang lelah ini. Bicaralah pada Nini.
213. Linda : Saya ingin bicara sama Abah.
214. Nini : Kalau begitu Nini minta maaf sekali lagi.
215. Linda : Kenapa Abah tidak Nini bangunkan?
216. Nini : Abah baru beristirahat.
217. Linda : Sebentar saja, Nini.
Nini menggeleng.
218. Linda : Kenapa Nini selalu menghalangi saya? Setiap kali saya datang Abah seolah enggan menemui saya?
219. Nini : Bukan Abah tidak ingin menemuimu. Kamu sudah pernah ke sini. Meminta yang macam-macam pada Abah. Anak meminta Abah merubah wajah Anak. Abah tidak akan melakukan itu... Itu menyalahi kodrat...
220. Linda : Saya tahu sesungguhnya Abah bisa membantu saya. Banyak saya dengar cerita kehebatan Abah. Abah orang sakti kan?
221. Nini : Abah manusia, Nak.
222. Linda : Nini, saya tamu yang tidak diinginkan Abah?
223. Nini : Bukan! Tapi Anak bertujuan ke tempat yang salah.
224. Linda : Jadi menurut Nini, Abah memang tidak mau membantu saya? Kenapa? Berapa saja uang yang kalian minta akan saya turuti. Tolong saya, Nini.
225. Nini : (menggeleng) Abah tidak pernah memilih untuk membantu siapa saja. Membantu sekuat hati, pikiran dan tenaga. Tapi Abah juga manusia. Apa yang dilakukan terbatas kekuatannya. Kami tidak pernah meminta atau menerima balasan jasa dari orang yang kami bantu karena Nini dan Abah memang tidak memerlukan itu semua. Alam ciptaan-Nya sudah memberikan semua tanpa Nini dan Abah minta dari manusia.
226. Linda : Saya akan menunggu sampai Abah bangun.
Nini diam.
227. Linda : Apa salah saya, Nini?
Nini menggeleng.
228. Linda : Tolong saya, Nini! Saya tahu Abah bisa menolong...
Nini menggeleng.
229. Nini : Maaf, Nini tidak bisa membantu anak. Anak tak perlu terus sembunyi. Anak harus mengaku salah. Itulah cara untuk mengembalikan wajah anak...
230. Linda : (emosional) Saya ketakutan, Nini. Saya merasa ada seseorang yang membuntuti saya setiap saat... Jimat yang pernah diberikan Abah tidak dapat menenangkan hati saya... Tolong bangunkan Abah untuk saya, Nini. Tolong...
Nini menggeleng. Linda mengguncang-guncangkan tubuh Abah. Abah tidak memicingkan mata sedikit pun.
231. Nini : Kamu sudah keterlaluan, Nak... Kamu harus pergi... tinggalkan kami...
232. Linda : Kalian ingin aku menderita... Kalian memang ingin aku hancur...
Linda berjalan mundur tertatih keluar panggung. Nini menangis.
233. Abah : Ah, nikmat sekali tidur yang hanya sebentar ini. (Melihat Nini.) Ah, kenapa menangis?
234. Nini : Nini minta maaf, telah mengganggu tidur Abah.
235. Abah : (menghapus air mata di pipi Nini) Tidak, tidak... Abah memang sudah waktunya bangun. Tidur Abah sedikit, tapi berkualitas. Berhentilah menangis. Oh, Abah tadi bermimpi tentang malam yang gelap, Ni. Tapi Abah bahagia. Ada sebuah bintang yang tak pernah redup sinarnya menyinari Abah. Bintang itu tidak begitu terang, namun begitu menyejukkan...
Abah mengambil jemari Nini.




TAMAN
Malam turun hujan. Bunyi angin menggoyang dedaunan. Suasana taman
yang temaram sesekali menjadi terang sesaaat terbias cahaya Kilat yang
menggelegar di angkasa. Mario duduk sendiri di bangku taman.
236. Mario : (membaca selembar surat) Penat? Aku tidak kalah oleh penat... Lelah? Aku tak takluk karena lelah. Lihat! Aku masih tetap di sini! Akan tetap di sini. Jika bara di dada belum tersiram oleh darah, aku tetap seekor srigala. Aku menunggu saat bulan bulat penuh, dan bintang berpaling muka karena redup sinarnya... Aku menunggu saat itu, hingga bara yang kau sulut di dadaku dapat kuberikan untuknya... Isi surat terakhir sebelum kematianmu penuh dendam... Penuh dendam... Bau darah, bau kematian orang lain yang membuat hidupmu pendek... Parwita... Aku bukan pengecut! Akan kubuktikan cinta yang kau sangsikan. Aku tahu kau sedang memandang marah kepadaku... Karena ketika kau membutuhkan aku, aku tak ada di sampingmu... Untuk apa mengakhiri hidup sekonyol itu? Aku masih mencintaimu Parwita... Aku masih... (Menangis.)



TANAH LAPANG
(Lighting fade in – suasana malam)
Beberapa pemuda sedang berlatih drama. Atok sang pelatih tampak serius memperhatikan teman-temannya berlatih olah tubuh. Linda menarik lengan Rayani setengah berlari ke arah Atok.
237. Linda : Mas atok, Mas Atok.. tolong saya dong!
Latihan olah tubuh buyar. Peserta latihan bangun menghampiri Linda. Suasana langsung ramai.
238. Atok : Ada apa?
239. Item : Iya. Ada apa? Anak-anak kampung sebelah mengamuk lagi?
240. Linda : (Tersipu sendiri.) Tidak ada apa-apa, kok. (Kepada Atok.) Ada perlu sama Kak Atok...
241. Item : Sialan! Gua kira ada yang mau ngajak ribut!
242. Pemuda 1 : Si Item basi banget!
243. Pemuda 2 : Iya. Padahal waktu ribut-ribut kemarin kakinya gemetaran.
244. Pemudi 1 : Aku lihat waktu yang lain berantem, dia lari paling dulu!
245. Atok : Wah, kalau begitu kalian lanjutkan latihan aja lagi! Biar mereka kuurus.
246. Linda : Ah, Kak Atok bisa aja. Memangnya kita anak ayam? Kok diurus?
247. Pemuda 3 : Latihan lagi, yuk!
Peserta latihan pergi sambil menggerutu.
248. Atok : Sorry! Ada perlu apa?
249. Item : Ngomong-ngomong kenalin dulu dong temannya.
250. Linda : Oh, iya lupa. Rayani! Halah, kenalan sendiri aja deh biar lebih enakan.
251. Rayani : (memperkenalkan diri) Rayani.
252. Item : Marjuki. Biasa dipanggil Item.
253. Rayani : (kepada Atok) Rayani.
254. Atok : Atok.
Item melirik genit ke Rayani.
255. Linda : (Menyodorkan naskah.) Kak Atok kenal penulis naskah ini? (Atok membaca halaman depan skenario.)
256. Atok : Arswendo Atmowiloto. Tahu sih. Memang kenapa?
257. Linda : Dia yang tulis naskah sinetron Angling Darma, ya?
258. Atok : (tertawa) Bukan. Dia penulis naskah-naskah realis. Tulisan-tulisannya dekat dengan kehidupan masyarakat kita. Tahu sinetron Keluarga Cemara?
259. Linda : Oh, tahu! Pantas sinetronnya laku... Dia yang tulis skenarionya?
260. Atok : (mengangguk) Terus?
261. Linda : Apa?
262. Atok : Terus apa hubungannya dengan saya?
263. Linda : (tersipu) Oh, jadi mau malu ngomongnya....
264. Item : Ngomong aja, Lin. Kalian punya masalah? Kami siap bantu kok.
265. Linda : Iya deh saya mengaku. (Menyodorkan naskah.) Sebenarnya saya diminta mempelajari naskah ini. Rencananya sebentar lagi naskah ini diproduksi. Sutradaranya bilang saya paling cocok jadi peran utamanya. Katanya saya mirip Yati Oktavia waktu masih muda loh. Apa coba? Nggak nyambung bangetkan? Kalau alasan lain saya tidak tahu kenapa. Buat apa tanya-tanya ke orang yang punya niat baik sama kita. Iya, kan? Ngomong-ngomong Kak Atok pernan nonton film Yang Muda Yang Bercerita?
266. Atok : Yang Muda yang bercinta, maksudmu?
267. Linda : Oh, judul aslinya Yang Muda Yang Bercinta, ya? Film itu garapan sutradara... siapa itu? Aduh, kok bisa lupa namanya. Padahal tadi sudah saya catat di tissu loh. Di mana saya taruh, ya. (Merogoh tas. Tiba-tiba tertawa.) Ketinggalan di tas satunya. Dasar pikun!
268. Atok : Syumanjaya.
269. Linda : Ah, iya. Syumanjaya. Kata sutradara saya itu film bagus, ya? Soalnya banyak sair-sair bermutu di cerita itu. Itu film puisi kan? Saya mau cari vcdnya ah. Jadi penasaran. (Pause.) Tidak tahu kenapa, kok saya dibilang mirip Yati Oktavia. padahal wajah kami tidak ada miripnya sama sekali kan? Mungkin dari body kali, ya? Dia bintang lawas banget kan? Linda sih dibilang begitu masabodoh saja, yang penting dikasih kesempatan untuk jadi bintang filmnya. (Meletakkan telunjuk di bibir.) Ssstt.. Kak Atok sama Item jangan bilang-bilang ke orang lain dulu ya, kalau saya dapat peran utama ini. Saya mau kasih surprise ke orang-orang kampung! Biar mereka tahu sendiri kalau saya bintangnya. Eee... Kak Atok, kapan ada waktu ajarin saya akting?
270. Atok : Oh, kalau mau belajar, langsung gabung latihan sama kami.
271. Linda : Hah? Latihan kayak begitu? Nggak mau, ah. Itu kan latihan akting teater. Saya diajar akting film dong.
272. Atok : Latihan akting memang seperti itu, Linda.
273. Linda : Joged-joged kayak orang gatel begitu?
274. Item : Itu bukan joged-joged, tapi latihan olah tubuh. Gunanya supaya tubuh kita fleksibel dan tidak kaku.
275. Linda : Ah, saya tidak mau latihan begitu. Capek-capekin aja. Saya mau latihan cara mengeluarkan air mata yang banyak. Akting begituan loh yang paling sulit. Makanya, aktris-aktris yang dapat piala citra, piala vidia atau oscar biasanya meranin tokoh yang berlinangan air mata kan?
Beberapa peserta latihan bubar untuk istirahat.
276. Item : (menghampiri) Latihan pemanasannya sudah selesai, Tok! Break! Break! Habis istirahat kita masuk adegan.
277. Atok : Oke. (Kepada Rayani.) Maaf ya, ngobrolnya kita lanjutkan nanti. Saya mau pemanasan sendiri dulu.
278. Linda : Kak Atok mau latihan, ya? Terus kapan waktu buat saya?
279. Item : Tenang Lin. Item masih stand bye untuk membantu kamu. Kalau ngajarin akting saja, buat Item hal kecil.
280. Item : (berbisik kepada Atok) Kita kan kekurangan pemain. Bagaimana kalau kita ajak Rayani main?
281. Atok : Rayani?
282. Item : Cewek teman Linda itu! Lihat karakter wajahnya, Tok! Pas sekali kan dengan yang kita ingin untuk naskah ini.
283. Atok : Aku pikir-pikir dulu...
284. Item : (kepada Rayani) Kamu mau ikut proses?
285. Aryani : (terkejut) Saya?
286. Linda : Bang Item mau ajak Rayani main teater?
287. Item : (kepada Rayani) Mau tidak?
288. Linda : Main naskah apa dulu dong? Terus perannya apa?
289. Item : Antigone!
290. Linda : Antigone? Wah, nama yang bagus sekali! Itu nama apa? Kayaknya nama kota di Perancis , ya?
291. Item : Bukan! Ini nama tokoh dari cerita trilogi Sophocles. Oedhipus Sang Raja, Oedhipus Di Kolonus, dan Antigone. Antigone adalah nama tokoh utama perempuan di naskah ini. Ini cerita tragedi Yunani.
292. Linda : Oh, cerita tragedi? Ceritanya bisa bikin penonton menangis kan? Tadi saya sudah bilang Kak Atok, kalau saya suka sekali memainkan peran yang beruraian air mata. Apalagi jadi peran utamanya. Sayang saya tidak ada waktu!
293. Item : Bukan kamu, tapi Rayani! (Kepada Rayani lagi.) Ayolah! Mau kan?
294. Linda : Ih, Item maksa-maksa!
295. Aryani : Saya...
296. Linda : Sangat mau! (Kepada Rayani) Biar aku yang putuskan!
Rayani terkejut.
297. Item : Kamu mau menerima tantangan ini?
298. Linda : Kan saya sudah bilang mau. Apa perlu saya ulang? Mau, mau, mau! Sekarang sudah yakin? Eh, tapi di cerita Antigone ini tidak ada adegan pornonya kan?
299. Item : Tidak ada kok, tidak ada... Sumpah! (Menyodorkan naskah.) Baca saja dulu naskahnya!
300. Rayani : (menarik lengan Linda) Sebentar, Lin...
301. Atok : (menarik lengan Item) Item! Kita harus bicara dulu sama anak-anak!
302. Item : Tenang, Tok! Anak-anak biar aku urus. Lagipula yang ikut latihan sudah sering mengeluh, kapan tokoh Antigone muncul dalam latihan. Masa mereka latihan koor terus. Nanti kalau kebanyakan koor mereka seperti para wakil rakyat kita di senayan sana. Bingung! Terus-terusan koor. Mendengar koor mereka terus bikin kepala pusing!
303. Atok : Maksudku bukan itu. Anak-anak...
304. Item : Oh, aku paham. Aku paham. (Kepada peserta latihan.) Perhatian! Perhatian! Grup sudah mendapat orang yang cocok untuk Antigone! (Seperti MC di pagelaran tinju) Perkenalkan, Aryani!
Peserta latihan bingung.
305. Aryani : Tapi.
306. Linda : Iya saja. Waktumu aku yang atur. (Kepada Atok) Aryani setuju, kok!
307. Atok : Ya sudah...
Atok pergi, memberi isyarat pada peserta latihan membuat lingkaran.
308. Linda : Tapi dia tidak bisa ikut latihan hari ini.
309. Item : Tidak apa-apa. Besok aku ke kostmu untuk kasih jadwal latihannya.
310. Linda : Oh, terima kasih Bang Item. Kalau begitu saya pergi dulu, ya. Sudah ditunggu untuk latihan di studio. Sampai ketemu lagi Bang Item. Bye, Kak Atok! Bye semua!
Atok mengangguk.
311. Item : Bye...
312. Linda : Bye.
313. Item : Bye...
314. Linda : Bye.
315. Item : Bye.
Item senyum-senyum genit. Linda dan Rayani hilang di tikungan.
316. Atok : (memanggil) Item!
Item berlari menghampiri.
317. Item : Ada apa, Tok?
318. Pemuda 1 : Bergaya luh, Tem.
139. Item : Bergaya apanya?
340. Pemuda 2 : Ngasih peran ke orang lain kok tidak bicara dulu sama kita-kita?
341. Atok : Tanggung jawab, Tem!
342. Item : Tenang, tenang, cool man! Aku paham kegelisahan kalian. Kalian pernah bilang untuk cari partner main kan? Kalian perlu Antigone cepat-cepat dimunculkan...
343. Pemuda 3 : Tapi bukan begitu caranya.
344. Pemudi 1 : Aku nggak setuju dia jadi Antigone!
345. Pemuda 1 : Aku juga.
346. Item : Kenapa?
347. Pemuda 2 : Nggak setuju aja!
348. Item : Gua nggak mau dengar gerutuan nggak jelas. Ke laut aja luh! Kalau mau ngomong, ngomong yang jelas, gua dengerin. Jangan ngomongnya kayak orang mau berak!
349. Perempuan 1 : Kok aku nggak pernah dikasting jadi Antigone? Tiba-tiba orang yang nggak jelas dari mana datangnya ditawarin!
359. Perempuan 2 : Aku boleh mencalonkan diri jadi Antigone?
360. Item : Jangan Noni, kamu sudah cocok jadi Ismene.
361. Pemuda 4 : Nggak perdulilah siapa yang jadi Antigone, tapi cara kamu salah, Tem.
362. Item : Cara bagaimana yang benar?
363. Pemuda 4 : Harusnya dia dikasting dulu, biar kita tahu kemampuan beraktingnya. Kalau nanti ternyata baca dialog bisanya aa... ii... uu... bagaimana?
364. Item : Alah, soal itu mudah...
365. Pemuda 3 : Mudah, mudah, kepalamu! Kita sudah latihan berbulan-bulan. Tunggang-tunggingan. Sedang mereka lihat latihan olah tubuh saja kelihatan jijik begitu. Apa bisa diandalkan?
366. Koor : Betul, Betul!
367. Pemuda 3 : Pokoknya aku tidak setuju kalau dia jadi Antigone.
368. Item : Nah, Tok, bagaimana nih?
369. Atok : Aku pikir-pikir dulu.
370. Item : Alah, kamu Tok, apa-apa pikir-pikir terus. Nanti jadi sufi, kamu. Susah pikiran! Setidak-tidaknya kamu hargai aku dong yang sudah tenar masih mau capek-capek mengurus grup sandiwara kamu. Kambing juga kamu, Tok!
371. Atok : Baik, baik. Aku setuju pendapat teman-teman, Tem. Kita harus test kemampuannya dulu untuk menjadi Antigone.
372. Item : Terserah kalianlah. Malah maunya aku malah taruh pemain bintang dipertunjukan kita. Biar pertunjukan bisa dijual. Kita bisa jual tiket masuk. Ini perlu pertunjukan dibisnisin, dibisnisin, man. Biar ada uang masuk buat grup. Masa capek-capek latihan kalian tidak dapat apa-apa. Paling nggak dapat uang lelah dong biar sedikit. Atau pengganti uang transport. Masa padamu negeri terus...
373. Atok : (Bangun.) Terima kasih, Tem! Latihan, yuk! Kita mulai dari ode pertama, strophe 1, adegan khorus masuk. Semua pemain siap pada posisinya masing-masing. Khorus siap?
Koor membentuk komposisi.
374. Koor : Siiip!
375. Atok : Konsentrasi, ya. Eby, musik siap?
376. Eby : Siap, Tok. Ayo mainkan musiknya.
Musik on. Semua khorus bernyanyi. Menari.

TAMAN
(lighting fade in – Suasana malam)
Bulan di pucuk daun.
Rayani dan Linda masuk. Berdebat.
377. Rayani : Kan bisa dipikir-pikir dulu, Lin. Tapi kamu langsung mengiyakan. Perlu waktu banyak untuk ikut kegiatan itu!
378. Linda : Itulah maksudku, Ra. Kamu bisa sekaligus mengasah kemampuan kamu di sana. Semua memang sudah dalam rencanaku. Aku ingin kau ikut latihan bersama mereka. Emas harus dipoles oleh tukang emas.
379. Rayani : Tapi aku tidak bisa bagi...
380. Linda : Santai, Ra. Kamu tak perlu ikut naik panggung, hanya ikut latihan. Aku akan terus memperhatikan kemajuan kamu. Jika sudah saatnya kamu berhenti, kamu berhenti! Kamu perlu alasan ke mereka? Tenang! Biar aku urus.
381. Rayani : Kamu mau bikin aku gila, Lin?
Suara dering HP Linda. Linda membuka tas, mengambil HP.
382. Linda : (pada Rayani) Sebentar... Hallo? ...
Linda berjalan menjauh. Bicara dengan orang di seberang. Rayani duduk di samping tas Linda yang terbuka. Ekor matanya melirik ke dalam tas. Wajahnya terkejut. Rayani menengok ke Linda yang sedang membelakanginya. Tangan Rayani merogoh tas Linda. Mengeluarkan sebuah senjata api. Rayani cepat-cepat memasukkan senjata itu ke tas Linda. Menutup tas. Muncul mario.
383. Mario : Hey, kalian! Apa kabar? (Pada Rayani.) Aku pikir kamu sudah melupakan taman ini... Masih berburu suasana tenang? Masih suka lihat bintang? (Melihat Linda) Oh? Kamu pasti Linda! (Menjabat tangan Linda.) Perkenalkan, namaku Mario. Apa kabar? Sebentar, sebentar... Apa kita pernah bertemu? (Linda menggeleng.) Oh, bukan. Barangkali orang yang lain. (Kepada Rayani) Kapan kita ngobrol-ngobrol lagi? Sekarang malam purnama. Bulan terlihat lebih lebar senyumnya dari sini. (berbisik.) Benarkan itu Linda? (Rayani mengangguk.) Dia cantik...
384. Rayani : Aku sedang tidak enak untuk bercanda...
385. Mario : Oh?
386. Linda : Aku harus pergi.
387. Mario : Mau kemana? Linda, kau tega melewati purnama? Bahkan Raja Kaligula rela keluar istana hanya untuk mencari bulan.
388. Linda : (Sinis) Aku kenal kamu? (Pada Rayani) Aku harus pergi.
Rayani mengangguk. Linda pergi.

STUDIO CASTING
(Fade in – suasana pagi)
Seseorang sedang mengepel lantai.
389. (OS)Rayani : (marah) Rio! Apa-apan sih kamu?
390. (OS) Mario : Permintaannya di luar batas, tau nggak?
Tukang Pel mencuri dengar, setelah itu kerja lagi.
391. (OS) Linda : Hei, lepasin! Bangsat ini ngacau terus kerjanya!
392. (OS) Sutradara : Tenang semua! Tenang! Ada berapa orang sutradara di sini? Ayo jawab! Gua barusan tanya. Kok pada diam? Kuda Nil kalian semua! Siapa saja yang merasa gerah berada di dalam ruang ini lebih baik keluar! Dari pada mengganggu terus! Kepala gua pusing nih. Pusing! Gua minta minuman, Ton!
393. (OS) Anton : Iya, Bang!
Anton muncul dari balik pintu. Menggerutu.
394. Anton : Anjing! Belum ambil gambar aja repotnya sudah begini! Jepri, tolong bikinin teh pahit untuk Abang, ya!
395. Tukang Pel : Oh ya, Ton!
Tukang Pel meninggalkan alat pelnya.
396. (OS) Anton : Linda, amanin temannya Yani dong!
397. (OS)Linda : Iya, iya... Hey ikut saya kamu!
Pintu terbuka. Muncul Linda menuntun lengan Mario keluar ruangan. Hampir menabrak Tukang Pel.
398. Mario : Ada apa nih?
399. Linda : Kamu bagaimana sih? Kok bikin rusuh? Kok ikut-ikut jawab pertanyaan sutradaranya segala? Sudah untung loh kamu boleh ikut ke dalam ruang kasting. Itu pun aku harus bujuk-bujuk assisten sutradaranya, tahu? Kamu tidak tahu kan?
400. Mario : Mana saya tahu!
401. Linda : Saya pikir ada kamu di sampingnya bisa bantu mendorong sutradaranya senang dengan Yani. Eh ini tidak, kamu malah bikin ricuh. Sebenarnya kamu tadi lihat kan, saya sudah beri isyarat supaya kamu diam? Disuruh diam malah tambah ngaco! Tahu diri dong, kamu itu siapa? Kita butuh mereka untuk Rayani. Sudah jelas tadi sutradaranya tertarik. Terus jadi ill feel gara-gara ulah kamu.
402. Mario : Dari mana kamu tahu dia suka Aryani?
Pintu terbuka. Muncul kepala Anton.
403. Anton : Ssst!
404. Linda : (berbisik) Saya tahu kok pandangan orang suka. Saya lihat matanya bersinar waktu lihat Yani.
405. Mario : (berbisik.) Pandangan matanya sama ketika dia melihat perempuan-perempuan cantik! Laki-laki mata keranjang!
Tukang Pel membawa teh, masuk ke dalam.
406. Linda : (berbisik) Sok tahu, kamu! Tadinya saya yakin dia akan mengambil Yani sebagai tokoh utama dalam filmnya. Tapi gara-gara kamu semuanya bisa berantakan. Kamu pikir di dalam tadi sidang kelas? Pakai ada interupsi segala! (Sedikit keras) Mau apa pakai sok melarang Rayani buka kancing baju? Apa sih ruginya disuruh begitu? (Keras.) Rayani hanya ditest, dia itu sungguh-sungguh mau jadi pemain atau tidak!
407. Mario : (keras) Halah! Tes apa? Ngetes kok pakai cara cabul begitu?
408. Linda : (keras) Kamu ini bodoh apa bego sih? Test kesungguhan tentunya! Jelas-jelas dia minta di depan kamu, berarti sutradaranya kan tidak sungguh-sungguh!.
409. Mario : Aku tidak mau ada orang berniat macam-macam sama Rayani.
410. Linda : Berniat macam-macam apa? Bukan kamu saja yang di sana, banyak kru lainnya. Tentu dia akan berpikir seribu kali meminta Rayani sungguh-sungguh membuka kancing baju di depan kita.
411. Mario : (keras) Aku tidak mau Rayani dilecehkan.
Tukang pel keluar dari ruang.
412. Tukang Pel : Ssst!
Linda dan Mario diam. Seseorang melanjutkan pekerjaannya.
413. Linda : (berbisik) Dilecehkan? Dilecehkan apanya?
414. Mario : (keras) Apa untuk tahu seberapa besar bakatnya, Rayani harus buka kancing baju? Kalau pun dia tidak sungguh-sungguh, tetap saja itu pelecehan.
415. Linda : Alah, bicara macam aktivis HAM lagi. Sok. Sekarang saya tahu siapa kamu! Saya tahu kamu sebenarnya tidak ingin Yani jadi bintang. Iya kan?
416. Mario : Aku mendukung dia jadi apa saja yang dia inginkan.
417. Linda : Taik kucing! Jangan menipu kamu!
418. Mario : Kok dikatakan menipu?
419. Linda : Kenapa tadi kamu terus menghalang-halangi Yani?
420. Mario : Kamu sudah tahu alasannya.
421. Linda : Bukan karena alasan lain?
Diam.
422. Mario : Alasan apa?
423. Linda : Kamu cemburu kan? Dia sutradara dan lebih tampan dari kamu!
424. Mario : Eh, mulut kamu lebih berbisa dari mulut ular, tahu nggak?
Linda diam. Mario menuju pintu studio.
425. Linda : Mau kemana kamu?
426. Mario : Mengajak Yani pergi dari neraka ini!
427. Tukang Pel : Ssst!
428. Mario : Persetan denganmu!
429. Linda : Kalau berani masuk, saya teriak!
430. Mario : Teriak aja sesuka kamu!
Mario memegang handle pintu. Linda membuka sebelah sepatu, melemparkan ke wajah Mario.
431. Linda : Kamu pikir saya main-main?
Membuka satu sepatunya lagi. Mario tidak dapat menahan emosi, merangsek ke arah Linda. Mario mencengkram leher Linda, menyudutkan Linda di dinding.
432. Linda : (ke tukang pel) Hey, Tolong saya dong!
Tukang pel ragu-ragu.
433.Linda : (tercekik) Cepat tolong...
434. Tukang pel : Maaf, Mbak.. Saya hanya tukang pel... saya nggak mau ikut-ikutan... Kalau ikut-ikutan saya takut saya sendiri yang susah... Kasihan keluarga saya...
Pergi ketakutan meninggalkan pekerjaannya.
435. Linda : (hampir hilang napas) Tolong,...
436. Mario : Ini untuk semua yang pernah kamu lakukan pada Parwita...
437. Linda : (takut) Parwita?
438. Mario : Kamu membunuhnya...
439. Linda : Aku tak kenal Parwita.
440. Mario : (marah) Bangsat! Kamu mau mengingkarinya?
441. Linda : Aku tak kenal Parwita....
Kepala Sutradara, Anton di balik pintu setengah terbuka.
442. Anton : (menjerit) Ada apa dengan kalian? Hey, lepaskan tanganmu!
Mario menggeleng.
443. Mario : Tidak! Dia telah mebuat hidupku berantakan...
444. Sutradara : (tertawa) Gua senang akting luh!
Tepuk tangan.
445. Anton : Itu sungguhan Mas, bukan akting!
446. Sutradara : (tak percaya) Ah, masa sungguhan?
447. Anton : (menjerit) Hei, lepaskan dia!
448. Sutradara : (panik) Wah benar, sungguhan, Ton... Cepat panggil keamanan, Ton! Panggil keamanan!
449. Anton : Iya, Bang...
Anton keluar.
450. Linda : Lepaskan...
451. Sutradara : (Marah) Lepaskan tanganmu! Dia sekarat...
452. Mario : Tidak! Aku lebih sekarat... Aku lebih sekarat...
Bunyi peluit. Anton dan dua orang satpam masuk. Dua orang Satpam itu mencoba melerai. Menarik Mario. Mario berontak mendorong Satpam 1. Satpam 1 terjatuh. Satpam 2 mengambil ember, melemparkan air ke Mario. Sayangnya Satpam 1 sudah lebih dulu berhasil mendorong Mario ke sudut. Tubuh Linda basah kuyup. Linda menjerit-jerit kesal. Satpam 1 menyergap Mario. Satpam 2 membantu. Kedua Satpam berhasil Membekuk Mario.
453. Mario : Lepaskan, Pak! Saya tidak bersalah!
454. Satpam 1 : Halah! Sudah jelas-jelas kamu bikin onar kok pakai bilang tidak bersalah! Beraninya lawan perempuan kamu. Ayo coba lawan saya sini! (Mengeluarkan jurus-jurus pencak silat.) Ayo maju! (Tertawa.) Tuh kan, ternyata pengecut dia. Bawa dia ke pos!
455. Satpam 2 : Siap, Pak!
Kedua Satpam membawa mario pergi. Linda lunglai, jatuh duduk bersandar
tembok. Menangis sesunggukan. Anton mendekati.
456. Anton : (ke Sutradara) Ada yang punya tissu?
457. Sutradara : (ke dalam ruang) Ada yang punya tissu?
Sepi.
458. Sutradara : Pakai handukku aja nih Ton.
Melemparkan handuk kecil yang menggantung di bahunya
459. Anton : (Mengulurkan handuk) Kamu aman sekarang...
460. Linda : (mengambil handuk dengan terpaksa) Aku ingin sendiri...
461. Anton : Kamu tidak apa-apa, kan?
462. Linda : (menjerit) Aku tidak apa-apa... Aku hanya ingin sendiri!
463. Anton : Baik, baik!
Anton masuk ke dalam studio. Sutradara menutup pintu dengan wajah
bertanya-tanya.

SEBUAH RUANG
464. Pria Cangklong : Kapan kau bisa bawa perempuan-perempuan itu? Kau tahu sifat klien-klien kita terhadap orang yang keleleran dan lambat? Mereka sangat cepat seperti bayangan. Sekali kita lengah kawat tali tiba-tiba melilit di leher. Jangan sampai mereka punya anggapan aku tukang tipu.
465. Lelaki : Secepatnya, Boss. Saya janji!
466. Pria Cangklong : Secepatnya-secepatnya, kapan? Aku tidak mau tahu... Besok harus sudah ada beberapa yang kau bawa kemari!
467. Lelaki : (nada ketakutan) Baik, Boss.






TAMAN
Rayani duduk dengan wajah kusut. Mario memandang kosong ke depan.
468. Rayani : Aku selalu merasa bukan diriku yang berada di situ. Aku berusaha meyakinkan diri dan berkata pada diriku bahwa ini aku, ini aku... tapi aku nggak mampu... Aku selalu takut kalau aku salah... kuatir mereka tidak memandangku, bicara dengan teman di sampingnya, karena aku tidak mengesankan apa-apa kepada mereka...
469. Mario : Kamu sudah lakukan sepenuhnya tadi.
470. Rayani : Aku memang ambisius...
471. Mario : Berhenti menyesali diri, Ra. Aku jadi ikut merasa bodoh...
472. Rayani : Dan aku memang seperti katamu, Rio. Membuatmu bodoh dengan keinginanku, semua obsesi-obsesiku. Begitu kan?
473. Mario : Tidak!
474. Rayani : Aku tidak mau tahu lagi!
475. Mario : Kamu tidak mengerti, Ra.
476. Rayani : Kamu menuntut pengertianku? Baik! Kamu ingin aku mengerti apa maumu? Berhenti mengejar mimpi ini kan?
477. Mario : Bukan, bukan itu.
478. Rayani : Di mana kamu, Rio? Kamu tahu betapa tertekannya aku di dalam studio. Aku perlu seseorang untuk menghilangkan perasaan itu.
479. Mario : Ini aku... ini aku...
Merangkul Rayani.
480. Rayani : Kau tidak ada di situ! Kau tidak ada!
481. Mario : Maaf, Ra. Maaf!
482. Rayani : Kamu benar, Rio... aku menaruh harapan di tempat yang tidak nyata...
483. Mario : Suatu saat harapan itu di tempat nyata...
484. Rayani : Dan lagi-lagi mereka tidak memilihku jadi bintang...
485. Mario : Tak perlu persetujuan mereka, kau telah jadi bintang buatku, Ra...
Rayani sesunggukan di bahu Mario. Saling merangkul. Diam. Terlena kehangatan membaca bahasa hati masing-masing.
Mereka duduk di bangku.
486. Mario : Mulai saat ini dan seterusnya aku akan menjagamu. Aku janji!
Rayani menunduk.
487. Mario : Aku ingin kau tahu satu hal... Tapi aku yakin kau tak mungkin percaya...
488. Rayani : Apakah itu penting kuketahui? Kalau memang...
489. Mario : Hal ini sangat penting kamu ketahui, Ra! Kau harus percaya dan menerima ucapanku.
490. Rayani : Percayalah...
Linda datang ke arah mereka.
491. Mario : Menjauhlah dari Linda!
Rayani terpana tak percaya.
492. Mario : Menjauhlah dari Linda. Kau dengar?
493. Rayani : Kenapa?
494. Mario : Dia berbahaya!
495. Rayani : Maksudmu?
496. Linda : Jangan dengarkan!
497. Mario : Sungguh, Ra. Dia ingin menjebakmu.
498. Linda : Kamu bicara apa?
499. Rayani : Kau tak berhak mengatur aku!
500. Mario : Dia ingin menjualmu!
501. Linda : Jaga bicaramu, bangsat! Menjauh dari dia, Ra. Dia jadi sakit karena cemburu!
502. Rayani : Kenapa kamu pakai cara ini? Aku bukan anak kecil, Rio! Aku benci kamu...
503. Mario : Ia anggota komplotan penjual gadis-gadis ke luar negeri.
504. Rayani : (marah) Apa-apan kamu?
505. Mario : Aku sudah tahu sepak terjang komplotan mereka... Sudah lama aku ingin mengingatkan kamu...
506. Rayani : Linda sahabatku, Rio... Dia tetap sahabatku...
507. Linda : (ke Mario) Bangsat kamu!
Rayani menutup kedua telinga dengan tangannya.
507. Mario : Dengar aku, Ra. Beberapa perempuan termasuk Parwita sudah menjadi korbannya...
508. Rayani : Aku tak mau mendengar omonganmu... Aku tak mau mendengar omongmu...
Mario tersedu, Linda beku, menatap marah pada Mario. Linda merogoh tas.
509. Rayani : (menahan Lengan Linda) Cepat kita pergi dari sini! Aku tak ingin melihat dia lagi... Kumohon Linda... Aku ingin kita cepat-cepat pergi dari sini...
510. Mario : Aku tak punya maksud apa-apa padamu, Ra... Aku hanya ingin kau mendengar kata-kataku... Aku tak ingin kau seperti Parwita...
Mario jatuh berlutut.
511. Mario : Maafkan aku Parwita... Ternyata aku hanya seekor rubah pengecut yang tidak dapat berbuat apa-apa... Aku sudah menemukan buruan kita, Parwita. Tapi ternyata aku tak mampu melakukan apa yang selama ini kupendam... Aku tidak dapat membalaskan sakit hatimu... Maafkan aku, Parwita... Maafkan aku... Kesusahan dan penderitaan yang kupendam setelah kematianmu pupus karena perasaan cinta... Salahkan aku Parwita...



SEBUAH RUANG
512. Pria Cangklong : Katamu dia bisa kau bawa? Kau bicara begitu meyakinkan saat itu. Seperti tukang obat murahan di pasar yang becek dan bau...
513. Perempuan : Dia sudah di bawah pengaruh saya, Boss... Saya sudah hampir mendapatkan dia Boss... Kalau saja...
514. Pria Cangklong : (menggebrak meja) Kalau saja apa? Kalau saja gerak-gerikmu tidak tercium oleh seseorang? Dan kau jadi kucing ompong yang dipermainkan kecoa?
515. Perempuan : Bukan Boss, bukan itu... Tidak ada seorang pun tahu pekerjaan saya... Buktinya saya masih bisa membawa beberapa ke Boss... Ah, untuk gadis yang satu ini... Saya janji, Boss... Sebentar lagi.... Sebentar lagi... Boss jangan kuatir... Lagipula saya sudah ganti dengan yang lebih cantik dari dia kan?
516. Pria Cangklong : (mengangguk) Oh, ya? Kamu sudah gantikan dia? Dengan siapa? Perempuan mana?
517. Perempuan : Dengan yang lebih cantik dan lebih hot tentunya...
518. Pria Cangklong : (napas tersenggal) Oh, ya? Kenapa tidak kamu saja... Kamu juga cantik... (tiba-tiba marah) Aku tidak suka dipermainkan! Aku mau anak itu! Mereka menginginkan anak itu dan aku sudah berjanji untuk mengirimkan kepada mereka!
519. Perempuan : (menggeleng takut) Saya tidak akan main-main, untuk yang satu itu saya tetap berjanji membawanya!
520. Pria Cangklong : (tenang) Kapan?
521. Perempuan : Besok, Boss! Sumpah demi bintang yang bersinar di langit! Tapi saya minta uang saya dahulu. Saya perlu uang untuk membujuk dia...
522. Pria Cangklong : Kau perlu uang? Selama ini kerjamu bagus, tapi belakangan aku sering merasa dikecewakan. Sumpah demi bintang yang bersinar di langit... Aku takut kehilangan kau, sayang... Sebab kau pekerja terbaikku... (Memanggil) Sabron!
523. Sabron : Siap, Boss.
524. Pria Cangklong : Berikan dia imbalan hasil kerjanya. Mungkin dia ingin make up untuk menghilangkan kerut takut di muka, atau cepat-cepat ke sauna untuk menguras keringat yang beracun di badannya. (Ke Perempuan) Bukan begitu?
525. Perempuan : Beberapa ratus ribu sisanya untuk itu juga, ke salon...
526. Pria cangklong : (tertawa) Oh, ya?
527. Perempuan : Ah, si boss kayak nggak tahu aja... Perempuan mana yang tidak suka ke salon? Boss ingin melihat mereka cantik kan?
Pria cangklong tertawa. Perempuan tertawa.
528. Pria Cangklong : (setengah gelak) Anjing! Kau dengar apa katanya Sabron?
Sabron mengeluarkan tas uang. Membuka di depan perempuan. Perempuan menghitung uangnya. Sabron kembali ke belakang perempuan. Perempuan menoleh ke arah sabron, curiga. Sabron tetap berdiri seperti biasa. Perempuan menghitung uang. Sabron mengeluarkan tali dari saku celananya. Secepat bayangan Sabron menjerat leher perempuan dengan tali. Pria Cangklong berbalik membelakangi kegiatan Sabron. Perempuan menggelepar, tewas.
529. Pria Cangklong : Setelah ruangan ini bersih, Kau bisa menggantikan dia ke salon, Sabron....
Tertawa tergelak.

SELESAI
15 April 2006










































































(NOMINATOR)
“ SANDAL JEPIT “
Karya : Herlina Syarifudin


Para pelakon :
1. JOKO
2. PEGGY
3. LALA
4. ‘MASKOT’ (tak berwujud, hanya suara saja)
5. EMAK JOKO
6. PARA PENARI/PROPERTY MAN/HEWAN PELIHARAAN


PEMBUKA

(TAMPAK PARA PENARI DENGAN HAND PROP SENDAL JEPIT DI TANGAN DAN KAKI BERGERAK, MEMBENTUK KOREOGRAFI GERAK YANG HARMONIS, DIIRINGI ALUNAN MUSIK GAMELAN - ATAU ALAT MUSIK TRADISIONAL LAIN MENYESUAIKAN DAERAH MASING-MASING, DIPADU ALAT MUSIK MODERN; PIANO, GITAR DAN DRUM. PADA MENIT TERTENTU PARA PENARI BERGULINGAN LALU MEMBENTUK FORMASI PROPERTY PANGGUNG; ADA YANG MENJADI MEJA, KURSI, RAK SENDAL/SEPATU, DAN GANTUNGAN BAJU – FREEZE, LAMPU BLACK OUT; PROP RAK SEPATU DIISI DENGAN SEPATU DAN SENDAL, MEJA DITARUH PESAWAT TELPON – LAMPU FADE IN)


ADEGAN 1
(PAGI, RUANG TENGAH RUMAH JOKO )
(DARI BALIK WING TIBA-TIBA BEBERAPA SENDAL DAN SEPATU DILEMPAR TAK BERATURAN KE DALAM PANGGUNG, DIIRINGI FADE IN OMELAN JOKO)
JOKO : Ugh, ditaruh dimana sih sepatuku. (JOKO MENUJU RAK SEPATU) Walah, kenapa cuma satu. (HP JOKO BERBUNYI) Aduh, nenek trembel pasti mau berkicau lagi nih. Males ah. (HP DIBIARKAN TERUS BERBUNYI, SELANG BEBERAPA DETIK KEMUDIAN, TELPON RUMAH BERDERING) Ugh, gigih juga dia. Tak ada akar, rotanpun jadi. Bodo ah. (TERIAK) Maakkk ! Joko berangkat dulu. (JOKO MENGAMBIL SENDAL JEPIT SEADANYA, LANTAS PERGI)
EMAK : Hati-hati, Nak. Itu angkat dulu sebentar telponnya. Emak lagi menggoreng tempe, nanti gosong. (TIDAK ADA SAHUTAN, TELPON RUMAH TETAP BERDERING.)
’MASKOT’ : Aduh, ini apaan sih. Pagi-pagi sudah berisik. Diam kamu telpon! Kalau tidak, aku banting nanti.
(TELPON LALU BERHENTI BERDERING)
’MASKOT’ : Nah, gitu. Kan tenang.
(LAMPU BERUBAH, DIIRINGI PROPERTY MAN BERGULINGAN BERUBAH MENJADI POHON DAN KURSI TAMAN, LAMPU GENERAL SUASANA TAMAN PAGI HARI)
ADEGAN 2
(PAGI, TAMAN KAMPUS)
PEGGY : Kemana sih anak kampung ini? HP tak diangkat, telpon rumahpun tak disentuh. Apa kalo pagi, rumahnya jadi rumah hantu? Masa tak satupun ada yang ngangkat telpon? Benar-benar keluarga super ajaib. Tapi, jelek-jelek, sulit bagiku untuk meninggalkannya. Hatiku sudah pantang berpaling darinya. - FREEZE
’MASKOT’ : Dasar lagunya Tiffany laku terus sepanjang masa, Love is Blind. Resikonya kamu memang harus sabar.
LALA : Peggy, Peggy. Joko kan bukan anak kemarin sore yang setiap detik harus dimonitor detak jantungya. Tidak bakalan dia mendua. Aku kenal betul wataknya sejak duduk di bangku SD. Bagiku, dia adalah sobat karib sepanjang masa. Sampai sekarang, aku belum pernah menemukan orang setulus dia. Apalagi di kampus kita ini, biyuh... Pokoknya kalau masalah setia mati, Joko is the best deh. Sayangnya, aku bukan tipe yang mudah jatuh cinta pada sobat sendiri. Sorry ya, prinsip hidupku tak seperti cerita-cerita konyol di sinetron.
PEGGY : Ceilee, segitu idealisnya. Hati-hati tuh omongan bisa jadi bumerang.
LALA : Eh, jangan sembarangan kamu bicara ya. Ini pernyataan jujur. Ngapain juga mamaku susah payah melahirkanku kalau ternyata hanya jadi seorang pengkhianat atau bahkan pecundang. Kalaupun ternyata di muka bumi ini tak terhitung para pengkhianat dan pecundang yang bertebaran, itu hanya karena faktor x yang datangnya bukan dari genetik. Dasar manusianya saja yang tidak bisa mengontrol hawa setan.
PEGGY : (TERTAWA) Busyet. Kamu ternyata berbakat jadi keponakannya da’i kondang Arifin bahkan Aa’ Gym.
LALA : Aku serius ini. Maaf maaf saja, aku juga bukan tipe plagiat. Aku tahu, gaya hidup negara kita tanpa disadari memang plagiat total dari seberang. Padahal kalau kita tidak malas, nusantara ini dengan mottonya gemah ripah loh jinawi bukan sembarang bualan motto. Itu kenyataan. Aku bisa omong begini, karena salah satu temanku yang saat ini lagi observasi di beberapa pelosok pedalaman buat studi akhirnya, selalu memberi informasi perkembangan yang dia dapat selama ini. Betapa bangganya cowok-cewek gaul masa kini, ketika mereka mengenakan busana import. Betapa percaya dirinya mereka ketika bisa menggaet pasangan imigran. Padahal andai mau membuka mata hati lebar-lebar, tak kurang gadis dan perjaka pedalaman yang aura cantik dan tampannya menyiratkan keunikan zamrud khatulistiwa yang luar biasa fantastik. Tidak usah jauh-jauh, coba kau jalan-jalan ke pesisir Banten lalu kau cari desa yang namanya Menes. Disana terkenal dengan paras cantik para gadisnya.
PEGGY : Oh ya? Masa? Aku jadi penasaran.
LALA : Nah, ini, ini, salah satu bentuk pengkhianatan terselubung. Ternyata kita semua patut dikasihani.
PEGGY : Pengkhianat bagaimana? Apa maksudnya? Eh, bukan berarti itu bisa jadi alasan yang kuat. Butuh proses. Tidak semua orang sepertimu. Sok idealis. Realistis sajalah.
LALA : Eh Mbakyu, yang aku utarakan tadi itu sudah sangat realistis. Di depan kita dan akan banyak lagi di sekitar kita. Itu juga kalau kita mau peduli. Kalau tidak, mungkin hanya akan sebatas angin semilir saja yang kita nikmati dengan syahwat tanpa sempat kita syukuri dengan hati.
PEGGY : Eits, jangan salah. Maka itu aku pilih Joko. Karena aku bukan jatuh hati pada sosoknya yang terlihat, namun lebih kepada sosok tersiratnya yang bagiku nusantara sekali. Seumur-umur aku pacaran, baru kali ini aku mendapatkan seorang pangeran yang begitu percaya diri dengan kesederhanaannya. Kejujuran itulah yang membuatku terpikat sejak pandangan pertama. Dan yang membuatku salut, dia tak pernah malu menemaniku jalan dengan sendal jepit kesayangannya. Oh, Joky, (PANGGILAN MESRA PEGGY KEPADA JOKO) I’ll never stop loving you.
LALA : Picisan! Sok mendramatisir.
(JOKO MUNCUL – SEMUA PEMAIN FREEZE)
’MASKOT’ : Wow, pangeran sejati yang telah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pasti jantung Peggy berdegup kencang menahan rasa. Maklum, namanya juga pasangan segar. Pastilah masih banyak madu dibanding racunnya. Ih.... pengen.
PEGGY : Tuh, tidak salah kan aku. Apa aku bilang? Aku rela dimadu dengan sendal jepitnya. Kalau bisa aku akan berusaha akrab dengannya. Besok aku akan ke kampus dengan memakai sendal jepit pula.
(JOKO BERUSAHA IKUT NIMBRUNG, TAPI LALA MENYELA)
LALA : Plagiat lagi, plagiat lagi. Cerminan sifat warga negara yang baik dan patuh.
JOKO : Dua burung pipit sedang adu senandung. Yang satu bernuansa keroncong, sementara yang lain dengan top forty-nya. Sungguh sebuah paduan yang harmonis dan akur. (TEPUK TANGAN MENYINDIR)
PEGGY : Bagaimana sih sayangku ini, dibela koq malah tidak mendukung. Malah sok berlindung sebagai oposisi. Aku jadi menyesal membelamu.
LALA : Nah, itu tadi salah lain dari negara ini. Berusaha mengeruk massa dengan bujukan yang murahan. Begitu obralnya harga kita. Kapan tanah kelahiran kita ini berada pada posisi penawaran harga yang cukup bernilai sehingga tidak begitu saja cepat laris manis namun tidak mampu lagi menyediakan stock karena tutup buku.
JOKO : Cintaku, negeriku, tumpah darahku, bukannya aku tidak mau membelamu sayang .... Be our self itu penting. Kau tidak perlu beradaptasi denganku dari sisi penampilan atau gaya hidup. Keanekaragaman dari hubungan kita, itu yang aku nikmati hingga saat ini. Toh, aku tidak pernah mengeluh dengan keborjuisan kamu. Kau memilih aku yang hina dina ini saja, aku sudah cukup bahagia dan bersyukur. Tapi aku mohon, kamu jangan berusaha membuatku terpengaruh atau bahkan merubahku untuk mengikuti jalurmu itu. Pribadiku akan tetap menjadi Joko seperti yang kau lihat sekarang ini baik sebelum atau sesudah mengenalmu. Namun aku tidak akan memintamu untuk berprinsip sama denganku. Kau cerdas, tentu tahu apa yang harus kau perbuat dalam hidupmu. Ajaran bibit, bobot, bebet itulah pondasi prinsipku hingga kini. Jangan hanya karena masalah hati, kemudian merubah 180% dari apa yang ada pada dirimu saat ini dan kemarin atau bahkan esok.
PEGGY : (TERSENYUM MALU) Maafkan aku sayang. Bukan maksud hati ingin berseimbang diri denganmu. Namun, itulah caraku untuk sedikit demi sedikit mengurangi ke-eksklusifan yang sebenarnya cukup menyiksaku. Jangan kau kira aku bangga dengan status keluargaku saat ini. Mamaku....
(BELUM SELESAI PEGGY BICARA, LALA MENYELA)
LALA : Maaf interupsi! Sepertinya topiknya sudah mulai sempit lingkup dan quorum berlebih. Sangat sopan bagiku untuk mengundurkan diri. Tak baik bertamu terlalu lama, sementara tuan rumah masih banyak keperluan yang lain. Aku ke sekret BEM dulu ya, siapa tahu teman-teman sudah pada nongol. Silahkan lanjutkan provokasinya. Satu pesanku, kalau bisa jangan ada yang kalah atau menang. Paling tidak posisi draw itu jauh lebih baik, ok.
PEGGY : Maaf, La. Tak seharusnya kita jadi tuan rumah yang semena-mena begitu saja mengusir tamunya. Maaf, kalau tiba-tiba kemudinya berbelok arah ke jalan makadam. Aku tahu dirimu paling suka lewat jalan tol. Nanti aku menyusul. Oh, ya hampir lupa. Tolong sampaikan pada Bo’im, surat perijinan ke rektorat sudah kusiapkan. File-nya aku simpan di laci bawah meja komputer.
LALA : Siippp. Beres bos. Titah paduka akan segera hamba laksanakan. Jok, jaga Peggy ya. Jangan sampai dia lupa jalan pulang.
JOKO : Ok juga boss. Hamba siap menjadi abdi sejati bagi tuan putri tercinta.
(LALA PERGI DENGAN SENYUM)
PEGGY : Koq abdi? Selama ini berarti kau hanya menempatkan dirimu pada posisi bodyguard yang dengan setia mengawalku kemana-mana demi keamanan? Begitu? Segitu rendahnya kau menghargai posisimu dihatiku. Berarti selama ini aku terlalu buta untuk menelusuri bahkan menerjang kabut yang menutupi hatimu. Hingga sekarang aku sadar ternyata kau membatasi ruangmu untuk kumasuki.
JOKO : Mohon, cinta. Jangan kau salah mengerti. Dalam perjalanan, kita tidak hanya melalui dataran. Saat pertama aku membuka pintu hatimu, aku merasa jalan yang harus kulalui adalah bukit. Saat ini aku masih merasa berputar-putar di lerengnya. Entah mengapa, setiap kali aku mencoba menanjak menuju badan bukit, tapak kaki ini agak sulit berkompromi dengan kata hatiku. Maunya tetap saja menapak di lereng. Apa karena alas kakiku yang hanya sebatas sendal jepit ini yang merasa tidak mampu menapak di jalan yang mulai terjal dan landai. Namun ketika sendal jepitku ini berjalan di lereng, aku bisa merasakan nyamannya. Beda ketika aku mencoba mengajak masuk dan mulai menapak badan bukit, jeritan kesakitannya sanggup menusuk telapak kakiku. Akhirnya aku urungkan niatku untuk melanjutkan perjalananku. Walau sebenarnya aku tahu, kau telah cemas menungguku di puncak bukit.
(PEMAIN FREEZE - LAMPU BERUBAH, DIIRINGI PROPERTY MAN BERGULINGAN BERUBAH POSISI MENJADI SOSOK-SOSOK DENGAN KOMPOSISI ABSTRAK SIMBOL BUKIT; TELENTANG, TELUNGKUP, MERUNDUK DAN MENGGAPAI – LAMPU BERUBAH)
PEGGY : (MENANGIS) Jadi, selama ini .... prasangka yang coba aku pendam bahkan aku tepis ternyata benar adanya. Cintamu pada sendal jepitmu ternyata lebih mendalam ketimbang padaku. Lantas kedok perasaan apa yang selama ini kau pakai sebagai topeng? Abdi sejati? Hanya itu? Dasar pengecut! Ternyata hatiku selama ini telah terbuai oleh bualan picisan seorang pecundang sejati. Salut, salut. Aktingmu melebihi kehebatan para aktor broadway. Aku seorang tolol yang buta sekaligus kehilangan tongkat. Dan kau telah berhasil menyimpang-siurkan arah mata anginku. Sakit, sakit. Nafasku kini kian sesak. Sebaiknya kau segera lenyap dari pandangku. Aku tak sanggup menahan muntah jika kemunafikanmu masih menghadang nafasku.
JOKO : Sayang.... (SEMUA PEMAIN FREEZE)
’MASKOT’ : Wah, wah. Racunnya sudah mulai menampakkan diri nih. Bakalan seru. Gejolak tahap berikutnya dimulai.
PEGGY : Cukup! Jangan lagi kau mempertebal susunan topengmu dengan sebutan munafik itu. Maaf, aku tidak ingin egois. Harus ada yang mengalah di antara kita. Selamat tinggal. (PERGI)
JOKO : (TERIAK) Peggy .... Peggy.... dengar dulu penjelasanku. Jangan kau salah tafsir. Aku menyesal ternyata kecerdasanmu kalah oleh emosional sesaat.
PEGGY : (BALIK LAGI) Apa kamu bilang? Licik sekali kamu memvonis aku? Apa selama ini kau telah cukup mengenal diriku secara mendalam? Puas kamu! (MELOTOT SAMBIL MENAHAN TANGIS)
JOKO : Janganlah kau semakin barakan api yang telah menyala. Kalau memang susah mencari air, keruklah tanah di sekitarmu, itu masih lebih ksatria. Jangan kau salah menilaiku. Masa setiap saat aku harus memberi laporan padamu sejauh mana aku mempelajari dirimu selama ini. Proses. Itulah yang saat ini yang sedang kita jalani. Dan akan terus kita lakukan tanpa henti. Sampai nafas kita berhentipun, proses itu akan terus bergulir. Tak baik memandang persoalan hanya pada satu sisi. Semua butuh kematangan. Aku sadar, diriku masih jauh dari itu. Tapi aku berusaha menelusurinya walau dengan tertatih. Jujur, hatiku tak berubah. Kau tetap mengisi ruangku saat ini. Tak pernah sedikitpun terbesit dalam pikirku untuk mengabaikanmu. Dan bahkan laknat bagiku kalau sampai aku menduakanmu. Masalah telpon tadi pagi, aku mohon maaf. Aku tidak punya pulsa untuk membalas. Tentu kau sudah paham hal itu.
PEGGY : Klasik! Itulah senjatamu agar tetap bisa berada pada posisi permakluman. Kau pikir aku bodoh, begitu saja percaya dengan alasanmu itu! Aku tahu, kau pasti menganggapku terlalu posesif terhadapmu. Tapi kau tak pernah punya keberanian untuk jujur. Kau takut aku tersinggung jika kau ungkap keluhanmu itu? Iya kan?! Dan kini kau pasti terkejut karena aku telah terbangun dari buaian mimpi burukku selama ini. Maaf, kali ini mata hatiku tlah benar-benar terbelalak lebar. Pantang bagiku mengulang kebodohan. Anggap saja aku memang tolol. Tapi orang idiotpun tetap punya harga diri. Selamat tinggal kenangan. Terima kasih atas ‘pengorbanan’mu selama ini. Maaf, saat ini aku belum dapat membalasnya. Ups, tapi rasanya tak perlu. Karena cinta sejati tak pernah berharap apapun. Sakit hatiku ini anggap saja impas sebagai balasan dari pengorbananmu tempo lalu. Beres kan? (MENGHELA NAFAS PANJANG KEMUDIAN BERGEGAS PERGI MENINGGALKAN JOKO) – FREEZE
’MASKOT’ : Yach, mengapa jadi sad ending begini? Nah, nah, lho, air mataku jadi bergulir membasahi pipiku deh. Ugh, ini tidak adil. Tuhan hadirkan cinta bukan untuk dikhianati. Cinta terlalu suci untuk dinodai. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Strategi baru akan tiba.
(LAMPU BERUBAH, DIIRINGI PROPERTY MAN YANG BERGULINGAN BERUBAH MENJADI TANAMAN-TANAMAN LAYU-LAMPU BERUBAH)
JOKO : Puzzle yang telah kususun dengan penuh sabar dan hampir jadi, telah terkoyak hanya dengan sentilan jari kelingking. Mengapa salah paham ini harus terjadi pada saat yang tidak tepat? (MEMANDANG SENDAL JEPITNYA DAN MEMUNGUTNYA DARI TELAPAK KAKINYA) Mengapa harus kau yang ....? Tak layak kau jadi kambing hitam. Kau telah menempatkan dirimu pada posisi yang selayaknya.
(LALA MUNCUL)
LALA : Mengapa kau setega itu sobat? Aku berusaha menutupi tabirmu yang sesungguhnya, karena aku sayang pada kalian berdua. Walau sesungguhnya itu berarti aku telah menjadi seorang pecundang dalam perjalanan cinta kalian. Aku ternyata bukan sobat yang baik. (MEMUNGUT SENDAL JEPIT DARI TANGAN JOKO) Dia hanyalah saksi bisu. Namun lewat ke-elastisannya, dia mencoba tuk bicara. Masih ada waktu untuk sebuah ketulusan. Aku yakin, Peggy tak sepicik itu menilaimu mentah-mentah. Andai kau lihat sorot matanya tadi, tersirat kepedihan yang cukup dalam. Namun dia berusaha tersenyum. Kebebasan yang dia impikan selama ini telah ia temukan dari dirimu. Tidakkah kau sadar akan hal itu?
JOKO : Oh, shit! Ternyata selama ini, aku dan dia telah selisih jalan. Aku berusaha perlahan masuk dalam gaya hidupnya, ternyata diapun melakukan hal yang sama? Begitu bodohnya aku. Terima kasih sendal, kau tidak hanya saksi bisu. Kau telah jadi penyelamat. Tidak ada kata terlambat dalam kamusku. Dimana Peggy sekarang?
PEGGY : Tuh.
(LAMPU BERUBAH FOKUS KE SILUET. TAMPAK PEGGY SEDANG MENARI DENGAN HAND PROP SENDAL JEPIT DI TANGAN DAN KAKINYA. JOKO MENYUSUL DAN AKHIRNYA MENARI BERDUA BERSAMA PEGGY DI BALIK SILUET. LALA PERGI MENINGGALKAN PANGGUNG)
’MASKOT’ : Mmh, ckk, ckk, ckk. Cinta...cinta.... terkadang kamu bikin gemes. Terkadang pula kamu menjengkelkan. Dasar badung kamu, Cinta. (TERTAWA GELI SEPERTI DIGELITIK) Ih, ah, aduh jangan, aku tidak tahan geli nih. Kamu genit. Sudah-sudah, aku kapok. Sudah ah, capek. Muuaaccchhh...... Cinta ibarat perang, butuh strategi yang matang. Jika hendak menyerang, jangan ambil posisi di tempat terang. He..he.. memangnya mau bunuh diri?
(SILUET FADE OUT-LAMPU BERUBAH FADE INI KE PANGGUNG. SAYUP-SAYUP TERDENGAR SENANDUNG JOKO DAN PEGGY. PARA PROPERTY MAN TELAH BERUBAH MENJADI PENARI, KEMUDIAN MENARI MENGIKUTI IRAMA)

SYAIR LAGU JOKO DAN PEGGY :
Cinta ibarat perang
Butuh strategi yang matang
Jika posisi telah siap menyerang
Mengendap-endaplah di remang-remang

Liku laku perjalanan cinta
Tak kan lepas dari sorot mata
Entah mata hati, entah mata-mata
Namun jika cinta telah merasuk
Wirid asmara kan terus terngiang khusyuk

(SILUET BLACK IN, TIBA-TIBA PEGGY KELUAR MENYIBAK KAIN BELAHAN TENGAH SILUET DAN MASUK KE PANGGUNG DENGAN MARAH DIIKUTI JOKO DARI BELAKANG, PARA PENARI TERKEJUT LALU FREEZE)
PEGGY : Bajingan! Siapa bilang aku luluh hanya karena sendal jepit? Semana-mena saja hargaku disamakan dengan sendal jepit. Cuih! Memandang dirimu saja aku ogah, apalagi sendal jepit bututmu itu!
JOKO : Lho...lho.... ini koq jadi tidak karuan? Eh, Mbakyu cinta ya cinta. Tidak perlu bawa-bawa sendal jepit donk. Apa salah dia?
PEGGY : Apa? Cinta? Siapa yang bilang aku masih memendam cinta padamu? Cuih! Pantang bagi Peggy tuk berlutut pada sendal jepit butut lagi kotor. Jangan kau berlindung di balik kepolosan sendal jepitmu itu ya. Dia tak kan mampu berbuat apa-apa. Bahkan untuk hubungan kita sekalipun. Biar impas, sekarang aku yang mengusirmu dari hadapku. Silahkan Tuan Joko segera angkat kaki. Banyak pintu yang bisa kau lalui untuk segera lenyap dari pandangku. Sekarang juga! Atau kalau tidak, hak sepatuku yang lumayan kokoh ini, akan melayang membabibuta pada tubuhmu. Silahkan! Satu.... dua.... dua seperempat....
(JOKO SALAH TINGKAH TAK BERDAYA, LANTAS PERGI TANPA PAMIT)
PEGGY : (KETAWA) Ternyata sendal jepit takut juga sama sepatu hak. Apalagi sama sepatu boots, bisa-bisa habis nafas digencet dan diinjak-injak. (MENANGIS) Ugh, kenapa kamu pergi begitu saja, Cinta? Aku tadi kan Cuma menggertakmu saja. Tapi mengapa kamu jadi takut beneran? Aku jadi menyesal. Padahal sebenarnya aku kan masih cinta sama kamu. Joky-ku sayang, honey, cintaku, negeriku, tumpah darahku.....
’MASKOT’ : Makanya tidak usah sok jaim. Orang lagi sensitif dikerjain.
(PARA PENARI YANG FREEZE BERUBAH MENJADI AKTOR)
PENARI 1 : Mbak, mbak, sudah malam.. kita juga sudah capek dari tadi menemani mbak. Kita juga butuh istirahat. Besok dilanjut lagi ya?
PEGGY : (BERHENTI MENANGIS) Oh, eh, iya iya. Yuk kita pulang.
(PEGGY DAN PARA PENARI BERJALAN MELINGKARI PANGGUNG, SIMBOL PERJALANAN PERGANTIAN WAKTU. PEGGY MENINGGALKAN PANGGUNG, PARA PENARI ON STAGE DIIRINGI PERLAHAN LAMPU FADE OUT)
(LAMPU BLACK IN DENGAN SETTING HALAMAN BELAKANG RUMAH JOKO, PARA PENARI BERUBAH MENJADI HEWAN-HEWAN PELIHARAAN. ADA YANG JADI MONYET, KUCING, ANJING DAN BURUNG KAKAK TUA, SEBAGIAN MENJADI PEPOHONAN KECIL DAN BANGKU TAMAN)

ADEGAN 3
(SIANG, TAMAN BELAKANG RUMAH JOKO)
JOKO : (BERDIALOG DENGAN MONYET) Mony, hayo makan! Ini pisang bukan buat dipelototi saja. Dari pagi kamu belum makan. Nanti kalau kamu sakit, aku yang repot. Jadi harus merawat kamu, akibatnya aku jadi bolos ke kampus. Jangan manja begitu donk.
(SI MONYET MONY DIAM SAJA. MATANYA TERTUJU PADA SANDAL JEPIT YANG DIPAKAI JOKO. LALU MONYET ITU MENARIK-NARIK SANDAL BERUSAHA MELEPAS DARI KAKI JOKO)
JOKO : Mony, kamu apa-apaan sih? Ini bukan makanan. Ini racun. Aduh, Mony sudah ah. Kamu jangan mengajak bercanda donk. Aku kan tidak hanya merawat dirimu. Tuh, teman-temanmu yang lain masih menunggu giliran buat disuapin.
(MONYET TIDAK MAU TAHU. DIA TETAP MENARIK-NARIK SANDAL JOKO. SAMPAI AKHIRNYA KARENA KASIHAN JOKO MELEPAS SANDAL JEPITNYA. MONYET MELOMPAT-LOMPAT TERTAWA KEGIRANGAN. SI MONYET MENCOBA MEMAKAI SANDAL JEPIT PADA KAKINYA.)
JOKO : (TERTAWA GELI) Astaga Mony, kamu layak jadi anggota sirkus deh. Ada-ada saja kamu. Nanti aku belikan yang ukuran kecil. Biar kamu tidak merebut sandalku lagi. Ayo sambil dimakan ini pisangnya, sayang.
(MONY MENYAHUT PISANG DARI TELAPAK TANGAN JOKO DAN MENGUPAS LANTAS MELAHAPNYA. SI MARCO, KUCING KESAYANGAN JOKO MENDEKAT DAN MENGELUS-ELUS KAKI JOKO, OPET; BURUNG KAKAK TUA JOKO BERKICAU DAN ANJINGNYA SI DOGGY MENGGONGGONG TANDA IRI DAN BERUSAHA MENCARI PERHATIAN JOKO)
JOKO : Ssstt, diam! Tumben sih kalian ini koq jadi pada ramai begini? Iya, iya, nanti semua pasti dapat giliran. Antri ya! Tenang!
EMAK : Jok, ini ada bingkisan buatmu. Emak temukan di depan pintu barusan. Emak tidak berani membukanya. Hati-hati! Jangan-jangan jebakan.
JOKO : Ah, emak ada-ada saja. Perasaan Joko tak pernah berbuat jahat pada siapapun. Masa ada yang tega mau mencelakakan Joko.
(JOKO MEMBUKA KOTAK BINGKISAN YANG DIBUNGKUS RAPI ITU PELAN-PELAN. TERNYATA BUNGKUSAN ITU BERLAPIS-LAPIS SAMPAI JOKO CAPEK MEMBUKANYA)
JOKO : Siapa yang iseng ngerjain aku sih? Dasar kurang kerjaan!
(SAMPAI PADA LAPISAN BUNGKUSAN TERAKHIR TERNYATA ISINYA 1 BUAH SANDAL JEPIT DAN 1 BUAH SEPATU CEWEK, TAK ADA SEPUCUK SURATPUN DI DALAMNYA)
JOKO : Peggy? Ini pasti Peggy. Apa maksudnya mengirimkan ini padaku? (JOKO BERPIKIR KERAS BERUSAHA MENAFSIR MAKSUD DARI KIRIMAN MISTERIUS ITU)
(PEGGY MUNCUL TIBA-TIBA SAMBIL BERSENANDUNG, SEMUA PENARI YANG MENJADI HEWAN PELIHARAAN IKUT MENARI DENGAN GERAKANNYA MASING-MASING)
PEGGY : Romantisme sandal jepit dan sepatu hak tinggi
Menjadi kisah unik yang membuat geli
Bekas tapak sandal jepit akan selalu bergaris
Bekas tapak sepatu berhak belum tentu bergaris
Perbedaan adalah pelangi hidup yang harmoni
Kadang riuh, kadang pula sunyi
Andai salah satu jadi batu karang
Yang lain tentu bijak menjadi air yang terus menyerang
Namun dengan kelembutan
Dan ketelatenan
JOKO : Di sudut hatiku kau berpijak
Entah alas apapun kau buat pijak
Jejakmu kan selalu membekas
Kan kugenggam jangan sampai lepas
PEGGY : Sengaja kukirim sebelah-sebelah
Ku tak ingin kau terbelah-belah
Karena aku bakal meledak-ledak
Sampai dirimu terkapar membelalak

JOKO : Adindaku, oh sayangku
Prasangka buruk tak semestinya membuatmu bisu
Ku tersiksa walau hanya menunggu
Dalam terpaku aku ragu
PEGGY : Kakandaku, oh sayangku
Asmara itu lagu lucu
Jika engkau merasa ragu
Namun waktu terus memburu
JOKO : Sekarang aku siap atas segala titahmu
Kan kuselipkan setiap waktuku
Tuk bercanda di sampingmu
Dan kan terus merayu manjamu
PEGGY : Maafku yang tak terputus, ku tak ingin kau meragu lagi. Naif dan bodoh jika aku cemburu pada sandal jepitmu. Padahal, sandal jepitmulah yang telah membantuku keluar dari penjaraku selama ini. Aku patut berterima kasih padanya. Aku lelah dengan sepatu hakku. Aku merasa terkekang olehnya. Ruang gerakku sungguh sempit. Aku iri padamu.
JOKO : Sudahlah sayang. Sandal jepit tak selamanya bisa bebas kemana saja. Ruang geraknya sesungguhnya lebih sempit dan hanya di lorong bawah tanah. Kenyamanan kakimupun belum tentu terjamin hanya dengan sandal jepit. Kita diciptakan memang tidak selalu sempurna seluruhnya. Pasti ada pincang. Maka itu diciptakan keseimbangan yang bisa saling melengkapi. Selama ini aku terlalu egois. Terlalu idealis. Padahal aku sendiri merasa tersiksa dengan itu semua. Namun aku berusaha masa bodoh. Padahal itupun tak seharusnya kulakukan. Sudah saatnya aku juga butuh keseimbangan. Maka itu diciptakan sepatu sandal. Biar lebih fleksibel. Aku terharu niatan tulusmu. Maafkan kalau sebelumnya aku berprasangka melenceng. – FREEZE
’MASKOT’ : Hey begundal, pintar sekali memutar persoalan. Dasar kadal daratan. Mengapa kau tidak mau berterus terang masalah hp tempo hari?
PEGGY : Usahlah kau merasa bersalah. Akulah yang selama ini telah egois padamu. Tak selayaknya aku meragukan ketulusanmu. Biarlah kesalahpahaman ini hanya sebatas kerikil.
JOKO : Tapi Peggy...? Sebenarnya aku telah berbohong padamu tentang hal lain. Tapi sama sekali aku tak punya niatan lain akal hal itu. Aku hanya tidak begitu nyaman.
PEGGY : Aku tahu maksudmu. Itu juga aku yang salah. Aku terlalu memposisikan diriku layaknya intel. Aku terlalu mencurigaimu. Aku ternyata belum terlalu dalam mengenalmu. Kau harus berterima kasih pada Lala. Dialah yang selama ini setia menjaga agar kita tak terjebak dalam api.
JOKO : Lala? Ternyata dari dulu dia tak berubah. Ehm, sayang...... aku ..... aku.....

(LAMPU BERUBAH, PARA PENARI YANG TADINYA MENJADI HEWAN PELIHARAAN BERUBAH MENJADI PENARI MENGELILINGI JOKO DAN PEGGY. MEREKA MENARI DENGAN MENGGUNAKAN HAND PROPS SANDAL JEPIT. TARIAN YANG DIMAINKAN ADALAH TARIAN GLIPANG / KUDA LUMPING / TARI COKEK / TARIAN TRADISIONAL LAIN;MENYESUAIKAN DAERAH TEMPAT PERTUNJUKAN INI DILAKUKAN. JOKO DAN PEGGY JUGA BERGERAK BERIRAMA LAYAKNYA SEPASANG KEKASIH YANG SEDANG KASMARAN. TARIAN ITU DIIRINGI ALUNAN SYAIR BERIRAMA RANCAK)

SYAIR SANDAL JEPIT :
Sandal jepit, sandal jepit, sandal jepit
Tampangnya polos, tak bermotif
Bahannya lentur tak bertulang
Tapi lumayan sakit kalau kena tabokannya
Asmara sandal jepit
Kisah unik yang berhimpit-himpit
Kalau rasa sudah terjepit
Apa daya otak pula menyipit

- T A M A T -

Bintaro-Jakarta, 19 April 2006, 07.34 wib





















(NOMINATOR)
Tentang yang semestinya tetap ada namun melenyap dan sebaliknya
PADANG BULAN
Drama sederhana buat belia
Karya : Ucok Klasta

Tokoh – tokoh
Padang, Bulan, Jembar, Kalangan, Aki, Nini / (sekaligus) Ibu lugu, Lugu, pejabat Pemerintah Kota, Politikus (Anggota Dewan Kota), Boss (Pengusaha), Petugas Kamtib

MULAI

ADEGAN I
Lagu Tema : Padang Bulan.
Lampu hidup.
Pekarangan depan rumah Aki-Nini.
Bulan masuk panggung, berteriak memanggili teman-temannya.
001. Bulan : Hoooiii …Teman-temaaan …! Padaaang …! Jembaaar …! Kalangan …! Ayo kumpuuul … ! Malam bulan purnama betapa indahnya …! Jangan di rumah saja …! Mari kemari …! Bermain bersama di sini …!
Dari belakang panggung bersama-sama.
002. Koor : Aduhaaai …Betapa …! Bulan purnama …Ooo indahnya …!
Padang masuk.
003. Padang : Mana yang lain ?
004. Bulan, Padang : Jembaaar …! Kalangaaan!
Jembar masuk.
005. Bulan : Kamu tak bersama kalangan, Jembar ?
006. Jembar : Tidak.
007. Bulan, Padang, Jembar : Kalangaaan …!
Kalangan masuk dengan diam-diam lantas berteriak mengagetkan teman-teman.
008. Kalangan : HEI !!!
009. Bulan, Padang, Jembar : Ora kageeet …Weee !
Semuanya tertawa.
010. Padang : Nah, main apa kita sekarang ? Kejar-kejaran? Betengan? Gaprakan ? Tebak-tebakan?
011. Jembar : Tebak-tebakan saja deh.
012. Kalangan : Ya, setuju. Tebak-tebakan.
013. Padang : Yang tak bisa menebak, apa hukumnya?
014. Bulan : Mmm … Di suruh menari saja.
015. Jembar : Usul. Bagaimana kalau menirukan gerak binatang.
017. Kalangan : Menirukan gerak binatang dengan tarian?
018. Padang, Bulan, Jembar : Ya ya ya …
019. Kalangan : Setuju?
020. Padang, Bulan, Jembar : Setujuuu …
Mereka duduk melingkar (setengah lingkaran menghadap penonton).
Cara bermain : Anak-anak mengeja huruf bergiliran dan urut seiring dengan musik. Saat musik berhenti pada anak tertentu, ia menyebutkan nama sesuatu yang dijadikan tebakan sesuai huruf terakhir yang diejanya.
Musik – Lagu Tema : Padang Bulan.
021. Bulan : Nama apa? Buah ya?
022. Padang, Jembar, Kalangan : Ya, buah …
Musik.
023. (Urut) : A, B, C, D, E, F …
024. Jembar : (Gelagapan) G …
025. Bersama : (Bersahutan) Haa …Jembar berdiri Ayo …Ayo …
Jembar berdiri.
Koor lagu ‘ Menthog-mentog’ tapi dengan kata ‘menthog’ diganti nama binatang lain dan gerakannya harus ditirukan yang kena hukuman. Lantas permainan mulai lagi sampai beberapa kali (fleksibel)

ADEGAN 2
Lagu Tema.
Aki-Nini keluar rumah (masuk panggung), berdiri diteras memanggil anak-anak.
026. Nini : Hei cucu-cucuku! Istirahat dulu. Ini ada klenyem anget bikinan Simah. Ayo. Semua ke sini …
027. Aki : Iyo. Bulan, Padang, Jembar, Kalangan …Yo nganggo leren barang podho mreneo Nang bagus, Nok ayu …
028. Koor : Haa … Klenyem … Woooow … keren …
Anak-anak berentengan ke teras, pada duduk menggelesot.
Nini meletakkan piring berisi klenyem.
029. Aki : Ingat … Tidak usah re …?
030. Koor : Butaaan …
031. Aki : Yang ada dibagi me …?
032. Koor : Rataaa …
033. Nini : Maka tak ada yang tak keba …?
034. Koor : Giaaan …
035. Aki : Sebab tak ada kesera …?
036. Koor : Kahaaan …
037. Bulan : Inilah saudara-saudara tercinta, para penonton sekalian, indahnya …
038. Koor : Kebersamaaan ….
040. Aki-Nini : Wis … Wis …
Anak-anak menikmati klenyem bersama-sama.
041. Padang : Ayo Simbah … Seperti biasanya …
042. Jembar : Iya … Cerita.
043. Kalangan : Biar tambah nikmat klenyemnya.
Nini masuk rumah (keluar panggung).
044. Aki : Ya ya ya … Untuk purnama kali ini Simbah sudah menyiapkan sebuah dongeng istimewa. Sebab apa ? Sebab hari ini tepat weton-nya Nini.
045. Koor : Ooo …
Aki masuk rumah (keluar panggung) dan keluar lagi membawa sebuah buku tebal, duduk di kursi / lincak, membersihkan debu pada buku dan membukanya.
046. Aki : Nah, dengarkan ya … Dulu cucu-cucuku …
Musik Latar.
047. Aki : Di sebuah desa tersebutlah seorang pemuda bernama Lugu …
Lampu mati.
Aki dan anak-anak keluar panggung.
Pergantian ‘ setting’.

ADEGAN 3
Lampu hidup.
Lugu masuk panggung.
Narasi Aki dari luar panggung.
Lugu memperagakan cerita Aki.
048. Aki : Syahdan di sebuah desa, tersebutlah seorang anak bernama Lugu. Ia mendengar cerita-cerita bahwa di kota alangkah majunya. Apa-apa ada, tak seperti desanya. Maka di suatu siang yang sunyi, nyeyet, tak ada orang, diiringi lagu dari suara keresek daun bambu digoyang sepoi angin lalu, berangkatlah ia ke kota. Ternyata nun di sana, memang benar apa yang ia dengar. Kota, ruaaarrr biasaaa … Gedung-gedung bagus tinggi menjulang-laaang … bagai menjolok awan. Mobil-motor war-wer-war-wer berseliweran, bagai tak berkesudahan. Supermarket bertaburan menggoda, seolah semua keinginan kita tersedia di sana. Tempat hiburan sungguh aneka ragam, seolah tak ada kesedihan everything just for fun. Dan pabrik-pabrik di pinggir-pinggirnya, laksana benteng gagah perkasa. Di tengah kota. Istana raja diraja walikota, kokoh megah mencerminkan kekuasaan berwibawa. Di sebelahnya. Istana satria-satria diraja dewan kota, elok anggun mencerminkan kebijaksanaan penghuninya. Di sana-sini, istana saudagar-saudagar, mewah kencar-kencar mencerminkan kesuksesan bisnisnya. Alun-alunnya? Ada tugu tertinggi sedunia, entah habis berapa membangunnya, yang penting jadilah lambang ; kemakmuran kota. Kota, ruaaarrr biasaaa …
lugu terus berjalan-jalan dengan takjub, terpesona buaian kota. Sampai akhirnya ia pun merasa lapar. Lugu bingung jadinya. Bangaimana bisa mendapatkan makanan ya? Kerja? Kerja apa ya? Minta? Minta siapa ya? Mem-bedhol ketela? Tegalnya mana ya? Lugu tambah dan tambah dan tambah bingung … Keringat dingin mengalir … Lemas sekujur badan … Kelaparan … Jatuhlah ia ndeprok. Dan tanpa disadarinya tangannya telah terangkat pelan-pelan … Makin terangkat … Menadah … Lugu ndeprok di pinggir jalan dekat restoran kondang ; menadahkan tangan!
049. Lugu : Kasihanilah Tuan … Kasihanilah Nyonya … Seikhlasnya Tuan … Seikhlasnya Nyonya … Kasihanilah Tuan … Kasihanilah Nyonya … Seikhlasnya Tuan … Seikhlasnya Nyonya …
Pejabat, Politikus dan Boss (masuk panggung) keluar dari restoran habis ‘meeting’,
berjalan hanya melewati Lugu saja sambil bercakap-cakap.
050. Boss : Sekali lagi ini bukan suap Pak / Bu … Yah, sekedar silaturahmi untuk mempererat hubungan antara kita, kalangan investor, pemerintah kota dan dewan kota.
051. Pejabat, Politikus : Harmonis. Ya ya ya …
052. Boss : Dengan demikian akan terciptalah kerjasama propesional yang kompak lagi saling menguntungkan.
053. Pejabat, Politikus : Harmonis. Ya ya ya …
054. Boss : Dengan demikian kota akan terus membangun, kita-kita untung, dus segenap warga terse …
055. Semua : Nyuuummm!
056. Pejabat, Politikus : Harmonis. Ya ya ya …
057. Boss : Dengan demikian bla bla bla bla …
058. Pejabat, Politikus : Ya ya ya bla bla bla bla …
059. Koor : Bla bla bla bla bla …
Pejabat, Politikus dan Boss keluar panggung.
Musik.
Petugas Kabtib masuk panggung, mendatangi Lugu.
060. Kamtib : He! Dilarang Ngemis tahu? Dlarang menggelandang tahu?! Kamu ini mengganggu pemandangan! Kota ini tak boleh (Sambil menengok penonton : kelihatan) ada gelandangannya! Kota ini tak boleh (Sambil menengok penonton : kelihatan) ada pengangguranya! Kota ini tak boleh (Sambil menengok penonton : kelihatan) ada kemiskinannya Tahu ?! Tahu ?! Tahu?!
061. Lugu : Saya bukan gelandangan! Saya Lugu!
062. Kamtib : Lha iya ! Wong Lugu tur gelandangan! Ayo ikut aku!
063. Lugu : Tidak mau!
064. Kamtib : Heh … Ngelawan kamu, ha?! Tak seret sisan kowe!
065. Lugu : Tidak mau! Saya bukan gelandangan! Saya Lugu ! Saya manusia! Saya bukan binatang!
Kamtib dan Lugu bergelut. Lugu diseret-seret. Lugu meronta-ronta.
Tiba-tiba berteriaklah seseorang.
Nini masuk panggung.
066. Nini : Paaak … Paaak … Anakku diapakan?! Anakku mau dibawa kemana?!
Lugu bingung, ia merasa tidak kenal dengan perempuan ini.
067. Kamtib : Ini anak Ibu?
068. Nini : Iya.
069. Kamtib : Bukan gelandangan?
070. Nini : Bukan.
071. Kamtib : Benar?
072. Nini : Benar.
073. Kamtib : Kamu benar anaknya Ibu ini?
074. Lugu : Bb, bb, bukan, eh … Benar! Bb, benar Pak …
075. Kamtib : Kenapa ngemis? Kenapa menggelandang?
076. Lugu : Saya ini bukan ngemis! Saya bukan gelandangan?
077. Kamtib : Yo wis sekarepmu. Ya sudah Bu … Saya percaya pada Ibu. Sekarang, anak ini dibawa pulang saja. Nongkrong di pinggir jalan seperti itu merusak pemandangan. Mengganggu ketertiban. Sudah … Permisi. Selamat siang.
Kamtib keluar panggung.
Nini mendekati Lugu.
Lugu masih bingung.
078. Nini : Ini makanlah … Kamu lapar kan?
079. Lugu : Ibu siapa sebenarnya?
080. Nini : Lho … Aku ini ya ibumu tho le …
081. Lugu : Bukan! Jelas kamu bukan ibuku! Ibuku ya di kampung sana!
082. Nini : Kamu pikir sekarang ini kita dimana?
083. Lugu : Di kota.
084. Nini : Benar di kota? Bukannya dikampung kita?
085. Lugu : Benar! Eh … Mmm … Ah, bukan! Ini bukan kampungku! Eh, tapi … Nggg …
086. Nini : Naaa … Kamu ragu kan?
087. Lugu : Tidak …Tapiiii … Ah, tidak! Aku yakin. Ini bukan kampungku! Dan kamu, bukan ibuku! Sudah … Pergi sana! Kamu itu Cuma orang gila!
088. Nini : Wis? Tetep ngeyel? Jadi aku, ibumu ini kamu suruh pergi saja? Yo wis. Itu nasi bungkusnya dimakan … Aku pergi sekarang.
089. Lugu : Eh … Tapi … Tunggu dulu!
Nini berhenti dan berbalik.
090. Lugu : Kalau ini memang kampungku, lantas mana rumahku hayooo?!
091. Nini : Rumah kita dan rumah-rumah tetangga sudah jadi gedung-gedung megah itu anakku.
092. Lugu : Lha pasar? Pasar Wage?
093. Nini : Kamu lihat supermarket itu? Itulah pasar kita.
094. Lugu : Lha tegal, sawah …?
095. Nini : Yah … Sebutlah itu sekarang : jalan tol.
096. Lugu : Lha yang hilir-mudik di jalan ini? Pasa ngebut ini …?
097. Nini : Ya, itu pedati kita, gerobak kit, gledheganmu …
098. Lugu : Kampungku jadi macam ini?! O ya, o ya … Bagaimana dengan lapangan? Jadi apa tempat bocah-bocah berkumpul kalau malam padhang mbulan?
099. Nini : Jadi … Jadi ‘ dufan’ Le …
100. Lugu : Haaa … Tapi … Tapi kan ini semua … Milik kita? Kan kampung kita?
101. Nini : Sayangnya … Ini semua bukan milik kita.
102. Lugu : Lantas orang-orang kampung pada dimana?
103. Nini : Mereka di gedung-gedung itu … Tapi bukan pemiliknya … Klining serpis-nya. Mereka di supermarket-supermarket itu … Tapi bukan pemiliknya … Kuli gudangnya. Mereka di rumah-rumah mewah itu … Tapi bukan pemiliknya … Babu-nya. Mereka di jalan-jalan itu … Tapi bukan pemiliknya … Kakilimanya. Mereka di pabrik-parik itu … Tapi bukan pemiliknya …Buruhnya. Mereka dimana-mana … Tapi tak punya apa-apa … Tak ada tempatnya … Merana …
104. Lugu : Cukup! Cukuuup ! Cukuuuuuuup! Ini gila … Ini gila … Gila! Aku mau kampungku … Kembalikan kampungku! Kembalikan kampungku! Kampungku !!!
105. Nini : He! Bangun Lugu! Ayo bangun! Kerjanya molor saja ! Bangun!
Lampu mati.

ADEGAN 4
Lagu tema.
Lampu hidup.
Pekarangan depan rumah Aki-Nini.
Bulan masuk panggung, berteriak memanggil teman-teman.
106. Bulan : Heiii … Teman-temaaan …! Padaaang …! Jembaaar …! Kalangan …! Ayo kumpuuul …! Malam bulan purnama betapa indahnya …! Jangan di rumah saja …! Mari kemari …! Bermain bersama di sini …
Dari belakang panggung bersama-sama.
107. Koor : Aduhaaai …! Bulan purnama ooo indahnya …
Padang masuk.
108. Padang : Mana yang lain?
109. Bulan, Padang : Jembaaar …! Kalangaaan!
Jembar masuk.
110. Bulan : Kamu tak bersama Kalangan, Jembar?
111. Jembar : Tidak.
112. Bulan, Padang, Jembar : Kalangaaan …!
Kalangan masuk degan diam-diam lantas berteriak mengagetkan teman-teman.
113. Kalangan : HEI!!!
114. Bulan, Padang, Jembar : Ora kageeet …Weee!
Semua tertawa.
115. Bulan : Aduuuh … Sedih ya … Aki-Nini sudah setahun ini tiada … Tiba-tiba aku terkenang-kenang mereka …
116. Padang : Iya. Lagi mereka tak meninggalkan siapa-siapa …
117. Jembar : Dulu saja mereka sudah sepi … Cuma berdua saban hari … Tak ada anak, cucu apalagi …
118. Kalangan : Tapi tetap ada kita semua … Kita kan sudah jadi cucu-cucu mereka? Seperti mereka pun sudah jadi kakek-nenek kita …
119. Bulan : Benar. Pokoknya semoga semoga Aki-Nini bahagia selamanya. Pokoknya kita semua janji tak akan sekali-kali melupakan mereka. Setuju?
120. Padang, jembar, Kalangan : Setujuuu!
121. Koor : Oh Aki … Oh Nini … Sekali kami janji, pantang Nyulayani. Swer!
122. Jembar : Katanya rumah itu dibeli sama orang kota ya ?
123. Kalangan : Iya. Belum lama.
124. Bulan : Baik hati juga enggak ya? Seperti Aki-Nini enggak ya?
125. Padang : Katanya, pemilik baru itu orangnya sombong. Tak kenal tetangga.
126. Jembar : Dan tak bakal menunggui kita bermain ya …
127. Kalangan : Tak bakal juga mendongengi kita …
128. Jembar : Apalagi berharap keluarnya klenyem manis-gurih-anget ya …
129. Bulan, Padang, Kalangan : Huuuuu!
130. Padang : Sudah sudah … Ayuk, bermain apa kita sekarang? Kejar-kejaran? Betengan? Gaprakan? Tebak-tebakan?
131. Jembar : Jilumpet saja. Sembunyi-sembunyian.
132. Bulan, Padang, Kalangan : Setuju … Setuju …
133. Kalangan : Sekarang kita hompimpah …
134. Bulan : Lainnya deh, jangan hompimpah terus …
135. Padang : Terus piye?
136. Jembar : Pingsut? Itu kalo dua orang …
137. Bulan : Gini … Dengar! Gini …
Bulan memperagakan ‘gerak-lagu’ dengan iringan musik ‘Padhang mbulan’.
(Siapa yang giliran bergerak saat musik berhenti, dia yang ‘jadi’)
138. Bulan : Jelas enggak?
139. Padang, jembar, Kalangan : Jelas … Jelas …
140. Padang : Yuk atur posisi. Baris.
Anak-anak berbaris menyamping menghadap ke kanan dan menghitung bersama.
141. Koor : Tu Wa Ga Pat!
Musik.
Ternyata yang ‘jadi’ Bulan.
142. Padang, Jembar, Kalangan : Bulan ‘ jadi’! Bulan ‘jadi’!
143. Jembar : Ayo, tutup mata!
144. Bulan : Kuhitung sampai 20 ya? Satu! Dua …
Bulan menghitung.
Lainnya berlarian mencari tempat sembunyi (keluar panggung).
145. Bulan : Sepuluh!
Bulan mencari-cari teman-temannya. Terus mencari … Mencari … Mencari … Sampai lama tak ketemu-ketemu … Mencari … Mencari … Lama sekali … (keluar masuk panggung). Sampai mencari diantara penonton.
146. Bulan : Padang! Jembar! Kalangan! Jangan jauh-jauh kalian sembunyi! Oooiii! Kalian tu dimana?
Bulan mencari-cari lagi.
147. Bulan : Oooiii! Kalian mengerjai aku yaaa ?!
Perlahan-lahan ekspresi Bulan mulai berubah. Ia dijalari semacam campuran antara rasa cemas, gelisah, takut …
148. Bulan : Padang … Jembar … Kalangan … Kalian mbook jangan keterlaluan … Aku agak-agak merinding ini … Padaaang … Jembaaar … Kalangaaan … Kalian mbok nongol … Padaaang … Jembaaar … Kalangaaan …
Dipuncak rasa tercekamnya, Bulan lari keluar panggung. Lampu mati.

ADEGAN 5
Lampu hidup.
Padang masuk panggung, mengambil ‘blocking’ dan ‘pose’ tertentu.
Disusul Jembar. Disusul Kalangan.
Komposisi diam.
Sejurus kemudian Bulan masuk panggung, berjalan dengan langkah tertahan-tahan.
149. Bulan : He! Padang! Jembar … Kalangan …
Mereka tetap diam.
150. Bulan : Kalian dari mana saja tadi? Kalian sembunyi dimana sih? Kalian sudah rencana ngerjai aku ya? Awas ya?
Mereka tetap diam.
152. Bulan : He! Kok pada diam?! Padang! Padang …(Suara melunak).
153. Padang : Aku bukan Padang. Aku PLEIII … STESIEEEN …
Bulan terlonjak mundur.
154. Bulan : Play station?!
Bulan mendekati Jembar.
155. Bulan : Jembar … Heh! Jembar! Jembar …
156. Jembar : Aku bukan Jembar. Aku HENPOOON …
Bulan tambah terlonjak.
157. Bulan : Handpone?!
Bulan mendekati Kalangan.
158. Bulan : Kalangan … Kamu apa lagi? Kalangan …
159. Kalangan : Aku bukan Kalangan. Aku BULDOZERRR …
Bulan bahkan terjengkang.
160. Bulan : Buldoser?!
Plei Stesien, Henpon, Buldozer mulai tertawa mengikik, lama-lama makin keras dan makin keras sambil berkata-kata secara menyayat-parau.
161. Dimana Padang, Bulan? Dimana Jembar, Bulan?! Dimana Kalangan Bulan?!
Mereka mulai merengsek, mengerubut Bulan, menarik-nariknya kesana-kemari.
162. Bulaaan … Bulaaan … Bulaaan … BULAAAN! BULAAAAAN!!!
Sambil meronta-ronta Bulan memekik-mekik memanggili teman-temannya.
PADANG !!! JEMBAR !!! KALANGAN!!! DI MANA KALIAN TEMAN-TEMANKU SAYAAANG???!!! PADAAANG!!! JEMBAAAR!!! KALANGAAAN !!!
‘Black Out’. Off Stage’. Aplus. Lampu menyala.
Semua pemain masuk panggung menyanyi dan menari dengan lagu Padang Bulan.
SELESAI
Penghormatan untuk tanah kelahiran-kampung halaman, teruntuk adik-adik tersayang, tumbuh-kembang-mekar dalam karya, melangkah-mengalir sebagai jalan-kali-mu sendiri, ada di kancah bumi, mengoda bersama berbagai hasrat, impian, cita umat manusia, tanpa sekali-kali lupa hulunya, tanpa kehilangan sejarahnya, tanpa menyangkali gua garbanya
Jagalan, Februari 2006



Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Lencana