Blogroll

website hit counter
website hit counters

website traffic stats

2.25.2008

angin puting beliung













Puting Beliung Terjadi Karena “Turbolensi” Awan

Kupang, NTT Online - Puting beliung yang memporak-porandakan rumah penduduk pada sejumlah tempat di Nusa Tenggara Timur (NTT) belakangan ini, terjadi karena adanya “turbolensi” (perputaran) awan yang kemudian memicu awan-awan “comulanimbus” atau awan “konfeksi”.

Turbolensi awan yang kuat ini kemudian melahirkan puting beliung dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam, kata Kepala Badan Meteorologi Stasiun El Tari Kupang, Albertus Kusbagio di Kupang, Rabu, ketika ditanya tentang faktor-faktor penyebab angin puting beliung.

Angin puting beliung ini melanda sejumlah tempat di Kabupaten Manggarai di Pulau Flores bagian barat, Timor Tengah Utara (TTU) di Pulau Timor bagian barat serta Sumba Timur di Pulau Sumba bagian timur yang mengakibatkan rumah-rumah penduduk “rontok” dalam tempo seketika.

Kusbagio menjelaskan, adanya turbolensi awan tersebut karena pengaruh suhu udara panas yang terjadi pada siang hari kemudian naik ke permukaan dengan membentuk awan-awan comulanimbus pada ketinggian sekitar 400 meter dari atas permukaan bumi.

Embusan angin puting beliung bisa mencapai ketinggian 10 kilometer dari permukaan bumi dengan kekuatan angin lebih dari 100 km/jam, namun tidak dalam waktu lama.

Puting beliung di Indonesia, kata dia, hanya berlangsung selama sekitar setengah jam, namun di wilayah Afrika Selatan berlangsung sangat lama dengan skala yang besar sehingga kemudian diistilahkan dengan badai Tornado.

Menurut dia, turbolensi awan ini biasanya terjadi pada musim panca roba, baik dari musim kemarau ke musim hujan, maupun sebaliknya.

“Untuk wilayah kita biasanya berlangsung pada bulan November seperti yang sedang terjadi saat ini serta pada April nanti ketika memasuki musim kemarau,” ujarnya.

Puting beliung, tambahnya, tidak hanya terjadi pada musim panas, tetapi juga pada musim hujan saat terjadinya pergantian musim. antara


Tornado’ Indonesia

edisi: Minggu, 16 Desember 2007

ANGIN puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum 5 menit. Orang awam menyebut angin puting beliung adalah angin Leysus. Di daerah Sumatera disebut Angin Bohorok dan masih ada sebutan lainnya. Angin jenis ini yang ada di Amerika yaitu Tornado mempunyai kecepatan sampai 320 km/jam dan berdiameter 500 meter. Angin puting beliung sering terjadi pada siang hari atau sore hari pada musim pancaroba. Angin ini dapat menghancurkan apa saja yang diterjangnya, karena dengan pusarannya benda yang terlewati terangkat dan terlempar.

Ciri-ciri

Ciri-ciri datangya angin puting beliung adalah pada waktu siang hari terlihat adanya awan putih menjulang tinggi seperti bunga kol, kemudian berkembang menjadi awan gelap yang disertai hembusan udara dingin, dan angin mulai menggoyangkan pepohonan ke kiri dan ke kanan. Tidak lama kemudian angin semakin cepat dan diikuti hujan lebat dan terkadang disertai hujan es. Terlihat di awan hitam pusaran angin berbentuk seperti kerucut turun menuju tanah (bumi).

Antisipasi

* Kenali bulan-bulan pancaroba di tempat anda.
* Mengadakan penghijauan karena dengan adanya penghijauan udara tidak terlalau panas sehingga tidak terjadi perbedaan panas yang dapat menimbulkan adanya angin puting beliung.
* Apabila terjadi angin puting beliung menghindar dari pepohonan tinggi yang sudah rapuh karena bisa tertimpa pohon, cari tempat yang aman dan kuat atau menghindar jauh.
* Membuat rumah yang permanen dan kuat.
* Membuat tempat perlindungan di bawah tanah apabila tempat tinggal sering terjadi angin puting beliung. (www.e-dukasi.net/gia)





Angin puting beliung / tornado terjadi karena adanya persimpangan / tubrukan angin yang arahnya agak bergeser, ditambah dengan adanya perbedaan suhu dan/tekanan yg besar di atmosfir sebelah atas (meluas) dan di bawah (terpusat di areal sempit, dekat permukaan bumi).
Adanya perbedaan suhu yang terpusat menyebabkan angin bergerak naik / turun di satu titik. Persimpangan / tubrukan angin sebagai starter dan supply energi. Sedangkan pusat perbedaan suhu sebagai pengumpul / magnifier energi.
Hal ini mirip dengan terjadinya pusaran air pada wadah yang berlubang di tengah. Dengan sedikit saja pemicu putaran ke salah satu arah, maka semakin lama putaran air semakin cepat.



Akhir-akhir ini pada bulan Mei dan Juni Indonesia umumnya dan khususnya Sumatera Utara sering dilanda angin kencang yang disebut sebagai angin puting beliung. Banyak sudah dampak yang dirasakan oleh masyarakat dan kerugian yang begitu nyata dan besar dialami. apa sebenarnya penyebab terjadinya angin tersebut dan di mana saja bisa terjadinya, serta kapan terjadinya akan kita bahas berikut ini. Dari brosur yang dikeluarkan oleh BMG Pusat dinyatakan puting beliung merupakan angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral hingga menyentuh permukaan bumi dan akan punah dalam waktu singkat (3-5 menit).

Puting beliung di Indonesia biasa disebut 'angin puyuh' atau 'leysus' (Jawa), sedangkan 'tornado' di amerika dan 'twister' di Eropa. Angin puting beliung mempunyai kecepatan rata-rata berkisar 30-40 knots dan berasal dari awan cumulonimbus (Cb) yaitu awan yang bergumpal, berwarna abu-abu gelap dan menjulang tinggi. Tidak semua awan cumulonimbus (Cb) menimbulkan angin puting beliung. Proses pembentukan awan Cb dimulai dengan gerakan massa udara di permukaan bumi.
Gb. awan Cumulonimbus (Cb)

a.Tempat, Waktu dan Luasan
Tentunya angin puting beliung yang kita bicarakan mempunyai tanda-tanda akan terjadi serta tempat, waktu dan luasan.
- angin puting beliung dapat terjadi di mana saja, di laut, di darat, namun lebih sering terjadi di darat.
- Bila terjadi di lautan, waktunya lebih lama dibandingkan bila terjadi di daratan.
- Lebih sering terjadi pada peralihan musim/panca roba.
- Lebih sering terjadi pada siang atau sore hari dan terkadang pada malam hari.
- Luasannya berkisar antara 5-10 Km2.
- Sifatnya sangat lokal

B. Indikasi Terjadinya
Puting Beliung
Proses terjadinya puting beliung yang sangat singkat dan skala lokal, maka sulit diprediksi kapan dan dimana akan terjadinya. Namun demikian perlu diketahui fenomena cuaca yang mengindikasikan akan terjadinya puting beliung antara lain :
- Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas atau gerah.
- Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan cumulus (awan berlapis-lapis) di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.
- Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu/hitam.
- Pepohonan di sekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang bergoyang cepat.
- Terasa sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri.

C. Kategori dan Dampak
Sesuai dengan kekuatan dan kecapatan angin yang terjadi serta dampak angin puting beliung ada 5 kategori kekuatannya yang diiringi dengan kecepatan angin serta tipe kerusakannya yaitu :

D. antisipasi Dampak
agar terhindar dari terjangan angin puting beliung perlu diambil langkah-langkah antisipatif sebagai berikut:

- Pohon yang rimbun dan tinggi serta rapuh perlu segera dipotong dahan-dahannya untuk mengurangi beban berat pada pohon tersebut.
- atap rumah yang sudah rapuh diganti atau diperkuat.
- Cepat berlindung atau menjauh dari lokasi kejadian, bila mengetahui adanya indikasi akan terjadi angin puting beliung.

E. Prospek Cuaca
Pemanasan lokal, sirkulasi angin darat-laut dan efek pemanasan kota pengaruhnya masih cukup kuat untuk memicu terjadinya angin puting beliung pada Minggu VI Juni 2007.
Sementara suhu muka laut sekitar Sumbagut terlihat masih hangat (> 30 oC) dan cukup berpotensi untuk pembentukan awan-awan konventif dan cuaca buruk. Pembelokan arus angin berada di sekitar wilayah pantai barat mengakibatkan akan terjadi cuaca buruk (hujan deras disertai guntur/petir) di wilayah pantai barat dan berdampak kepada hujan dengan intensitas > 50 mm per hari disekitar pantai barat dan pesisir timur Sumatera Utara.

Secara umum minggu ke empat Juni 2007 (25-30 Juni 2007) cuaca buruk masih berpotensi. Pemanasan yang masih intensif pada siang hari akan berpotensi memicu terjadinya angin puting beliung. Suhu muka laut yang tinggi dan monsoon barat daya yang sewaktu-waktu aktif akan berpotensi menimbulkan gelombang tinggi (> 2 meter) terutama di pantai barat sepanjang pantai sumut-NAD. Kondisi demikian masih diperlukan kewaspadaan bagi masyarakat nelayan yang akan melaut terutama perairan Nias- Sibolga sampai ke Utara NAD. Sementara untuk penerbangan perlu mewaspadai terjadinya angin kencang dengan kecepatan 20-40 knots pada route Sumut-NAD terutama di pantai barat. Juga untuk daratan diperkirakan akan terjadi hujan lokal dengan intensitas > 50 mm dan disertai guntur dengan intensitas sedang kuat terutama di daerah pantai timur dan daerah perkotaan.
(Penulis adalah Kepala Bidang Data dan Informasi BBMG Wil-I)





Proses terjadinya angin puting beliung, biasanya terjadi pada musim pancaroba pada siang hari suhu udara panas, pengap, dan awan hitam mengumpul, akibat radiasi matahari di siang hari tumbuh awan secara vertikal, selanjutnya di dalam awan tersebut terjadi pergolakan arus udara naik dan turun dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arus udara yang turun dengan kecepatan yang tinggi menghembus ke permukaan bumi secara tiba-tiba dan berjalan secara acak.



Dampak yang ditimbulkan akibat angin puting beliung dapat menghancurkan area seluas 5 km dan tidak ada lagi angin puting beliung susulan. Rumah akan hancur dan tanaman akan tumbang diterjang angin puting beliung, mahluk hidup bisa sampai mati karena terlempar atau terbentur benda keras lainnya yang ikut masuk pusaran angin.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Lencana