9.30.2008

CERITA DALAM KEHENINGAN

Posted by gustaf parlindungan lumban tobing On 9/30/2008 01:07:00 PM No comments

Penerbit : ESENSI ERLANGGA
Bahasa : Indonesia dan Inggris dalam 1 buku
Terbitan: 2008 - Coming Soon
Tebal : 300 halaman (kurang lebih)


Malam itu aku sedang terbaring di tempat tidur. Jody masuk ke dalam kamar. Ia berdiri di dekat pintu sambil membawa nampan berisi makanan. Ia meletakkan nampan itu di meja rias dan berjalan mendekatiku. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Ia juga memeriksa suhu penyejuk udara agar aku tidak kedinginan. Kemudian ia duduk di samping ranjangku. Tangannya menopang kepalanya, memandangi lantai. Aku mendengarnya menghela napas. Suaranya terdengar letih. Lalu ia menatap wajahku, lama sekali. Aku membuka mata. Kami saling bertemu pandang. Jody mencoba mencari suatu penjelasan yang dapat membuatnya mengerti.
“Bantu aku untuk mengerti, Tuhan. Bantu aku untuk memahaminya…jika ia sedang menderita, biarkan aku yang menggantikannya. Biarkan aku yang menderita. Ia telah cukup banyak menderita. Bebaskan dia dan biarlah aku yang menggantikannya,” pintanya dalam doa. Matanya tidak terpejam, tapi menatap tajam ke mataku. Seolah akulah Tuhannya yang barusan diajak bicara.
Aku tersenyum padanya.
Ia sungguh terkejut.
“Apa kau baru saja tersenyum padaku?”
Aku terus saja tersenyum. Aku tidak tahu apa yang membuatku tersenyum. Aku juga tidak tahu apa yang akhirnya membuatku bereaksi sekarang.
Ia meraih tanganku dan menyentuh bibirku.
“Kau memang tersenyum padaku, kan?”
Tiba-tiba saja ada kekuatan yang membuatku melepas kediaman itu untuk sesaat. Kukatakan padanya: , “Duduk di sini bersamaku dalam keheningan sebentar saja. Mungkin dalam diam kau akan mengerti apa yang kurasakan.”
Aku telah memecah kesunyianku. Seharusnya aku hanya mendengar, tapi entah kenapa aku baru saja berbicara kepada Jody. Ia menatapku kebingungan, tapi ia menuruti kata-kataku. Kami tidak berbicara lebih banyak. Ia juga tidak memerlukan kata-kata apa pun lagi. Ia hanya mendekat dan duduk di sampingku. Aku menutup mata dan ia mengikuti. Kami duduk berdekatan.
Mata kami terpejam.
Kami duduk dalam diam.
Hening
Lalu semuanya mulai kedengaran, makin lama makin jelas
Aku mendengar suara jantungku yang berdegup semakin kencang.
Aku mendengar degup jantungnya juga.
Kami saling mendengar hati nurani masing-masing hingga kami mendengar suara itu. Suara yang tak bisa diterjemahkan dalam kata-kata dalam bahasa apapun. Karena suara itu terlalu murni.
Suara cinta yang sejati
Suara yang hanya terdengar dalam keheningan yang mutlak
Reactions:

0 comments:

Post a Comment